Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Manajemen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

SIKLUS BUKU BESAR DAN PELAPORAN

Sistem pemprosesan transaksi dalam perusahaan dapat dilakukan secara manual maupun komputerisasi.Dua system pemprosesan tersebut akan mempengaruhi input,proses,output,menejemen data dan pengendaliannya.


1. Sistem pemprosesan transaksi secara manual
Transaksi secara manual dimulai dari dokumen sumber transaksi akan dicatat dalam jurnal khusus dan jurnal umum sesuai dengan tipe transosesmpraksinya.
2. Sistem pemprosesan transaksi berkomputerisasi
Sistem pemprosesan transaksi terkomputerisasi pada dasarnya memiliki proses yang sama dengan system pemprosesan transaksi secara manual.
Beberapa keuntungan pemprosesan transaksi terkomputerisasi dibandingkan dengan pemprosesan transaksi secara manual antara lain :
a. Data transaksi dapat dimasukan melalui alat elektronik dan disimpan dalam media megnetik dari pada disimpan dalam dokumen hardcopy.
b. Data transaksi dapat diverifikasi dengan program edit checks tanpa harus melibatakan tenaga manusia untuk mendeteksi adanya kesalahan.
c. Penambahan data dapat dilakukan dengan mudah dan transaksi dapat didentifikasi dengan cepat.
d. Transaksi dapat diposting dengan cepat kedalam buku besar.
e. Pemprosesan transaksi dan pembuatan neraca saldo dapat dilakukan dengan cepat.
f. Laporan keuangan dan laporan lainnya dapat dibuat kapan saja tanpa harus menunggu sampai akhir periode.
g. Dapat menampilkan jurnal dan buku besar sebagai gambaran dari transaksi yang terjadi.
h. Laporan dapat disiapkan dengan cepat dan mudah yang telah disimpan dalam computer.
i. Dapat dibuat dengan cepat laporan dan analisis untuk manajer dari data yang telah disiapkan dalam computer.
SISTEM ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP)


Kelemahan system pemprosesan transaksi terkomputerisasi yany masih tradisional adalah tidak terintegrasinya program-program aplikasi yang digunakan dalam system tersebut.

Sehingga informasi keuangan dan non keuangan yang dihasilkan untuk perencanaan dan pengendaliaan operasi kurang bermanfaat.Untuk mengatasinya sebaiknya menggunakan system ERP.
SISTEM WEB-BASED
Word widw web merupakan jaringan komunikasi informasi.Bagi perusahaan system ini sangat dibutuhkan untuk dapat nenggunakannya harus tersedia program aplikasi.
Imput utama dari siklus buku besar dan laporan keuangan berasal dari output semua siklus lainnya.

TUJUAN SISTEM GENERAL LEDGER
Sistem general ledger menggambarkan pemprosesan keuangan.Tujuan dari system general ledger diantaranya :
a. Untuk mencatat transaksi akuntansi dengan tepat dan akurat.
b. Untuk memposting pada rekening yang tepat.
c. Untuk menjaga keseimbangan jumlah dalam sisi debit dan kredit.
d. Mengakomodasi kebutuhan pembuatan jurnal penyesuaian.
e. Untuk menyediakan laporan keuangan yang tepat.

BAGAN REKENING (CHART OF ACCOUNT)
Bagan rekening adalah rekening dalam perusahaan yang meliputi aset,ekuitas,pendapatan dan biaya-biaya.Komposisi kode rekening yang ada dalam chart of accout didesain sesuai dengan kebutuhan informasi internal dan eksternal perusahaan.

KLASIFIKASI DALAM CHART OF ACCOUNT

Klasifikasi rekening harus dapat mereflasi aktivitas perusahaan.

Perusahaan manufaktur membutuhkan manufaktur membutuhkan rekening persediaan dalam tiga buah rekening(persediaan bahan baku,barang dalam proses dan barang jadi).Perusahaan jasa lebih menfokuskan desain rekeningnya pada transaksi jasa.

PENGKODEAN DAFTAR REKENING.

Tipe pengkodean chart of account ada 2 diantaranya:

1) Block account codes.

Dalam desain dengan menggunakan block codes rekening secara berurutan di kategorikan ke dalam klasifikasi rekening dengan membentuk blok,misalnya aktifa lancer.Keuntungannya yaitu jika ada rekening baru dapat disisipkan tanpa harus mengubah kode rekening yang sudah ada.

2) Group Account Codes.

Dalam desain ini memiliki arti tertentu,misalnya kode rekening 112 dapat di artikan digit pertama mempresentasikan kategori mayor rekening(aktiva lancar),Digit ke 2 merepresentasikan klasifikasi intermediate(kas),Dan digit ke 3 merepresentasikan klasifikasi minor rekening (kas di tangan).

SUMBER DATA DAN INPUT.

Transaksi-transaksi yang akan di posting ke general ledger dapat di klasifikasikan ke dalam 6 tipe yaitu:
1) Transaksi eksternal yang bersifat rutin.
2) Transaksi inernal yang bersifat rutin.
3) Transaksi non-rutin
4) Jurnal penyesuaian(adjusting enteries).

Transaksi ini terjadi pada akhir periode akuntansi.Empat tipe adjusting enteries yaitu:

1) Akrual.
2) Defferal.
3) Revaluasi.
4) Koreksi.
5) Jurnal pembalik.
6) Jurnal penutup.

PENROSESAN DATA.

Pemrosesan data dalam system ledger di bagi menjadi dua yakni:

a) Pemrosesan data transaksi harian.

Transaksi yang bersifat harian seperti transaksi penjualan,penerimaan kas,pembelian dan transaksi pengeluaran kas.

b) Pemrosesan akhir periode.

Pada akhir periode ada dua jurnal penyesuaian yang perlu dibuat yaitu jurnal penyesuain yang bersifat rutin dan jurnal penyesuaian yang bersifat tidak rutin.



INFORMASI

Hasil output dari system pemprosesan ledger dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:
1. Analisis general ledger.
Digunakan untuk alat pengendalian perusahaan.Ada dua analisis general ledger yaitu general journal listing dan general ledger change report.
2. Laporan keuangan
Laporan keuangan utama yang dibuat oleh perusahaan ada tiga yaitu neraca,laporan,laba rugi dan arus kas.Ketiga laporan dibuat pemakai laporan dari pihak luar perusahaan yang meliputi pemegang saham,kreditur,pemerintah dan analisis keuangan.
3. Laporan manajerial
Data laporan manajerial berasal dari data yang juga digunakan untuk membuat laporan keuangan.

MANAJEMEN DATA

1. Pendekatan file-oriented
File-file disusun untuk kebutuhan spesifik kelompok pemakai tertentu.Berikut ini merupakan representasi pemakai file dalam general ledgerdan siklus laporan keuangan yaitu :
2. General Ledger Master File
File ini merupakan jantung dari database akuntansi.Masing-masing catatan menunjukkan keadaan sebuah akun general ledger.
3. Current Journal Voucher File
File ini berisi detail signifikan yang berkaitan dengan masing-masing transaksi yang telah dipos pada general ledger selama periode berjalan.
4.General Ledger Historiy File
Yang berisi data aktual akun general ledger masing-masing bulan untuk beberapa tahun yang lalu.
5. Responsibility Center Master File
Yang berisi pendapatan dan biaya-biaya aktual dari berbagai devisi.
6. Budget Master File
Berisi jumlah anggaran aset,hutang,pendapatan dan alokasi biaya pada bermacam-macam pusat pertanggungjawaban perusahaan.
7. Financial Report Format File
Berisi informasi yang penting untuk memperoleh format yang beragam.

PENGENDALIAN UMUM

1. Pengendalian Organisasional
2. Pengendalian Dokumentasi
3. Pengendalian Akuntabilitas Aset
4. Pengendalian Praktik Manajemen
5. Pengendalian Operasi Pusat Data
6. Pengendalian Otorisasi
Read more >>

Rabu, 25 Januari 2012

SEJARAH AKUNTANSI MANAJEMEN

Kebanyakan prosedur perhitungan harga pokok produk (product costing) dan akuntansi manajemen yang digunakan pada abad 20 dikembangan antara tahun 1880 dan 1924. Perkembangan sebelumnya (sampai tahun 1914) menekankan pada perhitungan pada perhitungan harga pokok produk pada tingkat manajerial yaitu penelusuran tingkat laba perusahaan ke tiap produk dan menggunakan informasi ini untuk pengambilan keputusan strategis.
Mulai tahun 1925, setelah dikembangkannya pasar modal di USA, hampir semua usaha akuntansi manajemen untuk menghasilkan informasi bagi pemakai intern kemudian
dihentikan dan diganti dengan penentuan harga pokok persediaan (inventory costing), yang merupakan pembebanan biaya produksi kepada produk sedemikian rupa sehingga harga pokok persediaan dapat dilaporkan kepada pemakai eksternal dalam laporan keuangan. Laporan keuangan telah menjadi kekuatan yang membentuk desain sistem
akuntansi biaya. Manajer dan perusahaan bersedia menerima informasi biaya rata-rata
secara agregat atas tiap produk, karena mereka merasa tidak membutuhkan informasi biaya masing- masing produk yang lebih terinci dan akurat mengenai tiap produk.
Dalam tahun 1950-an dan 1960-an telah dilakukan beberapa usaha untuk memperbaiki manfaat sistem akuntansi biaya konvensional untuk kepentingan manajemen. Diperkenalkannya variable costing untuk penyempurnaan penentuan harga pokok produk pada dasarnya ditujukan untuk memperbaiki penentuan harga pokok persediaan yang disajikan dalam neraca dan dalam perhitungan rugi laba. Perbaikan akuntansi biaya pada saat itu pada hakikatnya hanya terpusat pada bagaimana membuat informasi akuntansi keuangan lebih bermanfaat bagi pemakai luar, tidak ditujukan untuk menghasilkan informasi akuntansi yang khusus diperuntukkan bagi kepentingan manajemen.
Pada tahun 1980-an dan 1990-an banyak ditemukan bahwa praktek-praktek akuntansi manajemen tradisional sudah tidak mampu lagi melayani kebutuhan manajerial. Kalkulasi biaya produk yang lebih akurat lebih berguna, dan yang menjelaskan secara
rinci penggunaan masukan, dibutuhkan untuk memungkinkan manajer meningkatkan
kualitas, produktifitas, dan mengurangi biaya. Sebagai tanggapan terhadap kelemahan
akuntansi biaya manajemen tradisional, berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan sistem akuntansi manajemen baru yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan ekonomi dewasa ini.

TREND YANG MEMPENGARUHI AKUNTANSI MANAJEMEN
Trend yang menyebabkan perubahan akuntansi manajemen adalah:
1. Kemajuan teknologi informasi.
2. Implementasi just-in time (JIT) manufacturing.
3. Meningkatnya tuntutan mutu
4. Meningkatnya diversifikasi dan kompleksitas produk, serta semakin pendeknya
daur hidup produk.
5. Diperkenalkannya computer-integrated manufacturing.

Kemajuan Teknologi Informasi
Perkembangan teknologi informasi menyebabkan dunia menjadi seperti kampung
saja (ditinjau dari sudut bisnis), batas-batas antar negara menjadi semakin tidak jelas
dengan semakin meluasnya perdagangan bebas di seluruh dunia dan persaingan bersifat
global dan tajam. Sifat persaingan ini menyebabkan laba yang diperoleh perusahaan-perusahaan yang memasuki tingkat persaingan dunia menjadi menciut. Penciutan laba
memaksa manajemen mencari berbagai strategi baru yang menjadikan perusahaan mampu bertahan dan berkembang. Hanya perusahaan-perusahaan yang manajemennya berhasil menjadikan perusahaannya memiliki keunggulan pada tingkat dunialah yang mampu bertahan dan berkembang pada situasi persaingan global dan tajam
Read more >>

Selasa, 24 Januari 2012

AKUNTANSI MANAJEMEN DAN AKUNTANSI KEUANGAN

Dua subsistem informasi akuntansi yaitu: Sistem Informasi Akuntansi Manajemen dan Sistem Informasi Akuntansi Keuangan. Kedua subsistem akuntansi ini berbeda tujuannya, sifat masukannya, dan jenis proses yang dipergunakan untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output).
Sistem Informasi Akuntansi Keuangan berhubungan terutama dengan penyediaan keluaran bagi pengguna eksternal. Sistem akuntansi keuangan menggunakan kegiatan ekonomi sebagai masukan dan memprosesnya sampai memenuhi aturan dan ketentuan tertentu. Dalam akuntansi keuangan sifat masukan dan aturan, serta ketentuan yang mengatur berbagai proses, didefinisikan oleh SEC (Securities Exchange Commission) dan FASB (Financial Accounting Standards Board). Di Indonesia Bapepam dan PSAK yang dikeluarkan oleh IAI. Tujuannya adalah untuk menyusun laporan eksternal (laporan keuangan) bagi investor, lembaga pemerintah, dan pengguna eksternal lainnya.
Sistem akuntansi manajemen menghasilkan informasi untuk pengguna internal, seperti manajer, eksekutif, dan pekerja. Secara spesifik, akuntansi manajemen mengidentifikasi, mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi yang bermanfaat bagi pengguna internal dalam merencanakan, mengendalikan, dan membuat keputusan.
Beberapa perbedaan akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Pengguna (target user). Akuntansi manajemen berfokus pada penyediaan informasi kepada pengguna internal, sedangkan akuntansi keuangan memiliki fokus pada penyediaan informasi bagi pengguna eksternal.
2. Pembatasan pada masukan dan proses. Akuntansi manajemen tidak tergantung pada prinsip-prinsip akuntansi, sedangkan masukan dan proses pada akuntansi keuangan harus jelas dan terbatas, yaitu tunduk pada prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU)
3. Jenis informasi. Pembatasan dalam akuntansi keuangan cenderung menghasilkan informasi keuangan yang obyektif dan dapat diverifikasi. dalam akuntansi manajemen, informasi dapat berupa informasi keuangan dan non-keuangan serta dapat bersifat lebih subyektif.
4. Orientasi waktu. Akuntansi keuangan memiliki orientasi historis, fungsinya adalah mencatat dan melaporkan kegiatan-kegiatan yang telah terjadi. Walaupun akuntansi manajemen juga mencatat dan melaporkan kejadian-kejadian yang telah terjadi, akuntansi manajemen lebih menekankan pada penyediaan informasi kegiatan-kegiatan di masa mendatang.
5. Tingkat agregasi. Akuntansi manajemen menyediakan ukuran dan laporan internal yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, lini produk, departemen, dan manajer. Intinya, informasi yang sangat terinci dibutuhkan dan disediakan. Akuntansi keuangan, memfokuskan pada kinerja perusahaan secara keseluruhan, dan memberikan sudut pandang yang lebih agregat.
6. Keluasan. Akuntansi manajemen jauh lebih luas daripada akuntansi keuangan. Akuntansi manajemen meliputi aspek-aspek ekonomi manajerial, rekayasa industri (industrial reengineering), ilmu manajemen, dan juga bidang-bidang lainnya
Read more >>

Sabtu, 07 Januari 2012

Tujuan Manajemen Keuangan

Agar lebih mudah memahami tujuan manajemen keuangan, perlu terlebih dahulu diingat kembali tentang pengertian manajemen keuangan. Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana baik yang barkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien. Fungsi utama seorang manajer keuangan yaitu meliputi: pengambilan keputusan investasi, pengambilan keputusan pembelanjaan, dan kebijakan deviden.
Fungsi pertama menyangkut tentang keputusan alokasi dana baik dana yang berasal dari dalam perusahaan maupun dana yang berasal dari luar perusahaan pada berbagai bentuk investasi. Dengan kata lain, investasi yang mana yang paling baik bagi perusahaan . Secara garis besar keputusan investasi dapat dikelompokan ke dalam investasi jangka pendek seperti misalnya investasi kas, persediaan, piutang, dan surat berharga maupun investasi jangka panjang dalam bentuk gudang, tanah, perlatan produksi, kendaraand dan aktiva tetap lainnya. Manajer keuangan bertanggung jawab menentukan perimbangan yang optimal setiap jenis asset perusahaan.
Kedua, manajer keuangan berfungsi sebagai pengambil keputusan pembelanjaan atau pembiayaan investasi. Keputusan pembelanjaan ini menjawab berbagai pertanyaan penting seperti bagaimana pembelanjaan kegiatan perusahaan yang optimal?, bagaimana memperoleh kebutuhan dana untuk investasi yang efisien?, apakah perusahaan harus memakai modal asing atau sendiri?, dll
Fungsi ketiga seorang manajer keuangan adalah kebijakan deviden. Hingga saat ini masih timbul pendapat bahwa fungsi ketiga ini merupakan bagian dari fungsi kedua. Memang pada prinsipnya kebijakan deviden ini menyangkut tentang keputusan apakah laba diperoleh perusahaan seharusnya dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk deviden kas dan pembelian saham kembali atau laba tersebut sebaiknya ditahan dalam bentuk laba dtahan guna pembelanjaan investasi dimasa mendatang.
Read more >>

Rabu, 04 Januari 2012

Definisi & konsep Pemasaran

* Definisi Pemasaran

Berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian pemasaran menurut para ahli. Ini dimaksudkan agar dalam pembahasan selanjutnya tidak terjadi kesalah pahaman mengenai pemasaran, yaitu:

* Philip Kottler (1983:36), mengemukakan bahwa "Pemasaran adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan kegiatan manusia melalui proses pertukaran". Dengan demikian pemasaran merupakan seperangkat alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karakteristik barang/jasa.
* Drs. Soehardi sigit (1985:5) mengemukakan "Pemasaran adalah semua kegiatan yang diperlukan untuk mengakibatkan terjadinya perpindahan milik dari barang dan jasa unluk menyelenggarakan distribusi fisik", tujuan pemasaran adalah unluk mendapatkan penawaran yang ditujukan melalui pemuasan pelanggan. Sementara
* Drs. Basu Swastha DH (1979:6) menyatakan bahwa "Pemasaran adalah semua usaha untuk memuaskan kebutuhan pembeli dan penjual". Dari berbagai pendapat para ahli tersebut di atas, temyata ada perbedaan sudut pandang terhadap konsep tersebut. Namun pada prinsipnya semua itu sama sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran adalah semua kegiatan yang diarahkan untuk memperlancar arus barang atau jasa dari produsen kekonsumen agar terciptanya permintaan.
*

Menurut Philip Kotler dan Amstrong

pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.




*





Pengertian Pemasaran menurut Stanton adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Stanton, 1997).


*



Pengertian Pemasaran Menurut H. Nystrom

Pemasaran merupakan suatu kegiatan penyaluran barang atau jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen.


*



Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.


*



Pengertian Pemasaran Menurut Philip dan Duncan

Pemasaran yaitu sesuatu yang meliputi semua langkah yang dipakai atau dibutuhkan untuk menempatkan barang yang bersifat tangible ke tangan konsumen.


*



Pengertian Pemasaran Menurut Asosiasi Pemasaran Amerika Serikat / American Merketing Association

Pemasaran adalah pelaksanaan kegiatan usaha pedagangan yang diarahkan pada aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen.

o Konsep pemasaran
Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu :


1.





2.






konsep produksi


3.



konsep produk


4.



konsep penjualan


5.



konsep pemasaran


6.



konsep pemasaran sosial


7.



konsep pemasaran global.



*




1. Konsep produksi


Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efesiensi produk tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena konsumen dianggap akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka.

*


2. Konsep produk


Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas manajemen disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen dianggap menyukai produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan ciri – ciri terbaik

*


3. Konsep penjualan


Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan promosi yang agresif.

*


4. Konsep pemasaran


Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing.

*


5. Konsep pemasaran sosial


Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif dan efisien daripasda para pesaing dengan tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.

*


6. Konsep Pemasaran Global


Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya adalah berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan.

Konsep pemasaran global sangat baik untuk digunakan di perusahaan pada era globalisasi sekarang ini, Karena tujuannya yang selalu berupaya memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat baik pihak ekstern maupun pihak intern.sehingga kinerja perusahaan harus selalu menjadi tuntutan untuk memenuhi tujuan konsep ini agar tidak kalah dengan pesaing yang sudah ada, ataupun yang akan muncul pada waktu yang akan datang.
Read more >>

Makalah Manajemen Pemasaran

BAB I

PENGERTIAN, KONSEP, DEFINISI PEMASARAN

DAN MANAJEMEN PEMASARAN

A. Pengertian Pemasaran

Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :

a. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.

b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.

c. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.

d. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.

B. Konsep Pemasaran

Konsep-konsep inti pemasaran meluputi: kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi, utilitas, nilai dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan hubungan pasar, pemasaran dan pasar. Kita dapat membedakan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan. Kebutuhan adalah suatu keadaan dirasakannya ketiadaan kepuasan dasar tertentu. Keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuas yang spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendalam. Sedangkan Permintaan adalah keinginan akan produk yang spesifik yang didukung dengan kemampuan dan kesediaan untuk membelinya.

C. Manajemen Pemasaran

Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Menurut Kotler dan Armstrong pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (organizing) penggerakan (Actuating) dan pengawasan.

Jadi dapat diartikan bahwa Manajemen Pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi.

Kesimpulan :

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah sebagai kegiatan yang direncanakan, dan diorganisasiknan yang meliputi pendistribusian barang, penetapan harga dan dilakukan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuat yang tujuannya untuk mendapatkan tempat dipasar agar tujuan utama dari pemasaran dapat tercapai.

BAB II

MACAM-MACAM KONSEP PEMASARAN

I. Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasaan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing.

Konsep pemasaran yang telah diungkapkan dengan berbagai cara:

1. Temukan keinginan pasar dan penuhilah.

2. Buatlah apa yang dapat dijual dan jangan berusaha menjual apa yang dapat dibuat.

3. Cintailah pelanggan, bukan produk anda.

4. Lakukanlah menurut cara anda (Burger king)

5. Andalah yang menentukan (United Airlines)

6. Melakukan segalanya dalam batas kemampuan untuk menghargai uang pelanggan yang sarat dengan nilai, mutu dan kepuasan (JC. Penney).

Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran sosial, dan konsep pemasaran global.

1. Konsep produksi

Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efesiensi produk tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena konsumen dianggap akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka.

2. Konsep produk

Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas manajemen disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen dianggap menyukai produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan ciri – ciri terbaik

3. Konsep penjualan

Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan promosi yang agresif.

4. Konsep pemasaran

Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing.

5. Konsep pemasaran sosial

Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif dan efisien daripasda para pesaing dengan tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.

6. Konsep Pemasaran Global

Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya adalah berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan.

BAB III

SISTEM PEMASARAN

A. Pengertian Sistem Pemasaran

Sistem adalah sekolompok item atau bagian-bagia yang saling berhubungan dan saling berkaitan secara tetap dalam membentuk satu kesatuan terpadu. Jadi dapat diartikan sistem pemasaran adalah kumpulan lembaga-lembaga yang melakukan tugas pemasaran barang, jasa, ide, orang, dan faktor-faktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dengan pasarnya..

Dalam pemasaran kelompok item yang saling berhubungan dan saling berkaitan itu mencakup :

1. Gabungan organisasi yang melaksanakan kerja pemasaran.

2. Produk, jasa, gagasan atau manusia yang dipasarkan.

3. Target pasar.

4. Perantara (pengecer, grosir, agen transportasi, lembaga keuangan).

5. Kendala lingkungan (environmental constraints).

Sistem pemasaran yang paling sederhana terdiri dari dua unsur yang saling berkaitan, yaitu organisasi pemasaran dan target pasarnmya. Unsur-unsur dalam sebuah sistem pemasaran serupa dengan unsur-unsur yang ada pada sistem radio stereo. Bekerja secara terpisah, tetapi pada waktu dipertemukan secara tepat.

B. Macam – Macam Sistem Pemasaran

a. Sistem pemasaran dengan saluran vertikal

Pada sistem ini produsen, grosir, dan pengecer bertindak dalam satu keterpaduan.

Tujuan :

Mengendalikan perilaku saluran

Mencegah perselisihan antara anggota saluran

b. Sistem pemasaran dengan saluran horizontal

Pada sistem ini, ada suatu kerjasama antara dua atau lebih perusahaan yang bergabung untuk memanfaatkan peluang pemasaran yang muncul.

c. Sistem pemasaran dengan saluran ganda

Pada sistem ini beberapa gaya pengeceran dengan pengaturan fungsi distribusi dan manajemen digabungkan, kemudian dari belakang dipimpin secara sentral.

C. Lingkungan Sebuah Sistem Pemasaran

a. Lingkungan makro ekstern.

Lingkungan makro tersebut ialah:

a. Demografi (kependudukan).

b. Kondisi ekonomi.

c. Teknologi.

d. Kekuatan sosial dan budaya.

e. Kekuatan politik dan legal.

f. Persaingan.

b. Lingkungan mikro eksternal

a. Pasar (market)

b. Pemasok

c. Pialang (marketing intermediaries)

c. Lingkungan Non- – Pemasaran Intern

Kekuatan non – pemasaran lainnya adalah lokasi perusahaan, ketangguhan bagian penelitian dan pengembangan. Kekuatan intern bersifat menyatu (interest) dalam organisasi dan dikendalikan oleh manajemen.

BAB IV

STRATEGI PEMASARAN

A. Pengertian Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran adalah pengambilan keputusan-keputusan tentang biaya pemasaran, bauran pemasaran, alokasi pemasaran dalam hubungan dengan keadaan lingkungan yang diharapkan dan kondisi persaingan. Dalam strategi pemasaran, ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan strategi dalam pemasaran yaitu :

1. Daur hidup produk

Strategi harus disesuaikan dengan tahap-tahap daur hidup, yaitu tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan dan tahap kemunduran.

2. Posisi persaingan perusahaan di pasar

Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan posisi perusahaan dalam persaingan, apakah memimpin, menantang, mengikuti atau hanya mengambil sebagian kecil dari pasar.

3. Situasi ekonomi

Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan situasi ekonomi dan pandangan kedepan, apakah ekonomi berada dalam situasi makmur atau inflasi tinggi.

B. Macam-Macam Strategi Pemasaran

macam strategi pemasaran diantaranya:

1. Strategi kebutuhan primer

Strategi-strategi pemasaran untuk merancang kebutuah primer yaitu:

1. Menambah jumlah pemakai dan

2. Meningkatkan jumlah pembeli.

2. Strategi Kebutuhan Selektif

Yaitu dengan cara :

a. Mempertahankan pelanggan misalnya:

1. Memelihara kepuasan pelanggan;

2. Menyederhanakan proses pembelian;

3. Mengurangi daya tarik atau jelang untuk beralih merk;

b. Menjaring pelanggan (Acquistion Strategier)

1. Mengambil posisi berhadapan (head – to heas positioning)

2. Mengambil posisi berbeda (differentiated positin)

Secara lebih jelas, strategi pemasaran dapat dibagi kedalam empat jenis yaitu:

1. Merangsang kebutuhan primer dengan menambah jumlah pemakai.

2. Merangsang kebutuhan primer dengan memperbesar tingkat pembelian.

3. Merangsang kebutuhan selektif dengan mempertahankan pelanggan yang ada.

4. Merangsang kebutuhgan selektif dengan menjaring pelanggan baru.

C. Segmentasi Pasar

Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Atau segmentasi pasar bisa diartikan segmentasi pasar adalah proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisia perbedaan antara pembeli di pasar.

1. Dasar-dasar dalam penetapan Segmentasi Pasar

Dalam penetapan segmentasi pasar ada beberapa hal yang menjadi dasarnya yaitu:

1. Dasar – dasar segmentasi pasar pada pasar konsumen

a. Variabel geografi, diantaranya : wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan iklim.

b. Variabel demografi, diantaranya : umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan, dll

c. Variabel psikologis, diantaranya :kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.

d. Variabel perilaku pembeli, diantaranya : manfaat yang dicari, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan dan sikap pada produk.

2. Dasar – dasar segmentasi pada pasar industri

a. Tahap 1: menetapkan segmentasi makro, yaitu pasar pemakai akhir, lokasi geografis, dan banyaknya langganan.

b. Tahap 2: yaitu sikap terhadap penjual, ciri – ciri kepribadian, kualitas produk, dan pelanggan.

2. Syarat segmentasi Pasar

Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif yaitu :

a. Dapat diukur

b.Dapat dicapai

c. Cukup besar atau cukup menguntungkan

d.Dapat dibedakan

e. Dapat dilaksanakan

3. Tingkat Segmentasi Pasar

Karena pembelian mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik. Setiap pembeli, berpotensi menjadi pasar yang terpisah. Oleh karena itu segmentasi pasar dapat dibangun pada beberapa tingkat yang berbeda.

a. Pemasaran massal

Pemasaran massal berfokus pada produksi massal, distribusi massal, dan promosi massal untuk produk yang sama dalam cara yang hampir sama keseluruh konsumen.

b. Pemasaran segmen

Pemasarn segmen menyadari bahwa pembeli berbeda dalam kebutuhan, persepsi, dan perilaku pembelian.

c. Pemasaran ceruk

Pemasaran ceruk (marketing niche) berfokus pada sub group didalam segmen-segmen. Suatu ceruk adalah suatu group yang didefiniskan dengan lebih sempit.

d. Pemasaran mikro

Praktek penyesuaian produk dan program pemasaran agar cocok dengan citarasa individu atau lokasi tertentu. Termasuk dalam pemasaran mikro adalah pemasaran lokal dan pemasaran individu.

4. Manfaat Segmentasi Pasar

Sedangakan manfaat dari segmentasi pasar adalah:

a. Penjual atau produsen berada dalam posisi yang lebih baik untuk memilih kesempatan- kesempatan pemasaran.

b. Penjual atau produsen dapat menggunakan pengetahuannya terhadap respon pemasaran yang berbeda-beda, sehingga dapat mengalokasikan anggarannya secara lebih tepat pada berbagai segmen.

c. Penjual atau produsen dapat mengatur produk lebih baik dan daya tarik pemasarannya

D. Menentukan Pasar Sasaran

Langkah-langkah dalam menetukan pasar sasaran yaitu :

1. Langkah pertama

Menghitung dan menilai potensi keuntungan dari berbagai segmen yang ada

2. Langkah kedua

Mencatat hasil penjualan tahun lalu dan memperkirakan untuk tahun yang akan datang.

BAB V

PERILAKU KONSUMEN

A. Pengertian Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan individu yang melibatkan pembelian penggunaan barang dan jasa termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut sebagai pengalaman dengan produk, pelayanan dari sumber lainnya.

B. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :

1. Faktor kebudayaan

Faktor kebudayaan meliputi :

a. Budaya : faktor-faktor budaya memberikan pengaruhnya paling luas pada keinginan dan perilaku konsumen. Budaya (culture) adalah penyebab paling mendasar teori keinginan dan perilaku seseorang.

b. Subbudaya : setiap kebudayaan mengandung sub kebudayaan yang lebih kecil, atau sekelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan yang sama. Sub kebudayaan meliputi: kewarganegaraan, agama, ras, dan daerah gegrafis.

c. Kelas sosial : hampir setiap masyarakat memiliki beberapa bentuk struktur kelas sosial. Kelas-kelas sosial adalah bagian-bagian masyarakat yang relatif permanen dan tersusun rapi yang anggota-anggotanya mempunyai nilai-nilai, kepentingan dan perilaku yang sama.

Perilaku konsumen juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta aturan dan status sosial konsumen. Disini keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan orang ingin membeli juga dipenggaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomui, gaya hidup dan kepribadian serta konsep diri.

Selain dari beberapa faktor diatas yang mempengaruhi perilaku konsumen juga dipengaruhi juga oleh faktor-faktor psikologis seseorang, yang meliputi motivasi, persepsi, pengetahuan dan keyakinan serta sikap.

C. Proses Pengambilan Keputusan Pembeli

a. Proses Pengambilan Keputusan Pembeli Terhadap produk Baru

Sebuah produk baru adalah barang, jasa, atau ide yang dianggap baru oleh pembeli potensial. Terkadang produk yang beredar dipasaran telah lama ada, disini konsumen dapat membuat keputusan untuk menerima / mengadopsinya. Proses adopsi adalah proses mental yang dilalui seseorang, mulai dari pengenalan pertama sampai pada penerimaan / adopsi final.

Tahap-tahap proses adopsi:

1. Sadar : konsumen menjadi sadar akan adanya produk baru, tetapi kekurangan informasi mengenainya.

2. Tertarik : konsumen akan menjadoi tertarik untuk mencari informasi mengenai produk baru.

3. Evalusi : konsumen harus mempertimbangkan apakah produk baru tersebut masuk akal atau tidak untuk dikonsumsi.

4. Mencoba : konsumen mencoba produk baru tersebut dalam skala kecil untuk meningkatkan perkiraan nilai produk tersebut.

5. Adopsi : konsumen memutuskan secara penuh dan teratur menggunakan produk baru tersebut.

b. Tipe-Tipe Perilaku Membeli

Ada empat tipe perilaku membeli, yaitu :

a. Perilaku pembelian yang kompleks

Disini konsumen mengakui keterikatan yang tinggi dalam proses pembeliannya, harga produk tinggi, jarang dibeli, memiliki resiko yang tinggi. Perilaku konsumen melalui proses tiga langkah, yaitu: pertama, mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut. Kedua, membangun sikap, dan ketiga melakukan pilihan.

b. Perilaku pembelian yang mengurangi ketidakefisienan

Disini konsumen mengalami keterlibatan tinggi akan tetapi melihat sedikit perbedaan, diantara merek-merek. Konsumen mengunjungi beberapa tempat untuk mencari yang lebih cocok.

1.


Perilaku pembelian karena kebiasaan

Disini konsumen rendah sekali dalam proses pembelian karena tidak ada perbedaan nyata diantara berbagai merek dan harga barang relatif rendah


2.



Perilaku pembelian yang mencari keragaman

Disini keterlibatan konsumen yang rendah akan dihadapkan pada berbagai pemilihan merek.

c. Tahap-Tahap Proses Membeli

Tahap-tahap dalam proses membeli mwliputi :

a. Pengenalan kebutuhan/masalah

Disini orang yang akan memasarkan produk meneliti mengenai apa yang dibutuhkan, apa yang menyebabkan semua itu muncul dan mengapa seseorang membutuhkan sesuatu. Seorang pemasar akan mengenalkan pada konsumen agar lebih tertarik.

b. Pencarian informasi

Sumber informasi konsumen terbagi dalam empat kelompok, yaitu :

1. Sumber pribadi, meliputi: keluarga, teman-teman, tetangga, dan kenalan.

2. Sumber niaga, meliputi : periklanan, petugas penjualan, penjual kemasan dan pemajangan.

3. Sumber umum, meliputi : media massa dan organisasi konsumen.

4. Sumber pengalaman, meliputi: pernah menangani, menguji, dan mempergunakan produk.

c. Pencarian alternatif

Terdapat lima konsep dasar bagi pemasar dalam penilaian alternatif konsumen, yaitu :


3. Sifat-sifat produk, apa yang menjadi ciri-ciri khusus dan perhatian konsumen terhadap produk atau jasa tersebut.
4. Pemasar lebih memperhatikan pentingnya ciri-ciri produk daripada penonjolan Ciri-ciri produk.
5. Kepercayaan konsumen terhadap ciri merek yang menonjol
6. Fungsi kemanfaatan, yaitu bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan yang diperoleh dari produk dengan tingkat alternatif yang berbeda-beda setiap hari
7.

Bagaimana prosedur penilaian yang dilakukan konsumen dari sekian banyak ciri-ciri barang.



d. Keputusan membeli

Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk

membeli, yaitu :


8. Sikap orang lain : keputusan membeli itu banyak dipengaruhi oleh teman-teman, tetangga, atau siapa saja yang dipercayai
9. Faktor-faktor situasi yang tidak terduga : seperti faktor harga pendapatan
Read more >>

Minggu, 01 Januari 2012

Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

* Menurut James F. Engel – Roger D. Blackwell – Paul W. Miniard dalam Saladin (2003 : 19) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu :

1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.

* Menurut Essael (1987: 11) ada tiga faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen (perilaku konsumen) yaitu:

(1) Faktor Individual Konsumen Yang Meliputi Pendidikan Dan Penghasilan Konsumen

(2) Pengaruh Lingkungan

(3) Strategi Pemasaran. Strategi Pemasaran Merupakan Variabel Yang Dapat dikontrol Oleh Pemasar Dalam Usaha Memberi Informasi Dan Mempengaruhi Konsumen. Variabel Ini Adalah Produk, Harga, Distribusi Dan Promosi.
Read more >>

Sabtu, 11 Juni 2011

Faktor atau Elemen Lingkungan yang Mempengaruhi Dunia Usaha

Faktor atau Elemen Lingkungan yang Mempengaruhi Dunia Usaha
Dalam dunia usaha terdapat banyak hal yang berpengaruh terhadap kesinambungan dunia usaha pada suatu daerah tertentu. Variable-variabel di bawah ini secara tidak langsung memberi efek pada suatu perusahaan. Setiap perusahaan memiliki resistansi atau daya tahan masing-masing terhadap setiap faktor yang berbeda-beda.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi dunia usaha secara tidak langsung ini berada di luar dari elemen pihak internal dan eksternal yang telah dijelaskan pada artikel bagian lain. Secara bersamaan dengan faktor internal dan eksternal dengan faktor lingkungan mempengaruhi kondisi dunia usaha.

1. Variabel Sosial
- Faktor demografik/demografis : seperti jumlah, komposisi, dan pertumbuhan penduduk suatu wilayah atau area.
- Faktor gaya hidup : selera masyarakat, trend yang sedang digandrungi, dan lain sebagainya.
- Faktor nilai sosial : adat-istiadat, norma yang berlaku, kebiasaan, dan lain-lain.

2. Variabel Ekonomi
Berkaitan erat dengan indikator ekonomi yang bersifat umum mengukur tabungan, investasi, produktivitas, lapangan kerja, kegiatan pemerintah, transaksi perdagangan internasional, pendapatan, produk nasional dan lain sebagainya.

3. Variabel Politik
Faktor-faktor yang terkait dengan kondisi atau iklim perpolitikan di suatu daerah.

4. Variabel Teknologi
Kemajuan di bidang teknologi yang berubah-ubah dari waktu ke waktu yang terkadang sangat cepat sangat mempengaruhi dunia usaha. Perusahaan yang statis dan tidak mengikuti perkembangan teknologi cenderung tertinggal dibandingkan dengan perusahaan yang terus menerus melakukan adaptasi teknologi untuk membuat operasional usah menjadi lebih efektif dan

Faktor atau Elemen Lingkungan yang Mempengaruhi Dunia Usaha
Referensi:
Read more >>

Jumat, 10 Juni 2011

Pengertian / Definisi Pasar dan Faktor Produksi - Ilmu Ekonomi Manajemen

Pengertian / Definisi Pasar dan Faktor Produksi - Ilmu Ekonomi Manajemen.
Dalam pengertian yang sederhana atau sempit pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual beli (penjualan dan pembelian) yang dilakukan oleh penjual dan pembeli yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu.

Definisi pasar secara luas menurut W.J. Stanton adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja serta kemauan untuk membelanjakannya.

Pada umumnya suatu transaksi jual beli melibatkan produk/barang atau jasa dengan uang sebagai alat transaksi pembayaran yang sah dan disetujui oleh kedua belah pihak yang bertransaksi.

Kegiatan faktor produksi adalah kegiatan yang melakukan proses, pengolahan, dan mengubah faktor-faktor produksi dari yang tidak/kurang manfaat/gunanya menjadi memiliki nilai manfaat yang lebih. Faktor- Faktor produksi yang umumnya digunakan adalah tenaga kerja, tanah, dan modal. Kelangkaan pada suatu faktor produksi biasanya akan menyebabkan kenaikan harga faktor produksi tersebut.

Pengertian / Definisi Pasar dan Faktor Produksi - Ilmu Ekonomi Manajemen.
Read more >>

Kamis, 09 Juni 2011

Perbandingan antara Metode Akuntansi Cash dan Accrual

Perbandingan antara Metode Akuntansi Cash dan Accrual
Cash-Basis

Akuntansi Cash-Basis yang selanjutnya akan disebut dengan versi inggrisnya, cash-basis accounting, adalah metode pembukuan yang mencatat kejadian-kejadian data finansial berdasarkan cash flow dan cash position. Pendapatan atau revenue diakui ketika uang atau cash diterima dan pengeluaran atau expense diakui ketika uang telah dibayarkan. Pada cash-basis accounting, pendapatan dan pengeluaran disebut juga cash receipt dan cash payment.

Cash-basis accounting, tidak mengakui atau mengenal adanua janji-janji untuk membayar atau harapan-harapan untuk menerima uang atau layanan pada masa yang akan datang, seperti payable, receiveable, dan prepaid expenses.

Hal ini lebih sederhana bagi orang-orang atau organisasi-organisasi yang tidak memiliki transaksi dalam bentuk ini dengan jumlah yang banyak, atau jika jeda antara permulaan transaksi dan cash flow sangat singkat.

Persoalan-Persoalan dengan Cash-Basis

Cash-basis accounting gagal memenuhi persyaratan GAAP karena ia tidak mengikuti dua prinsip berikut :

*

Revenue Recognition Principle atau Prinsip-Prinsip Pengidentifikasian Pendapatan - Pendapatan harus diakui ketika ia telah direalisasikan (misalnya. sebuah penjualan kredit)
*

Matching Principle - Jika memungkinkan, pendapatan harus dipasangkan atau dicocokkan dengan pengeluaran atau biaya (Misal, penjalan kepada COGS)

Sebagai tambahan, cash-basis accounting tidak cocok untuk cost accounting di operasi manufaktur, karena pengeluaran tidak berhubungan dengan harga produk.

Contoh

Ketika Anda membayar biaya sewa, tuan tanah (landlord) Anda akan mencatat kejadian ini sebagai pemasukan ketika anda benar-benar telah memberikan pembayaran. Tuan tanah mencatat kejadian pengeluaran biaya ketika dia membayar agen rental fee mereka untuk apartemen Anda. Ini adalah (cash-basis) metode akunting yang digunakan oleh kebanyakan orang atau beberapa bisnis yang memiliki payables atau receiveables yang terbatas, atau yang cash flow pemasukan dan pengeluarannya saling berdekatan dan berhubungan secara waktu.

Berikut ini adalah contoh income statement dan Balance Sheet yang disederhanakan untuk cash-basis accounting :


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004


Revenue ........................................................................................................ $1,000

Expense ........................................................................................................ $ 800

Net Income ................................................................................................... $ 200


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004


Assets

Cash ........................................................................................................... $5,500

Total Assets ............................................................................................. $5,500

Liabilities and Stockholders Equity

Common Stock ......................................................................................... $5,500

Total Liabilities and Equity .................................................................... $5,500


Perbandingan

Ada dua tipe Cash-basis accounting : strict cash-basis dan modified-cash basis. Strict cash-basis mengikuti cash-flow secara tepat. Modiefied cash-basis memasukkan beberapa elemen dari accrual-basis accounting seperti inventory dan property capitalization.

Cash-basis accounting digunakan oleh bisnis-bisnis kecil dan rumah tangga. Statemen finasial untuk entitas-entitas tersebut digunakan oleh sedikit orang.

Accrual-Basis

Accrual-basis accounting mencatat kejadian-kejadian finansial berdasarkan kejadian yang mengubah net worth Anda (the amount owed to you less the amount you owe others). Implementasi standarnya adalah dengan mencatat dan mengenali pendapatan dan pengeluaran dalam periode transaksi-transaksi ini terjadi.

Meskipun uang tidak diterima atau dibayarkan dalam sebuah transaksi kredit, transaksi-transaksi ini dicatat karena pada masa datang transaksi-transaksi ini akan bersifat berurutan dalam pemasukan dan cash flow perusahaan. Accrual-basis sesuai dengan GAAP.


Contoh

Tuan tanah Anda akan mencatat adanya pendapatan pada saat waktu pembayaran sewa Anda telah jatuh tempo (Anda berhutang padanya). Dia mencatatkan biaya pengeluaran ketika biaya yang harus dibayarkan pada rental agent jatuh tempo (dia berhutang pada agen). Detail atau penjabaran dari cash flownya dan waktu-waktunya dicatat dalam pembukuan.

Berikut ini adalah contoh income statement dan Balance Sheet yang disederhanakan untuk accrual basis accounting (perhatikan adanya receivables dan payables) :


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004


Revenues ................................................................................................. $1,200

Expenses ................................................................................................. $ 800

Net income .............................................................................................. $ 400


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004

Assets

Cash ....................................................................................................... $5,500

Accounts receivable ............................................................................... $ 200

Total assets ........................................................................................... $5,700

Liabilities and Stockholders Equity

Accounts payable .................................................................................... $ 200

Common stock ........................................................................................ $5,500

Total liabilities and Equity .................................................................... $5,700


Perbandingan

Menggunakan cash-basis accounting, pemasukan dan pengeluaran dikenali hanya ketika uang diterima atau dibayarkan.

Menggunakan accrual-basis accounting, receivable dan payables dikenali ketika sebuah penjualan telah disetujui, meskipun belum ada yang diterima atau dibayarkan.

Cash-basis accounting menunda semua transaksi kredit ke tanggal selanjutnya. Cara ini lebih konservatif untuk penjual dalam hal ia tidak mencatat pemasukan sampai uang diterima. Dalam perusahaan yang berkembang, metode ini menghasilkan pemasukan yang lebih rendah dibandingkan dengan accrual-basis accounting.

Contoh Sederhana

Bisnis kecil seperti stand buah-buahan, yang membeli inventorynya secara harian dengan cara tunai di pasar grosir, jual inventorynya secara cash dan membiarkan apa yang tidak terjual, dapat mendapatkan gambaran yang tepat tentang laba dan ruginya hanya dengan menggunakan cash-basis accounting.

Dengan mengubah model bisnis yang memberikan kesempatan kepada pelanggan 90 hari untuk membayar dan that procures materials on account at the lumber yard, harus menggunakan accrual method untuk mendapatkan gambaran jelas tentang kondisi finansialnya.

Setiap bisnis mungkin saja mendapatkan gambaran yang akurat baik menggunakan metode cash-basis ataupun accrual dalam periode yang lama, kecuali untuk transaksi yang sudah dimulai tetapi belum ditutup.

Pertimbangan-Pertimbangan Lain

Statemen finansial standar accrual-basis (profit statement dan balance sheet) tidak mengindikasikan aliran uang masuk ataupun keluar sebuah perusahaan. Statement of Cash Flow dibuat untuk mengindikasikan informasi untuk accrual-basis accounting.

Accrual-basis accounting lebih mahal untuk dimaintain. karena metode ini mengharuskan pemegang buku untuk mencatat transaksi yang lebih banyak. Tetapi bagaimanapun juga, dengan adanya software accounting telah membuat metode reportingnya lebih mudah.

Perusahaan-perusahaan yang telah menggunakan kredit cukup banyak sebaiknya menggunakan (di Amerika mungkin diharuskan untuk menggunakan oleh Internal Revenue Services) metode accrual-basis untuk metode accounting nya.

U.S Securities dan Exchange Commision mengharuskan semua perusahaan dagang umut (PT) mengikuti GAAP, oleh karena itu semua PT mempublikasikan statemen finansial mereka dengan menggunakan metode accrual.

Ada tiga golongan stakeholder eksternal yang harus dipertimbangkan ketika ingin mengambil keputusan metode report mana yang ingin digunakan :

*

creditor
*

stockholder
*

IRS

Untuk creditors dan stockholder perusahaan-perusahaan besar, cash-basis accounting secara finansial tidak mencukupi. Ia tidak bisa memproyeksikan cash flow masa depan perusahaan.

Untuk tujuan pajak, cash-basis accounting lebih disukai karena metode ini menangguhkan beban pajak sampai uang diterima. metode ini sering digunakan oleh binis kecil dan organisasi-organisasi yang tidak diwajibkan untuk menggunakan accrual-method, baik karena alasan pajak maupun kesederhanaannya.

Perbandingan antara Metode Akuntansi Cash dan Accrual
Read more >>

Rabu, 08 Juni 2011

Accrual dan Cash Basis Accounting

Accrual dan Cash Basis Accounting
Secara umum terdapat dua jenis metode akuntansi. Dua metode akuntansi ini berusaha menjelaskan tentang bagaimana suatu perusahaan mencatat transasksi – transaksinya dalam menjalankan binisnya. Dua jenis metode akuntansi tersebut adalah :


+ Cash Basis Accounting.
+ Accrual Basis Accounting.

Perbedaan dari metode tersebut terletak pada saat pencatatan kas masuk dan kas keluar. Tetapi walaupun perbedaannya terletak hanya masalah pengakuan kas masuk dan kas keluar. Diantara perbedaan yang mungkin menurut anda sederhana, disana terletak begitu banyak error dan manipulasi jika anda mengamati perbedaan tersebut dengan sangat seksama. Kenyataannya, banyak perusahaan – perusahaan besar didunia pada akhirnya jatuh akibat mereka terlalu banyak memainkan metode – metode akuntansi.

Cash-basis accounting
Pada metode ini, perusahaan mencatat beban didalam akun keuangan ketika kas dikeluarkan atau dibayarkan. Selain itu pendapatan dicatat ketika kas masuk atau diterima. Sebagai contoh sederhana, anggap PT. X menyelesaikan suatu proyek pada tanggal 31 desember 2002, tetapi PT. X belum mendapat pembayaran hingga pemiliknya melakukan inspeksi pada tanggal 11 januari 2003, setelah itu pada tanggal 12 Januari 2004 pendapatan atas jasa yang telah dilakukan PT. X dibayarkan ke Rekening PT. X. akuntan lalu mencatat pendapatan kas tersebut dibulan januari tahun 2004. (pada saat kas diterima).

Accrual-basis accounting
Jika suatu perusahaan menggunakan metode pencatatan akuntansi berdasarkan Accrual Accounting, perusahaan akan mencatat pendapatan ketika transaksi aktual selesai bukan pada saat kas diterima. Perusahaan akan mengakui bahwa perusahaan tersebut menerima pendapatan pada saat terjadinya transaksi. Walaupun perusahaan yang bertransaksi belum menerima uang atas transaksi tersebut secara kas. Begitu pula dengan pencatatan beban perusahan. Semua perusahaan harus melakukan pencatatn menggunakan metode akuntansi accrual karena hal ini mengacu pada PSAK yang berlaku umum di Indonesia. Jika anda melihat laporan keuangan yang ada di Indonesia. Semua di catat berdasarkan metode Accrual.

Metode Mana yang Lebih Baik
Metode akuntansi yang digunakan suatu perusahaan dapat mempengaruhi pendapatan total suatu perusahaan pada laporan keuangannya, begitu pula dengan beban – beban perusahaan. Mari kita bahas satu per satu mengenai kedua metode akuntansi tersebut dan dimana letak perbedaannya yang membuat total pendapatan dan total beban menjadi berbeda jika menggunakan metode cash basis atau akrual basis.

Cash Basis Accounting : didalam metode ini beban dengan pendapatan tidak secara hati – hati disamakan dari bulan ke bulan. Beban tidak diakui sampai uang dibayarkan walaupun beban pada bulan itu terjadi. Sama halnya dengan pendapatan, pendapatan tidak diakui sampai dengan uang diterima. Bagaimanapun juga metode dengan cash basis tidak mencerminkan besarnya uang yang sebenarnya.

Accrual Basis Accounting : Beban dan pendapatan secara hati – hati disamakan. Menyediakan informasi yang lebih handal dan terpercaya tentang seberapa besar suatu perusahaan mengeluarkan uang atau menerima uang dalam setiap bulannya. Pencatatan menggunakan metode ini mengakui beban pada saat transaski terjadi walaupun kas belum dibayarkan. Begitu pula dengan pendapatan. Pendapatan dicatat pada saat transaksi pendapatan terjadi walaupun kas atas transaksi pendapatan tersebut baru diterima bulan depan. Dalam hal ini maka dapat disimpulkan bahwa pencatatan menggunakan accrual basis lebih mencermikan keadaan perusahaan dan lebih dapat mengukur kinerja perusahaan.

Accrual dan Cash Basis Accounting
Read more >>

Selasa, 07 Juni 2011

Jurnal Simposium Nasional Akuntansi XIII (SNA 13) PURWOKERTO

Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal

1. AKPM_01 Corporate Social Responsibility (CSR) dan Kinerja Perusahaan
2. AKPM_05 Pengaruh Sistem Hukum terhadap Managemen Laba dengan Kepemilikan Institusional sebagai Variabel Pemoderasi :Studi Perbandingan Inggris dan Perancis
3. AKPM_06 Return Saham, Value at Risk, dan Aktivitas Trading pada Kelompok Harga Terendah (Low Tick Size) di Bursa Efek Indonesia
4. AKPM_11 Pengaruh Ownership Retention, Investasi dari Proceeds, dan Reputasi Auditor terhadap Nilai Perusahaan dengan Kepemilikan Manajerial dan Institusional sebagai Variabel Pemoderasi
5. AKPM_12 Pengaruh Corporate Governance pada Hubungan Corporate Social Responsibility dan Nilai Perusahaan
6. AKPM_13 Kinerja Akuntansi dan Kinerja Pasar sebagai Anteseden dan Konsekuensi atas Pergantian Chief Executive Officer (CEO) : Kasus dari Indonesia
7. AKPM_16 Praktik Manajemen Laba Terkait Peringkat Emisi Obligasi
8. AKPM_17 Pengujian Peran Perlindungan Investor dan Kultur terhadap Perilaku Managemen Laba pada Perusahaan Keluarga : Studi Internasional
9. AKPM_19 Pengaruh Status Internasional, Diversifikasi Operasi, dan Legal Origin terhadap Manajemen Laba (Studi
10. AKPM_21 Eksplorasi Kinerja Pasar Perusahaan : Kajian Berdasarkan Modal Intelektual (Studi Empiris pada Perusahaan Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)
11. AKPM_22 Pengaruh Order Effect dan Pola Pengungkapan dalam Pengambilan Keputusan Investasi
12. AKPM_23 Kepemilikan Manajemen, Kepemilikan Institusi, Leverage dan Corporate Social Responsibility
13. AKPM_24 Reksa Dana di Indonesia :Analisis Kebijakan Alokasi Aset, Pemilihan Saham, dan Tingkat Risiko
14. AKPM_26 Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan
15. AKPM_27 Pengaruh Corporate Governance dan Konsentrasi Kepemilikan terhadap Daya Informasi Akuntansi
16. AKPM_29 Hubungan antara Growth Opportunity dengan Debt Maturity dan Kebijakan Leverage serta Fungsi Covenant dalam Mengontrol Konflik Keagenan antara Shareholders dengan Debtholders”
17. AKPM_38 Karakteristik Pribadi Komite Audit dan Praktik Manajemen Laba
18. AKPM_41 Pengaruh Konservatisme terhadap Asimetri Informasi dengan Menggunakan Beberapa Model Pengukuran Konservatisme
19. AKPM_50 Implikasi Intellectual Capital terhadap Financial Performance, Growth dan Market Value : Studi Empiris dengan Pendekatan Simplistic Specification
20. AKPM_51 Pengaruh Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan, dan Struktur Kepemilikan terhadap Praktek Perataan Laba :Studi Empiris Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI
21. AKPM_52 Analisis Pendekatan Nilai Wajar dan Nilai Historis dalam Penilaian Aset Biologis pada Perusahaan Agrikultur :Tinjauan Kritis Rencana Adopsi IAS 41
22. AKPM_57 Menguji Kualitas Standar Akuntansi Hasil Adopsi IFRS :Studi Empiris pada PSAK No. 55 (Revisi 2006)
23. AKPM_60 Efek Entrenchment dan Alignment pada Manajemen Laba
24. AKPM_62 Pengaruh Kualitas Pelaporan Keuangan terhadap Informasi Asimetri
25. AKPM_64 Equity Risk Premium Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
26. AKPM_65 Hubungan antara Kesalahan Prediksi Laba Manajemen dan Akrual dengan Ketidakpastian Lingkungan sebagai Variabel Moderating
27. AKPM_67 Kepemilikan Manajerial, Konservatisma Akuntansi, dan Cost of Debt
28. AKPM_72 Perbedaan Perilaku Earnings Management Berdasarkan pada Perbedaan Life Cycle dan Ukuran Perusahaan
29. AKPM_74 The Real and Accruals Earnings Management :Satu Perspektif dari Teori Prospek
30. AKPM_78 Pemeringkatan Obligasi Perdana sebagai Pemicu Manajemen Laba : Bukti Empiris dari Pasar Modal Indonesia
31. AKPM_83 Intellectual Capital dan Abnormal Return Saham (Studi Peristiwa Pada Perusahaan Publik Di Indonesia)
32. AKPM_86 Masalah Keagenan Kas Bebas, Manajemen Laba, dan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi
33. AKPM_87 Apakah Kinerja Jangka Panjang Penawaran Umum Perdana di Indonesia underperformed? Bukti Baru
34. AKPM_91 Hubungan Karakteristik Dewan Komisaris dan Perusahaan Terhadap Pengungkapan Risk Management Committee (RMC) Pada Perusahaan Go Public Indonesia

Akuntansi Manajemen

1. AKMEN_02 Pengaruh Tekanan Ketaatan dan Tanggung Jawab Persepsian pada Penciptaan Budgetary Slack
2. AKMEN_04 Pengaruh Locus of Control terhadap Hubungan antara Justice dan Tingkat Eskalasi Komitmen dalam Penganggaran Modal
3. AKMEN_26 Kemanfaatan Capacity Cost Reports Dalam Peningkatan Kinerja Laba :Suatu Studi Eksperimen
4. AKMEN_31 Peran Kepemimpinan dalam Pencapaian Kinerja Organisasi Melalui Budaya, Strategi, dan Sistem Akuntansi Manajemen Organisasi
5. AKMEN_35 Pengaruh Profitabilitas, Leverage, dan Growth Terhadap Kebijakan Dividen dengan Good Corporate Governance sebagai Variabel Intervening

Akuntansi Sektor Publik

1. ASP_03 Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Outcomes Bidang Kesehatan: Studi Empiris di Kabupaten/Kota Propinsi Sumatera Barat
2. ASP_04 Nilai Relevan Informasi Laporan Keuangan Terkait Financial Distress Pemerintah Daerah
3. ASP_05 Apakah Incumbent Memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Untuk Mencalonkan Kembali Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada)
4. ASP_07 Pengaruh Faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di Subosukawonosraten
5. ASP_10 Kepercayaan dan Implementasi Peraturan Perundang-Undangan Penyusunan dan Pengelolaan Keuangan Daerah di Kabupaten Batang
6. ASP_11 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hasil Audit di Lingkungan Pemerintah Daerah
7. ASP_15 Pengaruh Moral Reasoning dan Skeptisisme Profesional Auditor Pemerintah terhadap Kualitas Audit Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
8. ASP_17 Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia, Politik Penganggaran, Perencanaan dan Informasi Pendukung terhadap Sinkronisasi Dokumen APBD dengan Dokumen KUA-PPAS di Lingkungan Pemerintah Kota Tanjungpinang
9. ASP_18 Pengaruh Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Keterandalan dan Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah dengan Variabel Intervening Pengendalian Intern Akuntansi (Studi Empiris di PEMDA Subosukawonosraten)
10. ASP_19 Determinasi Hubungan Pengetahuan Dewan tentang Anggaran dengan Pengawasan Dewan pada Keuangan Daerah (APBD) (Studi Empiris pada DPRD Se-Karesidenan Kedu)
11. ASP_21 Kebutuhan Investor dan Kreditor Atas Informasi dalam Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah
12. ASP_22 Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Keterlambatan dalam Penyusunan APBD (Studi Kasus Kabupaten Rejang Lebong Tahun Anggaran 2008-2010)
13. ASP_24 Studi Eksploratif terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kabupaten/Kota yang Memperoleh Opini Wajar dengan Pengecualian Menggunakan Content Analysis
14. ASP_25 Analisis Pengaruh Lingkungan Strategi, Budaya, dan Perencanaan Strategi terhadap Kinerja Perusahaan Daerah (Studi Kasus Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Sulawesi Selatan)
15. ASP_31 Pengaruh Independensi, Gaya Kepemimpinan, Komitmen Organisasi, dan Pemahaman Good Governance terhadap Kinerja Auditor Pemerintah (Studi pada Auditor Pemerintah di BPKP Perwakilan Bengkulu)
16. ASP_37 Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kota Bengkulu

Akuntansi Syariah

1. AKSR_07 Kinerja Akuntansi dan Kinerja Pasar Modal pada Perusahaan-Perusahaan dalam Jakarta Islamic Index
2. AKSR_08 Pengaruh Penerbitan Obligasi Syariah (Sukuk) Perusahaan terhadap Reaksi Pasar (Survey terhadap perusahaan – perusahaan yang menerbitkan obligasi syariah dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2002-2009)
3. AKSR_10 Islam dan Tanggung Jawab Sosial : Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative dan Islamic Social Reporting Indeks
4. AKSR_11 Analisis Pengaruh Deviden Payout Ratio dan Capital Structure terhadap Beta Saham: Studi pada Saham Syariah dan Nonsyariah Perusahaan Nonkeuangan di Bursa Efek Indonesia
5. AKSR_23 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (Deposito Mudharabah 1 Bulan) Bank Muamalat Indonesia (BMI)

Jurnal Audit

1. AUD_02 Mengapa Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Melakukan Pergantian Kantor Akuntan Publik
2. AUD_08 Pengaruh Tenur Kantor Akuntan Publik (KAP) dan Reputasi KAP terhadap Kualitas Audit : Kasus Rotasi Wajib Auditor di Indonesia
3. AUD_09 Faktor Nonkeuangan pada Opini Going Concern
4. AUD_10 Analisis Empiris Pergantian Kantor Akuntan Publik Setelah Ada Kewajiban Rotasi Audit
5. AUD_11 Pengaruh Independensi, Pengalaman, Due Professional Care dan Akuntabilitas terhadap Kualitas Audit (Studi pada Auditor di KAP “Big Four” di Indonesia)
6. AUD_14 Manajemen Laba Riil dan Berbasis Akrual: Dapatkah Auditor yang Berkualitas Mendeteksinya
7. AUD_15 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Job Satisfaction Auditor dan Hubungannya dengan Performance dan Keinginan Berpindah Kerja Auditor (Perbandingan Pada KAP Besar, KAP Menengah, dan KAP Kecil)
8. AUD_17 Analisis Penggunaan Benford’s Law dalam Perencanaan Audit pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
9. AUD_23 Analisis Penerimaan Auditor atas Dysfunctional Audit Behavior : Sebuah Pendekatan Karakteristik Personal Auditor
10. AUD_28 Pengaruh Tekanan Waktu dan Tindakan Supervisi terhadap Penghentian Prematur atas Prosedur Audit

Jurnal Kelas Internasional

71

AKMEN_05

Corporate Control and Firm Performance :D oes the Type of Owners Matter ?

Muhammad Agung Prabowo

72

AKMEN_22

The Impact of Target Setting on Managerial Motivation and Performance

Amalia Rachma Sari

Muhammad Ja’far S

73

AKPM_14

Strategic Disclosure of Multiple Benchmarks in Earnings Announcements: An Experimental Study of

Investors’ Behavior in Evaluating of Company Performance

Sri Wahyuni

Jogiyanto Hartono

74

AKPM_40

The Effect of Degree Of Convergence to IFRS and Governance System to Accounting Conservatism :Evidence

From Asia

Dr. Ratna Wardhani, SE, Msi.

75

AKPM_56_Q

Financial Reporting Practice as a Ritual :Understanding Accounting within Institutional Framework

Anis Chariri

76

AKPM_84

The Preliminary Study of Accounting Professional’s Perceptions towards IFRS Implementation in Indonesia

Ersa Tri Wahyuni, SE., M.Acc.,CPMA., Ak.

Penny Lay

77

ASP_02

The Analysis of Entrepreneurial Leader on Local Government Performance

Mahmudi

78

AUD_13

The Presence of Earnings Manipulation Incentive as a Prerequisite for the Benefits of Higher-Quality

Audit to be Realized :The Case of Indonesia

Prof. Dr. Zaki Baridwan, Msc.

Arie Rahayu Hariani, MSc

Jurnal Pendidikan Akuntansi

79

PAK_01

Analisis Tingkat Pemahaman Mahasiswa Akuntansi terhadap Konsep Dasar Akuntansi(Studi Empiris Pada

Mahasiswa Akuntansi S1 Uin Suska Riau yang Berasal Dari Latar Belakang Sekolah Menengah yang Berbeda)

Muhammad Sar’i, SE.

Muhammad Irsadsyah, SE.

Nasrullah Djamil, SE., M.Si., Ak.

80

PAK_02

Komitmen Organisasional pada Dosen Akuntansi di Jawa Tengah

Suharno Leonard Sabam Manik

Muchamad Syafruddin

81

PAK_06

Pengaruh Ketersediaan Sarana Pendidikan dan Kecerdasan Emosional terhadap Tingkat Pemahaman IFRS dengan

Minat sebagai Variabel Moderating di Fakultas Ekonomi UNSOED

Nieke H. Widaningrum

Drs. Agung Praptapa, MBA., Ak.

Dra. Permata Ulfah, M.Si., Ak.

82

PAK_07

Kajian tentang Pengaruh Pengembangan Kurikulum Akuntansi terhadap Kompetensi Lulusan Program Studi

Akuntansi(Penelitian pada Auditor Junior Kantor Akuntan Publik di Jakarta)

Agus Sholikhan Yulianto

Lili Sugeng Wiyantoro, SE., M.Si, Akt

83

PAK_10

Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi terhadap Kecerdasan Emosional dengan On-The Job Training Sebagai

Variabel Moderating

Titien Damayanti, SE., M.Si.

84

PAK_11

Pengaruh Pelatihan Logika terhadap Pertimbangan Audit(Sebuah Kuasi Eksperimen)

Lisa Martiah Nila Puspita, SE.MSi,Ak

Yesi Kurniati Putri, SE

85

PAK_15

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat untuk Mengikuti Program Pendidikan Profesi Akuntansi

(PPAk)(Survey pada Mahasiswa dan Alumni Program Studi S1 Universitas X Bandung)

R. Wedi Rusmawan Kusumah

Sri Rahayu, S.E., M.Ak., Ak.

Jurnal Perpajakan

86

PPJK_03

Pengaruh Book-Tax Differences terhadap Peringkat Obligasi di Pasar Kredit Indonesia

Yulianti S.E., M.E

Christine S.E., M.In Tax

Vinna Christina

87

PPJK_04

Penggunaan Komponen-Komponen Pembentuk Pajak Tangguhan dalam Mendeteksi Manajemen Laba :Sebuah

Pendekatan Baru di Indonesia

Yulianti S.E., Ak., MSM

Irreza

88

PPJK_07

Manajemen Laba sebagai Respon Atas Perubahan Tarif Pajak Penghasilan Badan di Indonesia

Subagyo, SE., Ak., MM.

Oktavia, SE.

89

PPJK_09

Konservatisma Akuntansi dan Sengketa Pajak Penghasilan :

Suatu Investigasi Empiris

Dra. Susi Dwimulyani, Ak., MM

90

PPJK_11

Karakteristik Kepemilikan Perusahaan, Corporate Governance, dan Tindakan Pajak Agresif

Dewi Kartika Sari

Dwi Martani

91

PPJK_13

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemauan untuk Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan

Pekerjaan Bebas

(Studi Kasus pada KPP Pratama Gambir Tiga )

Widayati, Nurlis, SE.Ak.Msi

Jurnal Qualitative

92

AKMEN_29_Q

Konstruksi Sosial Pengukur Kinerja Entitas Bisnis :

Studi Kasus UKM di Kudus

Siti Mutmainah SE., M.Si, A.kt

Tri Jatmiko Wahyu Prabowo SE., M.Si, A.kt

Surya Raharja SE., M.Si, Akt

93

AKMEN_30_Q

Pengaruh Budaya dan Sosial Politik terhadap Tampilan Situs Laporan Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan

:

Studi Perbandingan Perusahaan Migas Indonesia dan Perusahaan Migas Amerika Serikat.

Rahmawani

Dwi Hartanti

94

AKPM_76_Q

Tafsir “Keuntungan” bagi Profesi Dokter dengan Pendekatan Hermeneutika Intensionalisme

Dian Purnama Sari, SE., MSA.

95

AKSR_02_Q

Zakat terhadap Aktiva Konsepsi, Aplikasi, dan Perlakuan Akuntansi

Atik Emilia Sula

Prof. Dr. M Nizarul Alim, S.E., M.Si., Ak.

Rahmat Zuhdi, S. E., M.SA., Ak

96

AKSR_03_Q

Reformulasi Akad Pembiayaan Murabahah dengan Sistem Musyarakah sebagai Inovasi Produk Perbankan Syariah

Atik Emilia Sula

97

AKSR_13_Q

Penguatan Sharia Governance melalui Reformasi Akuntansi

Andik S. Dwi Saputro, SE.

98

AKSR_14_Q

The Bottom Line

Andik S. Dwi Saputro, S.E.

99

AKSR_20_Q

Akuntansi Syariah : Tinjauan Kritis Penyajian Zakat (UU No. 38/1999) dalam Pajak Penghasilan Orang

Pribadi (UU No. 17/2000)

Alchudri, MM., CPA

100

ASP_16_Q

Studi Fenomenologi Akuntabilitas Non-Governmental Organization

Ali Fikri

101

ASP_27_Q

Menguak Fenomena Penolakan Pembangunan dengan Daerah Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

:

Sebuah Studi Interpretif

Sopanah, SE., M.Si.

102

PAK_03_Q

Metamorfosis Kesadaran Etis Holistik Mahasiswa Akuntansi Implementasi Pembelajaran Etika Bisnis dan

Profesi Berbasis Integrasi IESQ

Dr. Aji Dedi Mulawarman

Dr. Unti Ludigdo, Ak

103

PAK_12_Q

Tafsir Ujian Komprehensif Menurut Civitas Akademik Universitas Trunojoyo

(Studi Interpretif)

Aprillia Dwi Utami

Robiatul Auliyah

Nurul Herawati, S.E., M.Si

104

PAK_13_Q

Tafsir Perilaku Etis Menurut Mahasiswa Akuntansi Berbasis Gender

Riza Sofia Nova Sari

Rahmat Zuhdi

Nurul Herawati, S.E., M.Si

105

PAK_14_Q

Pemetaan Perilaku Mahasiswa Ekonomi Ditinjau dari Perspektif Etika Teleologi (Studi Intepretif)

Silvia Syahraini Rifa

Robiatul Auliyah

Anis Wulandari

Jurnal Sistem Informasi Akuntansi

1. SIA_02 Adaptasi Model Delone & Mclean yang Dimodifikasi Guna Menguji Keberhasilan Implementasi SoftwareAkuntansi Bagi Individu Pengguna: Studi Empiris pada Perusahaan dalam Industri Barang Konsumsi yangTerdaftar di BEI
2. SIA_03 Pengelolaan Knowledge Management Capability dalam Memediasi Dukungan Information Technology Relatedness terhadap Kinerja Perusahaan: Pendekatan Reflective Second Order Factor (Penelitian terhadap Perusahaan Perbankan di Jawa Tengah)
3. SIA_06 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengendalian Diri Akuntan dan Pengaruhnya Kepada Kekhawatiran Persepsian melalui Risiko Persepsian Akuntan dalam Situs Jejaring Sosial
4. SIA_09 Pemrediksian Peningkatan Manfaat Penggunaan Situs Pajak: Model Kesuksesan Sistem dengan Pengindusian Orientasi Tujuan Pembelajaran dan Norma Subyektif
Read more >>

Kamis, 26 Mei 2011

fungsi manajemen - akuntansi manajemen

fungsi manajemen - akuntansi manajemen


Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno, dari kata ménagement, yang berarti seni melaksanakan dan mengatur.

Meski demikian, kata ini belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal.

Mary Parker Follet mendefinisikan istilah ini sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.

Definisi ini mengandung maksud bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.

Lain lagi dengan Ricky W. Griffin, yang mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien.

Memang, bicara tentang manajemen, maka terkait erat dengan organisasi. Organisasi menurut Griffin (2002) adalah sekelompok orang yang berkerja sama dalam struktur dan koordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu.

Dalam menjalankan sebuah organisasi, maka dibutuhkan sumber daya, antara lain : sumber daya manusia (human resources), sumber daya alam (natural resources), sumber daya dana (financial resources) atau keuntungan (funds) dan sumber daya informasi (informational resources).

Keseluruhan sumber daya ini kemudian dikelola melalui kerjasama orang-orang yang berbeda sehingga tujuan organisasi tercapai. Inilah letak pentingnya manajemen.

Maka kemudian Nickels McHugh (1997) mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses yang dilakukan untuk mweujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya.

Encyclopedia Americana mencatat definisi manajemen sebagai "the art of coordinating the ele-ments of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization". Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui peng-gunaan manusia (men), bahan produksi (materials), dan mesin (machines).

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa manajemen merupakan seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan. Dalam mencapai upayanya tersebut, maka dibutuhkan keterlibatan 3 faktor yang terlibat, yaitu :

* Adanya penggunaaan sumber daya organisasi.
* Adanya proses yang bertahap mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan hingga pengendalian dan pengawasan.
* Adanya seni dalam menyelesaikan pekerjaan. Manajemen dibutuhkan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efisien. Efektif menurut Peter F Drucker adalah "mengerjakan pekerjaan yang benar" (doing the right things), sedangkan efisien adalah "mengerjakan pekerjaan dengan benar" (doing things right)

Maka, secara menyeluruh, fungsi manajemen adalah sebagai berikut :

* Perencanaan/Planning :

Yaitu suatu usaha atau upaya untuk merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan ini biasanya dituangkan dalam bentuk konsep atau suatu program kerja.

* Pengorganisasian/Organizing :

Kegiatan yang meliputi penetapan struktur, tugas dan kewajiban, fungsi pekerjaan dan hubungan antar fungsi.

* Penyusunan Staf/Staffing :

Termasuk didalamnya adalah perekrutan karyawan, pemanfaatan, pelatihan, pendidikan dan pengembangan sumberdaya karyawan tersebut dengan efektif.

* Pengarahan/Directing :

Yaitu fungsi memberikan perintah atau arahan. Selain itu juga termasuk kegiatan kepemimpinan, bimbingan, motivasi dan pengarahan agar karyawan dapat bekerja dengan lebih efektif.

* Pengkoordinasian/Coordinating :

Yaitu fungsi mengkoordinir seluruh pekerjaan dalam satu totalitas organisasi pekerjaan, diantaranya termasuk, sinkronisasi kegiatan, keterpduan kegiatan, menyelaraskan kegiatan, meruntutkan kegiatan, mencegah overlaping dan kekosongan kegiatan.

* Pengawasan/Controling :

Fungsi yang memberikan penilaian, koreksi dan evaluasi atas semua kegiatan, bertujuan untuk menyesuaikan rencana yang telah dicapai dengan pelaksanaan kegiatan. Hasil dari evaluasi pengawasan ini bisa dijadikan bahan rekomendasi untuk kegiatan selanjutnya.



Read more >>

Rabu, 20 April 2011

International Financial Reporting Standards - IFRS



International Financial Reporting Standards (IFRS) are principles-based Standards, Interpretations and the Framework (1989)adopted by the International Accounting Standards Board (IASB).

Many of the standards forming part of IFRS are known by the older name of International Accounting Standards (IAS). IAS were issued between 1973 and 2001 by the Board of the International Accounting Standards Committee (IASC). On 1 April 2001, the new IASB took over from the IASC the responsibility for setting International Accounting Standards. During its first meeting the new Board adopted existing IAS and SICs. The IASB has continued to develop standards calling the new standards IFRS.

In October 2010, the IASB and the US-based Financial Accounting Standards Board (FASB) each published a document requesting views from stakeholders about the time and effort that will be involved in adopting several new standards and when those standards should be effective. In view of the limited numbers of responses received from users and, for the FASB, private entities, the boards directed the staff to undertake further outreach activities from these groups. (IFRS.org)
Read more >>