Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengendalian Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengendalian Manajemen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2012

Pembentukan Persekutuan

A. Pembentukan Persekutuan Baru
Yaitu merupakan pembentukan persekutuan yang samasekali baru berdasarkan kesepatan dua orang sekutu atau lebih.
Masing-masing sekutu menyetor modal untuk mendirikan perusahaan baru yang akan dimiliki bersama. Setoran modal tersebut dapat berupa kas, aktiva nonkas atau bahkan aktiva tidak berujud seperti kemampuan lebih yang dimiliki oleh seorang sekutu diatas kemampuan sekutu yang lain. Bila aktiva berupa non-kas maka penilaian besarnya modal harus dengan persetujuan maisng-maisng sekutu agar mendapatkan nilai yang wajar dan memenuhi prinsip keadilan sehingga biasanya digunakan nilai pasarnya yang wajar. Penurunan nilai aktiva juga harus ditetapkan secara bersama.
Bila terdapat kemampuan lebih dari sekutu maka perlakuan terhadap kemampuan lebih yang dimiliki sekutu ada 2 metode pengakuan modal yaitu:
1. Metode Goodwill
2. Metode Bonus

1. Setoran Modal berupa Kas

Tuan Tedjo & Tuan Bagus sepakat mendirikan usaha persekutuan firma dengan nama “ MBAGUSI ”. Sebagai setoran awal masing-masing sekutu menyetorkan sbb :
• Tedjo : Rp 240.000.000
• Bagus : Rp 200.000.000
Bagaimana pengakuan setoran modal awal pendirian persekutuan tersebut dengan menggunakan metode bonus dan metode goodwill? Buatlah juga jurnal yang diperlukan!
* Jurnal untuk Setoran Modal
Kas Rp. 240.000.000
Modal Tedjo Rp. 240.000.000

Bila dalam pendirian persekutuan tidak ada ketentuan proporsi pengakuan modal di dalam perjanjian, maka proporsi pengakuan modal dengan metode bonus besarnya dibagi rata.
a. Pengakuan Modal dengan Metode Bonus

Keterangan Setoran Modal (1) Metode bonus (2) Besarnya bonus
( 1 – 2 )
Tedjo 240.000.000 220.000.000 20.000.000
Bagus 200.000.000 220.000.000 ( 20.000.000 )
Jumlah 440.000.000 440.000.000 -

* Jurnal untuk mencatat besarnya bonus
Modal Tedjo Rp. 20.000.000
Modal Bagus Rp. 20.000.000
Neraca FA. “ MBAGUSI ”

Aktiva Pasiva
Kas 440.000.000 Modal Tedjo 220.000.000
Modal Bagus 220.000.000
Jumlah 440.000.000 Jumlah 440.000.000

b. Pengakuan Modal dengan Metode Goodwill

Keterangan Setoran Modal
(1) Metode Goodwill (2) Besarnya Goodwill
( 2 – 1 )
Tedjo 240.000.000 240.000.000 -
Bagus 200.000.000 240.000.000 40.000.000
Jumlah 440.000.000 480.000.000 40.000.000



Jurnal untuk mencatat besarnya goodwill
Goodwill Rp. 40.000.000
Modal Bagus Rp. 40.000.000

Neraca FA. “MBAGUSI “
Aktiva Pasiva
Kas 440.000.000 Modal Tedjo 240.000.000
Goodwill 40.000.000 Modal Bagus 240.000.000
Jumlah 480.000.000 Jumlah 480.000.000


2. Penyetoran Modal berupa Aktiva Non-Kas

Bapak Boni & Alvin mendirikan usaha dengan nama “ PT. RAJASA”. Masing-masing menyetorkan modal berupa:
Boni : Kas Rp 100.000.000
Alvin : Gedung : Rp 25.000.000
: Tanah : Rp 60.000.000
Truk : Rp 75.000.000

• Jurnal untuk mencatat Penyetoran modal Boni & Alvin :
Kas 100.000.000
Modal Boni 100.000.000

Gedung 25.000.000
Tanah 60.000.000
Truk 75.000.000
Modal Alvin 160.000.000





a. Pengakuan Modal dengan Metode Bonus

Keterangan Setoran Modal (1) Metode bonus (2) Besarnya bonus
( 1 – 2 )
Boni 100.000.000 130.000.000 ( 30.000.000 )
Alvin 160.000.000 130.000.000 30.000.000
260.000.000 260.000.000 -

Jurnal untuk mencatat besarnya bonus:
Modal Alvin
Rp. 30.000.000
Modal Boni Rp. 30.000.000

Neraca FA. RAJASA

Aktiva Pasiva
Kas 260.000.000 Modal Boni 130.000.000
Modal Alvin 130.000.000
Jumlah 260.000.000 Jumlah 260.000.000


b. Pengakuan Modal dengan Metode Goodwill

Keterangan Setoran modal (1) Metode godwill (2) Besarnya goodwill
( 2 – 1 )
Boni 100.000.000 160.000.000 60.000.000
Alvin 160.000.000 160.000.000 -
260.000.000 320.000.000 60.000.000

Jurnal untuk mancatat besarnya goodwill
Goodwill
Rp. 60.000.000
Modal Boni Rp. 60.000.000



B. Mengubah Pemilikan Perusahaan Perseorangan Yang Sudah Ada

Pada dasarnya ada dua metode yang digunakan, yaitu metode pembukuan lama (berdasarkan pembukuan dari perusahaan sebelumnya) dan metode pembukuan baru.
• Penilaian Aktiva Bersih yang Disetor
• Penentuan Modal masing-masing Sekutu
• Pembukuan atau akuntansinya disesuaikan dengan metode pembukuan yang
digunakan.

SKEMA PERUBAHAN PERUSAHAAN PERORANGAN
MENJADI PERSEKUTUAN


Andi pemilik Firma “ GAYA GAUL” sebagai badan usaha ingin mendirikan persekutuan dg Bintoro
Bintoro sebagai perseorangan ingin mendirikan persekutuan
Cecep sebagai perseorangan ingin mendirikan persekutuan



Penilaian Aktiva Bersih yang disetor berdasar nilai pasarnya.
 Bila nilai pasar > nilai buku.
 Melihat kemungkinan perlu pengakuan gooodwill


Modal Bintoro yang untuk mendirikan persekutuan
Modal diakui sebesar nominal setoran mula-mula Modal diakui sebesar nominal setoran mula-mula



Pemilihan metode pencatatan akuntansinya


Pendirian Persekutuan “FUNKY” dengan anggota persekutuan Andy, Bintoro dan Cecep



Contoh Soal Pendirian Persekutuan Yang Sudah Ada:

Pada awal tahun 1999 Tuan Omar Bakri dan Tuan Farhan sepakat mendirikan Persekutuan “AGASS JAYA MOTOR”. Tuan Omar Bakri sudah mempunyai perusahaan perseorangan yang bergerak di bidang servis dan perawatan kendaraan bermotor dan akan menggunakan aktiva bersih perusahaan perseorangan tersebut sebagai setoran modal. Tuan Farhan akan menyetor modal berupa kas sebesar Rp 250.000.00,00 untuk mendirikan persekutuan baru bersama tuan Omar yang bernama “AGASS JAYA MOTOR”. Neraca perusahaan perseorangan Tuan Omar Bakri pada saat itu adalah :

Perusahaan Dagang “AGASS”
Neraca
Per 1 Januari 1999
AKTIVA
Kas 25.000.000
Piutang dagang 30.000.000
Persediaan brg dagang 35.000.000
Tanah 28.000.000
Gedung 25.000.000
Akumulasi penyusutan 15.000.000 - 10.000.000

Mebel & peralatan 15.000.000
Akumulasi penyusutan 8.000.000 - 7.000.000 +
Total Aktiva 135.000.000
PASIVA

Utang Bank
55.000.000
Modal, Omar Bakri 80.000.000 +
Total Pasiva
135.000.000
Dalam hubungannya dengan setoran Omar Bakri tersebut telah disepakati adanya penyesuaian sebagai berikut :
1. Cadangan kerugian piutang diakui sbesar 10 % dari saldo piutang dagang.
2. Persediaan dinilai berdasarkan nilai pasarnya yaitu Rp 40.000.000
3. Diakuinya adanya goodwill sebesar Rp 10.000.000
4. Nilai tanah disepakati sebesar Rp 40.000.000
5. Dialuinya adanya utang biaya sebesar Rp 4.000.000

Pengakuan Modal Pendirian Persekutuan Apabila Menggunakan Buku Lama:
Persediaan :
Nilai pasar.................. .....Rp 40.000.000
Nilai buku..........................Rp 35.000.000 -
Kenaikan nilai persediaan..................................Rp 5.000.000
Tanah :
Nilai pasar.........................Rp 40.000.000
Nilai buku...........................Rp 28.000.000 -
Kenaikan nilai tanah...............................................Rp 12.000.000
Pengakuan goodwill...............................................Rp 10.000.000 +
Jumlah penambahan modal karena penilaian.......Rp 27.000.000
* Kerugian piutang =
10 % x Rp 30.000.000 = Rp 3.000.000
* Utang biaya = Rp 4.000.000 +
Jumlah pengurangan modal karena penilaian......Rp 7.000.000 -
Kenaikan modal Omar Bakri karena penilaian.....Rp 20.000.000

a. Untuk menyesuaikan saldo-saldo per pembukuan lama, yaitu :
Persediaan ...................................Rp 5.000.000
Tanah...........................................Rp 12.000.000
Goodwill......................................Rp 10.000.000
Cadangan kerugian piutang...........................Rp 3.000.000
Utang biaya...................................................Rp 4.000.000
Modal, Omar Bakri........................ ..............Rp 20.000.000

b. Mencatat setoran Tuan Farhan :
Kas..............................................Rp 250.000.000
Modal, Farhan............................................Rp 250.000.000
Dalam metode pembukuan lama, neraca dari persekutuan baru yang mereka dirikan merupakan gabungan antara nilai aktiva perusahaan lama + penyesuaian + setoran modal sekutu baru, yaitu sebagai berikut:

Perusahaan Dagang “AGASS JAYA MOTOR”
Neraca
Per 1 Januari 1999
AKTIVA
Kas 275.000.000
Piutang dagang 30.000.000
Cad. Kerugian Piutang 3.000.000 -
27.000.000
Persediaan brg dagang 40.000.000
Tanah 40.000.000
Gedung 25.000.000
Akumulasi penyusutan 15.000.000 - 10.000.000

Mebel & peralatan 15.000.000
Akumulasi penyusutan 8.000.000 - 7.000.000
Goodwill 10.000.000 +
Total Aktiva 409.000.000
PASIVA
Utang Bank 55.000.000
Utang biaya 4.000.000
Modal, Farhan 250.000.000
Modal, Omar Bakri 100.000.000 +
Total Pasiva 409.000.000





Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini !
1. Apa yang dimaksud dengan“Ownership of an Interest in a Partnership”?
2. Apa yang dimaksud dengan “Right to Dispose of Partnership Interest”?
3. Sebutkan cara pembentukan persekutuan !
4. Apa perbedaan pembentukan persekutuan antara metode goodwill dengan metode bonus?
5. Tiga Tiga orang yaitu Doni, Endah (keduanya bekas foto model) dan Ferdy 1991 mendirikan persekutuan yang usahanya berupa foto studio bernama “ MODEL “. Mereka menyetorkan modal, masing-masing:
• Doni Rp. 12.500.000 dan kursi dengan nilai buku Rp. 3.000.000 dan nilai pasar Rp. 5000.000.
• Endah Rp. 15.000.000 dan peralatan foto dengan nilai buku Rp. 2500.000 dan nilai pasarnya Rp. 4500.000.
• Ferdy Rp. 2000.000 dan Ruko dengan nilai buku Rp 20.000.000 namun nilai pasarnya Rp. 23.000.000.
Berapakah besarnya setoran modal yang diakui bila persekutuan yang akan didirikan menggunakan metode bonus? Buatlah laporan pengakuan setoran dan jurnal untuk setiap transaksi yang berkaitan dengan setoran modal tersebut dan neracanya setelah ada pemberian bonus!
6. Tiga orang yaitu Andi, Beni, dan Cindy pada tahun 1991 mendirikan persekutuan yang usahanya berupa cafĂ© bernama “ MOGE “. Mereka menyetorkan modal sebesar:
• Andi Rp. 10.500.000 dan kursi dengan nilai buku Rp. 3000.000 dan nilai pasar Rp. 4000.000.
• Beni Rp. 13.000.000 dan peralatan dapur dengan nilai buku Rp. 2500.000 dan nilai pasarnya Rp. 4500.000.
• Cindy Rp. 1000.000 dan tanah dan bangunan dengan nilai buku Rp 19.000.000 namun nilai pasarnya Rp. 21.000.000.
Berapakah besarnya setoran modal yang diakui bila persekutuan yang akan didirikan menggunakan metode goodwill? Buatlah laporan pengakuan setoran, jurnal untuk setiap transaksi yang berkaitan dengan setoran modal tersebut dan neracanya setelah ada pengakuan goodwill!

7). Perhatikan neraca dari perusahaan dagang di bawah ini!


Perusahaan dagang “ ASTAGANAGA”
Neraca
Per 1 Januari 2000
AKTIVA
1. Kas
2. Piutang Dagang
3. Persediaan Brg. Dagangan.
4. Tanah
5. Gedung
6. Akumulasi Penyusutan.
7. Peralatan dan Mebel
8. Akumulasi penyusutan

Total Aktiva





Rp. 40.000.000
Rp. 15.000.000

Rp. 20.000.000
Rp. 12.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 35.000.000
Rp. 35.000.000

Rp. 30.000.000
Rp. 25.000.000


Rp. 8.000.000
Rp. 163.000.000
PASIVA
1. Hutang Bank
2. Modal, Tn Burhan
Total Pasiva

Rp. 75.000.000
Rp. 88.000.000
Rp. 163.000.000



Pada tahun 1996 Tuan Burhan dan Tuan Teddy sepakat untuk mendirikan persekutuan, sedangkan Tuan Burhan sebelumnya telah memiliki perusahaan perorangan dengan neraca seperti diatas dan Tuan Teddy akan menyetorkan modal berupa kas sebesar Rp. 170.000.0000. Bila kemudian terdapat beberapa hal untuk penyesuaian berikut:
1. Cadangan kerugian piutang perlu diakui sebesar 10% dari saldo piutang dagang.
2. Persediaan dinilai dari nilai pasarnya sebesar Rp. 50 juta,
3. Diakui adanya goodwill yang timbul dari usaha yang dijalankan selama ini sebsar Rp. 15 juta.
4. Nilai tanah dinilai kembali seharga Rp. 45 juta. Diakui adanya hutang gaji sebesar Rp 7 juta.
Buatlah system pencatatan secara lengkap untuk mendirikan persekutuan “RUKUN” dengan metode pembukuan lama (berdasarkan neraca perusahaan “ASTAGANAGA” milik Tuan Burhan).
Read more >>

Jumat, 22 April 2011

EFFECT OF OPERATING CASH FLOW TO RETURN RECEIVED



EFFECT OF OPERATING CASH FLOW TO RETURN RECEIVED
BY SHAREHOLDERS
The results show that operating cash flow have an influence
The most significant effect on returns received by shareholders. In
each year, the company that has a negative operating cash flow only
5-6 pieces. PT Suba Indah which consistently has a negative operating cash flow during
three years and PT Bayer Indonesia, which has a negative operating cash flow in
in 2002, it is in the process of cessation of business units
harm, so it can not avoid negative operating cash flow.
Unlike the performance measures earnings, operating cash flow shows
operating results which funds are received in cash by the company and
burdened with a load of cash is actually already excluded
by the company. It could happen income statement shows sales figures
and operating income are high but turned out to be false, because the company
have not received payment of funds selling. Liquidity difficulties caused
many the emergence of bad debt or receivables with credit terms are very
long.
Many companies are also burdened with costs that are non-cash,
that not only the form of depreciation or amortization, but also the interest expense.
Companies that are in the process of debt restructuring with creditors,
keep records of interest based on previous agreements, although there has been no
payment, resulting in the income statement the interest is
payable.
Management of companies and investors realize that the cash flow
better ensure positive operation of the company's capability to run
business activities in the future. Companies are able to
pay dividends to shareholders is a company that has
high earnings and cash at the same time is also sufficient.
When compared with results of previous studies both
performed by Biddle, Bowen and Wallace (1997), and Peixoto (2001)
nor Fernandez (2001), it turns out the results of this study also showed that
EVA is not proven to have superior performance compared to benchmarks
other. There was also a similarity results showed that all standard
performance measurement has a low contribution to the return received
by shareholders. This suggests that many other factors that are
more dominant influence return received by shareholders.
Research Fernandez (2001) revealed that other factors such levels
significant effect on return rates. In addition, previous studies
carried Garvey and Milbourn (2000) revealed that the company
have implemented EVA EVA will have a value that highly correlated
with the return. According Djawahir (2001), this approach has not been widely EVA
applied in enterprises in Indonesia. While in America and in
Europe, most companies have implemented the EVA model. Companies in
Indonesia is aware and willing to use EVA to measure performance
Pradhono, Effect of Economic Value Added, Residual Income
generally only foreign firms or majority-owned by
foreign investors (Djawahir 2003).
Read more >>