Rabu, 08 Juni 2011

Pihak Yang Menggunakan dan Membutuhkan Laporan Akuntansi

Pihak Yang Menggunakan dan Membutuhkan Laporan Akuntansi
1. Pihak Internal

Pihak internal adalah pihak yang berada dalam struktur organisasi. Manajemen adalah pihak yang paling membutuhkan laporan akuntansi yang tepat dan akurat untuk mengambil keputusan yang baik dan benar. Contohnya seperti manajer yang melihat posisi keuangan perusahaan untuk memutuskan apakah akan membeli gedung untuk kanntor cabang baru atau tidak.

2. Pihak Eksteral / External

a. Investor
Investor membutuhkan informasi keuangan perusahaan untuk menentukan apakah akan menanamkan modalnya atau tidak. Jika dalam prediksi investor akan memberikan keuntungan yang baik, maka investor akan menyetorkan modal ke perusahaan, dan begitu juga sebaliknya.

b. Pemegang saham / pemilik perusahaan
Para pemilik perusahaan yang mempunyai bagian saham perusahaan membutuhkan informasi keuangan perusahaan untuk dapat mengetahui sejauh mana kemajuan atau kemunduran yang dialami perusahaan. Pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang akan semakin besar jika perusahaan untung besar.

c. Pemerintah
Besarnya pajak yang harus dibayarkan perusahaan atau organisasi kepada pemerintah sebagaian besar berdasarkan atas informasi pada laporan keuangan perusahaan.

d. Kreditur
Jika perusahaan sedang terdesak dan membutuhkan dana segar perusahaan mungkin akan meminjam uang pada kreditor seperti meminjam uang di bank, berhutang barang pada supplyer / pemasok. Kreditur akan memberikan dana jika perusahaan memiliki kondisi keuangan yang baik dan tidak akan memiliki potensi yang besar untuk merugi.

e. Pihak Lainnya
Sebenarnya masih banyak pihak lain dari luar perusahaan perusahaan yang mungkin saja akan menggunakan laporan / informasi akuntansi suatu organisasi seperti para karyawan, serikat pekerja, auditor akuntan publik, polisi, pelajar / mahasiswa, wartawan, dan banyak lagi lainnya.

Pihak Yang Menggunakan dan Membutuhkan Laporan Akuntansi
Read more >>

Pengertian / Definisi dari Manajemen

Pengertian / Definisi dari Manajemen
Di bawah ini adalah definisi dari kata manajemen :

1. Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Stoner
Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Pengertian Manajemen Menurut Mary Parker Follet
Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus.

Pengertian / Definisi dari Manajemen
Read more >>

Accrual dan Cash Basis Accounting

Accrual dan Cash Basis Accounting
Secara umum terdapat dua jenis metode akuntansi. Dua metode akuntansi ini berusaha menjelaskan tentang bagaimana suatu perusahaan mencatat transasksi – transaksinya dalam menjalankan binisnya. Dua jenis metode akuntansi tersebut adalah :


+ Cash Basis Accounting.
+ Accrual Basis Accounting.

Perbedaan dari metode tersebut terletak pada saat pencatatan kas masuk dan kas keluar. Tetapi walaupun perbedaannya terletak hanya masalah pengakuan kas masuk dan kas keluar. Diantara perbedaan yang mungkin menurut anda sederhana, disana terletak begitu banyak error dan manipulasi jika anda mengamati perbedaan tersebut dengan sangat seksama. Kenyataannya, banyak perusahaan – perusahaan besar didunia pada akhirnya jatuh akibat mereka terlalu banyak memainkan metode – metode akuntansi.

Cash-basis accounting
Pada metode ini, perusahaan mencatat beban didalam akun keuangan ketika kas dikeluarkan atau dibayarkan. Selain itu pendapatan dicatat ketika kas masuk atau diterima. Sebagai contoh sederhana, anggap PT. X menyelesaikan suatu proyek pada tanggal 31 desember 2002, tetapi PT. X belum mendapat pembayaran hingga pemiliknya melakukan inspeksi pada tanggal 11 januari 2003, setelah itu pada tanggal 12 Januari 2004 pendapatan atas jasa yang telah dilakukan PT. X dibayarkan ke Rekening PT. X. akuntan lalu mencatat pendapatan kas tersebut dibulan januari tahun 2004. (pada saat kas diterima).

Accrual-basis accounting
Jika suatu perusahaan menggunakan metode pencatatan akuntansi berdasarkan Accrual Accounting, perusahaan akan mencatat pendapatan ketika transaksi aktual selesai bukan pada saat kas diterima. Perusahaan akan mengakui bahwa perusahaan tersebut menerima pendapatan pada saat terjadinya transaksi. Walaupun perusahaan yang bertransaksi belum menerima uang atas transaksi tersebut secara kas. Begitu pula dengan pencatatan beban perusahan. Semua perusahaan harus melakukan pencatatn menggunakan metode akuntansi accrual karena hal ini mengacu pada PSAK yang berlaku umum di Indonesia. Jika anda melihat laporan keuangan yang ada di Indonesia. Semua di catat berdasarkan metode Accrual.

Metode Mana yang Lebih Baik
Metode akuntansi yang digunakan suatu perusahaan dapat mempengaruhi pendapatan total suatu perusahaan pada laporan keuangannya, begitu pula dengan beban – beban perusahaan. Mari kita bahas satu per satu mengenai kedua metode akuntansi tersebut dan dimana letak perbedaannya yang membuat total pendapatan dan total beban menjadi berbeda jika menggunakan metode cash basis atau akrual basis.

Cash Basis Accounting : didalam metode ini beban dengan pendapatan tidak secara hati – hati disamakan dari bulan ke bulan. Beban tidak diakui sampai uang dibayarkan walaupun beban pada bulan itu terjadi. Sama halnya dengan pendapatan, pendapatan tidak diakui sampai dengan uang diterima. Bagaimanapun juga metode dengan cash basis tidak mencerminkan besarnya uang yang sebenarnya.

Accrual Basis Accounting : Beban dan pendapatan secara hati – hati disamakan. Menyediakan informasi yang lebih handal dan terpercaya tentang seberapa besar suatu perusahaan mengeluarkan uang atau menerima uang dalam setiap bulannya. Pencatatan menggunakan metode ini mengakui beban pada saat transaski terjadi walaupun kas belum dibayarkan. Begitu pula dengan pendapatan. Pendapatan dicatat pada saat transaksi pendapatan terjadi walaupun kas atas transaksi pendapatan tersebut baru diterima bulan depan. Dalam hal ini maka dapat disimpulkan bahwa pencatatan menggunakan accrual basis lebih mencermikan keadaan perusahaan dan lebih dapat mengukur kinerja perusahaan.

Accrual dan Cash Basis Accounting
Read more >>

Selasa, 07 Juni 2011

Jurnal Simposium Nasional Akuntansi XIII (SNA 13) PURWOKERTO

Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal

1. AKPM_01 Corporate Social Responsibility (CSR) dan Kinerja Perusahaan
2. AKPM_05 Pengaruh Sistem Hukum terhadap Managemen Laba dengan Kepemilikan Institusional sebagai Variabel Pemoderasi :Studi Perbandingan Inggris dan Perancis
3. AKPM_06 Return Saham, Value at Risk, dan Aktivitas Trading pada Kelompok Harga Terendah (Low Tick Size) di Bursa Efek Indonesia
4. AKPM_11 Pengaruh Ownership Retention, Investasi dari Proceeds, dan Reputasi Auditor terhadap Nilai Perusahaan dengan Kepemilikan Manajerial dan Institusional sebagai Variabel Pemoderasi
5. AKPM_12 Pengaruh Corporate Governance pada Hubungan Corporate Social Responsibility dan Nilai Perusahaan
6. AKPM_13 Kinerja Akuntansi dan Kinerja Pasar sebagai Anteseden dan Konsekuensi atas Pergantian Chief Executive Officer (CEO) : Kasus dari Indonesia
7. AKPM_16 Praktik Manajemen Laba Terkait Peringkat Emisi Obligasi
8. AKPM_17 Pengujian Peran Perlindungan Investor dan Kultur terhadap Perilaku Managemen Laba pada Perusahaan Keluarga : Studi Internasional
9. AKPM_19 Pengaruh Status Internasional, Diversifikasi Operasi, dan Legal Origin terhadap Manajemen Laba (Studi
10. AKPM_21 Eksplorasi Kinerja Pasar Perusahaan : Kajian Berdasarkan Modal Intelektual (Studi Empiris pada Perusahaan Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)
11. AKPM_22 Pengaruh Order Effect dan Pola Pengungkapan dalam Pengambilan Keputusan Investasi
12. AKPM_23 Kepemilikan Manajemen, Kepemilikan Institusi, Leverage dan Corporate Social Responsibility
13. AKPM_24 Reksa Dana di Indonesia :Analisis Kebijakan Alokasi Aset, Pemilihan Saham, dan Tingkat Risiko
14. AKPM_26 Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan
15. AKPM_27 Pengaruh Corporate Governance dan Konsentrasi Kepemilikan terhadap Daya Informasi Akuntansi
16. AKPM_29 Hubungan antara Growth Opportunity dengan Debt Maturity dan Kebijakan Leverage serta Fungsi Covenant dalam Mengontrol Konflik Keagenan antara Shareholders dengan Debtholders”
17. AKPM_38 Karakteristik Pribadi Komite Audit dan Praktik Manajemen Laba
18. AKPM_41 Pengaruh Konservatisme terhadap Asimetri Informasi dengan Menggunakan Beberapa Model Pengukuran Konservatisme
19. AKPM_50 Implikasi Intellectual Capital terhadap Financial Performance, Growth dan Market Value : Studi Empiris dengan Pendekatan Simplistic Specification
20. AKPM_51 Pengaruh Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan, dan Struktur Kepemilikan terhadap Praktek Perataan Laba :Studi Empiris Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI
21. AKPM_52 Analisis Pendekatan Nilai Wajar dan Nilai Historis dalam Penilaian Aset Biologis pada Perusahaan Agrikultur :Tinjauan Kritis Rencana Adopsi IAS 41
22. AKPM_57 Menguji Kualitas Standar Akuntansi Hasil Adopsi IFRS :Studi Empiris pada PSAK No. 55 (Revisi 2006)
23. AKPM_60 Efek Entrenchment dan Alignment pada Manajemen Laba
24. AKPM_62 Pengaruh Kualitas Pelaporan Keuangan terhadap Informasi Asimetri
25. AKPM_64 Equity Risk Premium Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
26. AKPM_65 Hubungan antara Kesalahan Prediksi Laba Manajemen dan Akrual dengan Ketidakpastian Lingkungan sebagai Variabel Moderating
27. AKPM_67 Kepemilikan Manajerial, Konservatisma Akuntansi, dan Cost of Debt
28. AKPM_72 Perbedaan Perilaku Earnings Management Berdasarkan pada Perbedaan Life Cycle dan Ukuran Perusahaan
29. AKPM_74 The Real and Accruals Earnings Management :Satu Perspektif dari Teori Prospek
30. AKPM_78 Pemeringkatan Obligasi Perdana sebagai Pemicu Manajemen Laba : Bukti Empiris dari Pasar Modal Indonesia
31. AKPM_83 Intellectual Capital dan Abnormal Return Saham (Studi Peristiwa Pada Perusahaan Publik Di Indonesia)
32. AKPM_86 Masalah Keagenan Kas Bebas, Manajemen Laba, dan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi
33. AKPM_87 Apakah Kinerja Jangka Panjang Penawaran Umum Perdana di Indonesia underperformed? Bukti Baru
34. AKPM_91 Hubungan Karakteristik Dewan Komisaris dan Perusahaan Terhadap Pengungkapan Risk Management Committee (RMC) Pada Perusahaan Go Public Indonesia

Akuntansi Manajemen

1. AKMEN_02 Pengaruh Tekanan Ketaatan dan Tanggung Jawab Persepsian pada Penciptaan Budgetary Slack
2. AKMEN_04 Pengaruh Locus of Control terhadap Hubungan antara Justice dan Tingkat Eskalasi Komitmen dalam Penganggaran Modal
3. AKMEN_26 Kemanfaatan Capacity Cost Reports Dalam Peningkatan Kinerja Laba :Suatu Studi Eksperimen
4. AKMEN_31 Peran Kepemimpinan dalam Pencapaian Kinerja Organisasi Melalui Budaya, Strategi, dan Sistem Akuntansi Manajemen Organisasi
5. AKMEN_35 Pengaruh Profitabilitas, Leverage, dan Growth Terhadap Kebijakan Dividen dengan Good Corporate Governance sebagai Variabel Intervening

Akuntansi Sektor Publik

1. ASP_03 Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Outcomes Bidang Kesehatan: Studi Empiris di Kabupaten/Kota Propinsi Sumatera Barat
2. ASP_04 Nilai Relevan Informasi Laporan Keuangan Terkait Financial Distress Pemerintah Daerah
3. ASP_05 Apakah Incumbent Memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Untuk Mencalonkan Kembali Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada)
4. ASP_07 Pengaruh Faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di Subosukawonosraten
5. ASP_10 Kepercayaan dan Implementasi Peraturan Perundang-Undangan Penyusunan dan Pengelolaan Keuangan Daerah di Kabupaten Batang
6. ASP_11 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hasil Audit di Lingkungan Pemerintah Daerah
7. ASP_15 Pengaruh Moral Reasoning dan Skeptisisme Profesional Auditor Pemerintah terhadap Kualitas Audit Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
8. ASP_17 Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia, Politik Penganggaran, Perencanaan dan Informasi Pendukung terhadap Sinkronisasi Dokumen APBD dengan Dokumen KUA-PPAS di Lingkungan Pemerintah Kota Tanjungpinang
9. ASP_18 Pengaruh Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Keterandalan dan Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah dengan Variabel Intervening Pengendalian Intern Akuntansi (Studi Empiris di PEMDA Subosukawonosraten)
10. ASP_19 Determinasi Hubungan Pengetahuan Dewan tentang Anggaran dengan Pengawasan Dewan pada Keuangan Daerah (APBD) (Studi Empiris pada DPRD Se-Karesidenan Kedu)
11. ASP_21 Kebutuhan Investor dan Kreditor Atas Informasi dalam Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah
12. ASP_22 Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Keterlambatan dalam Penyusunan APBD (Studi Kasus Kabupaten Rejang Lebong Tahun Anggaran 2008-2010)
13. ASP_24 Studi Eksploratif terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kabupaten/Kota yang Memperoleh Opini Wajar dengan Pengecualian Menggunakan Content Analysis
14. ASP_25 Analisis Pengaruh Lingkungan Strategi, Budaya, dan Perencanaan Strategi terhadap Kinerja Perusahaan Daerah (Studi Kasus Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Sulawesi Selatan)
15. ASP_31 Pengaruh Independensi, Gaya Kepemimpinan, Komitmen Organisasi, dan Pemahaman Good Governance terhadap Kinerja Auditor Pemerintah (Studi pada Auditor Pemerintah di BPKP Perwakilan Bengkulu)
16. ASP_37 Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kota Bengkulu

Akuntansi Syariah

1. AKSR_07 Kinerja Akuntansi dan Kinerja Pasar Modal pada Perusahaan-Perusahaan dalam Jakarta Islamic Index
2. AKSR_08 Pengaruh Penerbitan Obligasi Syariah (Sukuk) Perusahaan terhadap Reaksi Pasar (Survey terhadap perusahaan – perusahaan yang menerbitkan obligasi syariah dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2002-2009)
3. AKSR_10 Islam dan Tanggung Jawab Sosial : Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative dan Islamic Social Reporting Indeks
4. AKSR_11 Analisis Pengaruh Deviden Payout Ratio dan Capital Structure terhadap Beta Saham: Studi pada Saham Syariah dan Nonsyariah Perusahaan Nonkeuangan di Bursa Efek Indonesia
5. AKSR_23 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (Deposito Mudharabah 1 Bulan) Bank Muamalat Indonesia (BMI)

Jurnal Audit

1. AUD_02 Mengapa Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Melakukan Pergantian Kantor Akuntan Publik
2. AUD_08 Pengaruh Tenur Kantor Akuntan Publik (KAP) dan Reputasi KAP terhadap Kualitas Audit : Kasus Rotasi Wajib Auditor di Indonesia
3. AUD_09 Faktor Nonkeuangan pada Opini Going Concern
4. AUD_10 Analisis Empiris Pergantian Kantor Akuntan Publik Setelah Ada Kewajiban Rotasi Audit
5. AUD_11 Pengaruh Independensi, Pengalaman, Due Professional Care dan Akuntabilitas terhadap Kualitas Audit (Studi pada Auditor di KAP “Big Four” di Indonesia)
6. AUD_14 Manajemen Laba Riil dan Berbasis Akrual: Dapatkah Auditor yang Berkualitas Mendeteksinya
7. AUD_15 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Job Satisfaction Auditor dan Hubungannya dengan Performance dan Keinginan Berpindah Kerja Auditor (Perbandingan Pada KAP Besar, KAP Menengah, dan KAP Kecil)
8. AUD_17 Analisis Penggunaan Benford’s Law dalam Perencanaan Audit pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
9. AUD_23 Analisis Penerimaan Auditor atas Dysfunctional Audit Behavior : Sebuah Pendekatan Karakteristik Personal Auditor
10. AUD_28 Pengaruh Tekanan Waktu dan Tindakan Supervisi terhadap Penghentian Prematur atas Prosedur Audit

Jurnal Kelas Internasional

71

AKMEN_05

Corporate Control and Firm Performance :D oes the Type of Owners Matter ?

Muhammad Agung Prabowo

72

AKMEN_22

The Impact of Target Setting on Managerial Motivation and Performance

Amalia Rachma Sari

Muhammad Ja’far S

73

AKPM_14

Strategic Disclosure of Multiple Benchmarks in Earnings Announcements: An Experimental Study of

Investors’ Behavior in Evaluating of Company Performance

Sri Wahyuni

Jogiyanto Hartono

74

AKPM_40

The Effect of Degree Of Convergence to IFRS and Governance System to Accounting Conservatism :Evidence

From Asia

Dr. Ratna Wardhani, SE, Msi.

75

AKPM_56_Q

Financial Reporting Practice as a Ritual :Understanding Accounting within Institutional Framework

Anis Chariri

76

AKPM_84

The Preliminary Study of Accounting Professional’s Perceptions towards IFRS Implementation in Indonesia

Ersa Tri Wahyuni, SE., M.Acc.,CPMA., Ak.

Penny Lay

77

ASP_02

The Analysis of Entrepreneurial Leader on Local Government Performance

Mahmudi

78

AUD_13

The Presence of Earnings Manipulation Incentive as a Prerequisite for the Benefits of Higher-Quality

Audit to be Realized :The Case of Indonesia

Prof. Dr. Zaki Baridwan, Msc.

Arie Rahayu Hariani, MSc

Jurnal Pendidikan Akuntansi

79

PAK_01

Analisis Tingkat Pemahaman Mahasiswa Akuntansi terhadap Konsep Dasar Akuntansi(Studi Empiris Pada

Mahasiswa Akuntansi S1 Uin Suska Riau yang Berasal Dari Latar Belakang Sekolah Menengah yang Berbeda)

Muhammad Sar’i, SE.

Muhammad Irsadsyah, SE.

Nasrullah Djamil, SE., M.Si., Ak.

80

PAK_02

Komitmen Organisasional pada Dosen Akuntansi di Jawa Tengah

Suharno Leonard Sabam Manik

Muchamad Syafruddin

81

PAK_06

Pengaruh Ketersediaan Sarana Pendidikan dan Kecerdasan Emosional terhadap Tingkat Pemahaman IFRS dengan

Minat sebagai Variabel Moderating di Fakultas Ekonomi UNSOED

Nieke H. Widaningrum

Drs. Agung Praptapa, MBA., Ak.

Dra. Permata Ulfah, M.Si., Ak.

82

PAK_07

Kajian tentang Pengaruh Pengembangan Kurikulum Akuntansi terhadap Kompetensi Lulusan Program Studi

Akuntansi(Penelitian pada Auditor Junior Kantor Akuntan Publik di Jakarta)

Agus Sholikhan Yulianto

Lili Sugeng Wiyantoro, SE., M.Si, Akt

83

PAK_10

Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi terhadap Kecerdasan Emosional dengan On-The Job Training Sebagai

Variabel Moderating

Titien Damayanti, SE., M.Si.

84

PAK_11

Pengaruh Pelatihan Logika terhadap Pertimbangan Audit(Sebuah Kuasi Eksperimen)

Lisa Martiah Nila Puspita, SE.MSi,Ak

Yesi Kurniati Putri, SE

85

PAK_15

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat untuk Mengikuti Program Pendidikan Profesi Akuntansi

(PPAk)(Survey pada Mahasiswa dan Alumni Program Studi S1 Universitas X Bandung)

R. Wedi Rusmawan Kusumah

Sri Rahayu, S.E., M.Ak., Ak.

Jurnal Perpajakan

86

PPJK_03

Pengaruh Book-Tax Differences terhadap Peringkat Obligasi di Pasar Kredit Indonesia

Yulianti S.E., M.E

Christine S.E., M.In Tax

Vinna Christina

87

PPJK_04

Penggunaan Komponen-Komponen Pembentuk Pajak Tangguhan dalam Mendeteksi Manajemen Laba :Sebuah

Pendekatan Baru di Indonesia

Yulianti S.E., Ak., MSM

Irreza

88

PPJK_07

Manajemen Laba sebagai Respon Atas Perubahan Tarif Pajak Penghasilan Badan di Indonesia

Subagyo, SE., Ak., MM.

Oktavia, SE.

89

PPJK_09

Konservatisma Akuntansi dan Sengketa Pajak Penghasilan :

Suatu Investigasi Empiris

Dra. Susi Dwimulyani, Ak., MM

90

PPJK_11

Karakteristik Kepemilikan Perusahaan, Corporate Governance, dan Tindakan Pajak Agresif

Dewi Kartika Sari

Dwi Martani

91

PPJK_13

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemauan untuk Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan

Pekerjaan Bebas

(Studi Kasus pada KPP Pratama Gambir Tiga )

Widayati, Nurlis, SE.Ak.Msi

Jurnal Qualitative

92

AKMEN_29_Q

Konstruksi Sosial Pengukur Kinerja Entitas Bisnis :

Studi Kasus UKM di Kudus

Siti Mutmainah SE., M.Si, A.kt

Tri Jatmiko Wahyu Prabowo SE., M.Si, A.kt

Surya Raharja SE., M.Si, Akt

93

AKMEN_30_Q

Pengaruh Budaya dan Sosial Politik terhadap Tampilan Situs Laporan Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan

:

Studi Perbandingan Perusahaan Migas Indonesia dan Perusahaan Migas Amerika Serikat.

Rahmawani

Dwi Hartanti

94

AKPM_76_Q

Tafsir “Keuntungan” bagi Profesi Dokter dengan Pendekatan Hermeneutika Intensionalisme

Dian Purnama Sari, SE., MSA.

95

AKSR_02_Q

Zakat terhadap Aktiva Konsepsi, Aplikasi, dan Perlakuan Akuntansi

Atik Emilia Sula

Prof. Dr. M Nizarul Alim, S.E., M.Si., Ak.

Rahmat Zuhdi, S. E., M.SA., Ak

96

AKSR_03_Q

Reformulasi Akad Pembiayaan Murabahah dengan Sistem Musyarakah sebagai Inovasi Produk Perbankan Syariah

Atik Emilia Sula

97

AKSR_13_Q

Penguatan Sharia Governance melalui Reformasi Akuntansi

Andik S. Dwi Saputro, SE.

98

AKSR_14_Q

The Bottom Line

Andik S. Dwi Saputro, S.E.

99

AKSR_20_Q

Akuntansi Syariah : Tinjauan Kritis Penyajian Zakat (UU No. 38/1999) dalam Pajak Penghasilan Orang

Pribadi (UU No. 17/2000)

Alchudri, MM., CPA

100

ASP_16_Q

Studi Fenomenologi Akuntabilitas Non-Governmental Organization

Ali Fikri

101

ASP_27_Q

Menguak Fenomena Penolakan Pembangunan dengan Daerah Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

:

Sebuah Studi Interpretif

Sopanah, SE., M.Si.

102

PAK_03_Q

Metamorfosis Kesadaran Etis Holistik Mahasiswa Akuntansi Implementasi Pembelajaran Etika Bisnis dan

Profesi Berbasis Integrasi IESQ

Dr. Aji Dedi Mulawarman

Dr. Unti Ludigdo, Ak

103

PAK_12_Q

Tafsir Ujian Komprehensif Menurut Civitas Akademik Universitas Trunojoyo

(Studi Interpretif)

Aprillia Dwi Utami

Robiatul Auliyah

Nurul Herawati, S.E., M.Si

104

PAK_13_Q

Tafsir Perilaku Etis Menurut Mahasiswa Akuntansi Berbasis Gender

Riza Sofia Nova Sari

Rahmat Zuhdi

Nurul Herawati, S.E., M.Si

105

PAK_14_Q

Pemetaan Perilaku Mahasiswa Ekonomi Ditinjau dari Perspektif Etika Teleologi (Studi Intepretif)

Silvia Syahraini Rifa

Robiatul Auliyah

Anis Wulandari

Jurnal Sistem Informasi Akuntansi

1. SIA_02 Adaptasi Model Delone & Mclean yang Dimodifikasi Guna Menguji Keberhasilan Implementasi SoftwareAkuntansi Bagi Individu Pengguna: Studi Empiris pada Perusahaan dalam Industri Barang Konsumsi yangTerdaftar di BEI
2. SIA_03 Pengelolaan Knowledge Management Capability dalam Memediasi Dukungan Information Technology Relatedness terhadap Kinerja Perusahaan: Pendekatan Reflective Second Order Factor (Penelitian terhadap Perusahaan Perbankan di Jawa Tengah)
3. SIA_06 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengendalian Diri Akuntan dan Pengaruhnya Kepada Kekhawatiran Persepsian melalui Risiko Persepsian Akuntan dalam Situs Jejaring Sosial
4. SIA_09 Pemrediksian Peningkatan Manfaat Penggunaan Situs Pajak: Model Kesuksesan Sistem dengan Pengindusian Orientasi Tujuan Pembelajaran dan Norma Subyektif
Read more >>

Senin, 06 Juni 2011

Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya, Artikel Komunikasi Lintas budaya

Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya, Artikel Komunikasi Lintas budaya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Tentang SDLB Kab. Bangkalan
4.1.1 Lokasi dan Lingkungan Sekitar
Sekolah Dasar Luar Biasa merupakan sekolah luar biasa khusus untuk anak-anak penyandang cacat tuna rungu, terletak di Jalan Trunojoyo (setelah pom bensin socah) SDLB Kab. Bangkalan. Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal

4.1.2 Sejarah Singkat SDLB Kab. Bangkalan
SDLB Kab. Bangkalan berdiri pada tanggal 19 September 1969. Berdirinya SDLB Kab. Bangkalan berawal darikegiatan belajar mengajar yang terdiri dari anak-anak gelandangan yang bertempat di Kantor Sosial Kab. Bangkalan, seiring dengan berjalannya waktu SDLB Kab. Bangkalan juga menerima anak-anak cacat tuna rungu atau tuna wicara. Kegiatan belajar mengajar ini Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya ditangani oleh guru SD sebanyak 5 orang yaitu: Bp Marsuki, Bp Subandi, Bapak Suparto, Ibu Ristamsi, dan Ibu Surtinah. Tanggal 12 Mei 1975 SDLB Kab. Bangkalan menempati gedung baru dengan sarana dan prasarana seadanya 1 gedung 3 ruang yaitu: satu untuk ruang kantor dan dua untuk ruang kelas. Maksud dan tujuan menempati gedung baru yaitu supaya dapat menyelenggarakan, membina dan mengembangkan pendidikan secara khusus bagi anak-anak yang mengalami hambatan belajar karena kurangnya daya dengar, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, sehingga mereka dapat menikmati kesempurnaan belajar. Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya Tahap demi tahap yayasan mendapatkan bantuan sehingga dapat membangun gedung kelas dan gedung asrama, hingga keadaan sampai sekarang.

4.1.3 Kondisi Siswa SDLB Kab. Bangkalan
Siswa SDLB Kab. Bangkalan pada tahun pelajaran 2009/2010 berjumlah 22 orang dengan perincian sebagai berikut: kelas persiapanada lima orang, kelas 1 ada tiga orang, kelas 2 ada Enam orang, kelas 3 ada empat orang, kelas 4 ada lima orang, kelas 5 tidak ada, kelas 6 tidak ada. Secara lebih rinci keadaan siswa SDLB Kab. Bangkalan tahun pelajaran 2009/2010. Dari 23 anak, mereka berasal dari kota Bangkalan dengan kondisi perekonomian keluarga yang beraneka ragam dari pekerjaan orang tua bermacam-macam pula dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas, dari buruh, pegawai, guru, pedagang, maupun wiraswasta.

4.1.4 Kondisi Guru SDLB Kab. Bangkalan
Tenaga pengajar di SDLB Kab. Bangkalan berjumlah delapan orang,terdiri dari seorang kepala sekolah, empat guru DPK artinya guru PNS yang diperbantukan di SDLB Kab. Bangkalan, dan tiga guru yang diangkat oleh yayasan. Tiga orang guru SDLB Kab. Bangkalan berpendidikan SGPLB-B, tiga orang lagi berpendidikan S1-PKH, dan dua orang berpendidikan SGPLB-C. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal

4.1.5 Prestasi yang Pernah Diraih
Kecacatan bukanlah suatu halangan untuk meraih prestasi tetapi justru mendorong
dan memacu untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Prestasi yang pernah diraih SDLB Kab. Bangkalan selama tiga tahun terakhir di bidang olah raga, patut dibanggakan karena mereka tidak kalah dengan anak-anak normal.

4.2 Makna Komunikasi Non Verbal Pada Anak Tunarungu
4.2.1 Komunikasi Non Verbal
Komunikasi Non Verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata, komunikasi ini menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, intonasi nada (tinggi-rendahnya nada), kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan-sentuhan. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal
Salah satu cara mendefinisikan komunikasi non verbal adalah Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya berdasarkan kategori sebagai berikut:
a.Proksemik
Proksemik merupakan penyampaikan pesan-pesan melalui pengaturan jarak dan ruang. Manusia mempunyai wilayah-wilayah atau zona dalam berkomunikasi, wilayah juga berarti daerah atau ruang yang rang klaim sebagai miliknya, yang seolah-olah merupakan perluasan dari tubuhnya,
b.Kinesik
Kinesik merupakan penyampaikan pesan-pesan yang menggunakan gerakan gerakan tubuh yang berarti yang meliputi mimik wajah, mata (lirikan-lirikan), gerakan-gerakan tangan dan yang terakhir keseluruhan anggota amribadan (tegap, lemah gemulai dan sebagainya). Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Dalam budaya jawa komunikasi non verbal sangat kental dilakukan terutama untuk menghormati orang, atau orang yang lebih tua, semisal gerakan komunikasi yang dilakukan antara atasan Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya dan bawahan atau abdi di mana bawahan atau abdi cenderung amri untuk menunduk dan merunduk untuk menunjukkan bahwa posisinya tidak lebih tinggi dari tuannya yang diajak bicara.
c. Khronemik
Khronemik adalah srudi mengenai penggunaan kita akan konteks waktu. Ide mengenai kelinearan waktu telah diterima secara luas oleh masyarakat manapun bahkan agama manapun, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, hal ini kemudian melahirkan beberapa istilah sepertti masa lalu, saat ini dan masa depan yang merupakan suatu urutan yang tidak dapat dibalik.
4.2.2 Tunarungu
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya, Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB), Gangguan pendengaran ringan(41-55dB), Gangguan pendengaran sedang(56-70dB), Gangguan pendengaran berat(71-90dB), Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB). Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi amri dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak. Anak dengan gangguan pendengaran (tuna rungu) seringkali menimbulkan masalah tersendiri.
Berdasar uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa anak tuna rungu adalah individu yang mengalami gangguan pendengaran dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian, amri baik dengan derajat frekuensi dan intensitas sehingga anak mengalami kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengaran, dengan atau tanpa alat bantu.

► Oleh karena anak penyandang cacat tuna rungu tidak bisa bicara dan mendengar mereka menggunakan komunikasi non verbal, komunikasi non verbal dipelajari dan diajarkan di SDLB Kab. Bangkalan. Seperti halnya Isyarat Jari, dalam isyarat jari ada simbol dan arti tertentu. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Isyarat jari itulah bahasa non verbal yang digunakan dalam penyampaian pesan penyandang cacat tunarungu. Mengajar anak dengan dan tanpa tunarungu di kelas yang sama sering kali menjadi satu cara masyarakat dalam amri mendidik anak tunarungu. Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya, Akan tetapi penulis sangat kagum dan salut terhadap kegigihan dan semangat yang tinggi oleh siswa SDLB Kab. Bangkalan. Meskipun mereka menyandang cacat tapi untuk belajar mereka tidak mau kalah dengan yang lain. Maka dari itu pemerintah harus lebih memperhatikan keberadaan SDLB Kab. Bangkalan yang di dalamnya terdapat tunas-tunas bangsa yang siap memajukan bangsa ini. Maka dari itu awal atau dasar dari anak tunarungu adalah bahasa komunikasi non verbal. Penting juga mempersiapkan yang lainnya di sekolah seperti para guru dan murid lainnya tentang tunarungu dan tentang bagaimana cara anak ini belajar adalah dengan melihat sebaik-baiknya. Dengan cara ini semua orang di sekolah dapat bersiap menyambut anak-anak tunarungu. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, SDLB Kab. Bangkalan mengajarkan bahasa isyarat kepada semua orang dengan demikian anak tunarungu tidak ada yang tertinggal.

4.3 Hambatan Anak Tuna Rungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal
Dari hasil pengamatan dan hasil wawancara dalam penelitian ini peneliti sengaja mengambil permasalahan tentang Hambatan Anak Tuna Rungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal. Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mengadakan wawancara kepada Kepala Sekolah, guru bidang studi, dan orang tua siswa masingmasing. Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya, Di sekolah tersebut ada Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal mata pelajaran amri yang memberikan pengajaran tentang Isyarat Jari juga sering diajarkan, bahkan mungkin setiap hari. Dari Ibu Kepala Sekolah sangat antusias dan senang kalau peneliti terjun langsung melihat cara guru mengajar di SDLB Kab. Bangkalan. Penulis juga melakukan awancara dengan orang tua siswa merasa terharu dan bangga anaknya bisa mengikuti pelajaran dengan seperti halnya anak normal. Dari hasil wawancara langsung peneliti dengan siswa, sebagian suka dengan pelajaran yang menerangkan bahasa isyarat akan tetapi penerapannya amri agak susah karena. Motivasi dan kesabaran sangat diutamakan dalam pembelajaran bahasa Isyarat bagi anak cacat yaitu siswa SDLB Kab. Bangkalan. Motivasi terus diberikan hal ini sebagai pendorong minat siswa dalam mempelajari isyarat jari. Kesabaran seorang guru Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, dalam membimbing siswa akan lebih memberi nilai arti lebih bagi diri siswa untuk tidak malu dan mampu memperlihatkan dirinya tidak kalah dengan yang normal. Dukungan guru-guru lain dan Kepala Sekolah menambah keberanian amri siswa dalam berlatih. Dorongan dan kasih sayang orang tua yang selalu mengiringi anaknya menatap masa depan. Kemampuan guru dalam meggunakan metode mengajar yaitu dengan cara mengkombinasikan beberapa metode yang tepat dan sesuai dengan materi yang dapat mendukung dalam proses belajar mengajar. Keberhasilan dalam melaksanakan suatu pengajaran sebagian besar ditentukan oleh pilihan bahan dan pemakaian metode yang tepat, penggunaan metode yang tepat dan sesuai tersebut dikarenakan pengalaman guru yang lebih dari 15 tahun dalam kegiatan mengajar di SDLB.Kesulitan belajar bagi siswa yang kurang karena kecacatan yang jelas terlihat yaitu tuna rungu, sehingga siswa terhambat dalam pendengaran. Kesulitan guru pun juga tampak karena guru sudah menyampaikan materi tapi siswa belum tentu bisa menangkap apa yang diajarkan guru, karena terhambat dalam pendengaran. Oleh karena itu, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, guru harus menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa komunikasi atau penyampaian materi, akan tetapi sebagian kecil siswa SDLB Kab. Bangkalan susah untuk menerapkan isyarat jari. Dalam hal ini peneliti terjun langsung melihat cara guru mengajar Sragen. Kesulitan guru dalam mengajar tari terlihat jelas misalnya: denganjelas siswa yang diajar adalah Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya, anak-anak cacat tuna rungu maka dalam menerima pelajaran tidak bisa menangkap dengan cepat karena siswa terhambat amri dalam pendengaran, jadi dalam penyampaian materi guru harus mengulang-ulang materi yang disampaikan ke siswa sampai siswa benar-benar bisa. Siswa yang sulit menerima pelajaran, maka guru itu pun juga ikut sulit dalam menyampaikan materi, dalam penyampaian materi guru memberi contoh di depan dan siswa mengikuti, setelah itu guru baru memperbaiki gerakan anak satu persatu. Bagi anak yang cacat pendengarannya total maka guru harus sabar dan berulang-ulang mengajarnya karena materi yang disampaikan guru belum tentu anak itu langsung bisa menerima pelajaran. Kesulitan guru dalam menyampaikan materi adalah guru sudah melakukan semaksimal mungkin menyampaikan materi pelajaran,tetapi siswa tidak memperhatikan maka guru
harus mengulang lagi pelajaran itu. Kesulitan mengajar bagi guru merupakan suatu tantangan dalam menyampaikan materi supaya anak tetap mau menghafal isyarat jari yang diajarkan demi terciptanya komunikasi yang lancar antara guru dan murid. Penyandang cacat fisik pada umumnya juga banyak menghadapi tantangan yang berat daripada orang normal, karena penyandang cacat fisik mau tidak mau harus menyesuaikan diri terhadap kecacatan yang dialaminya. Kesulitan dan hambatan sangat dirasakan bagi anak yang cacat. Sulit menyesuaikan diri amri, sulit berteman dan sulit menerima pelajaran. Kesulitan guru dalam mengajar dapat diatasi dengan kesabaran dan
memberi contoh berulang-ulang dan memberi dorongan atau sanjungan kepada siswa, begitu pula bagi siswa, siswa bersemangat atau percaya diri bila orang-orang terdekatnya memberikan dorongan atau support.

Analisis saya tentang penelitian tersebut.
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal
Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.

Kesimpulan
Komunikasi non Verbal mempunyai kekuatan yang penting untuk menyampaikan pesan-pesan. Khususnya dalam penelitian yang penulis teliti di lapangan bertempat di SDLB Kab. Bangkalan, komunikasi Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya non verbal sangat penting bagi anak penyandang cacat tuna rungu khususnya di SDLB Kab. Bangkalan. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Komunikasi non verbal bagi anak tunarungu mempunyai banyak arti. Dalam konteks tersebut komunikasi non verbal bisa dilakukan dengan isyarat jari, ekspresi wajah, gerakan tangan serta bahasa tubuh dan masih banyak komunikasi non verbal lainnya yang sering digunakan anak penyandang cacat tunarungu.
Penyandang cacat tuna rungu tidak bisa bicara dan mendengar mereka menggunakan komunikasi non verbal, komunikasi non verbal dipelajari dan diajarkan di SDLB Kab. Bangkalan. Seperti halnya Isyarat Jari, dalam isyarat jari ada simbol dan arti tertentu. Isyarat jari itulah bahasa non verbal yang digunakan dalam penyampaian pesan penyandang cacat tunarungu.

Saran
Kesulitan yang dialami oleh guru dalam di SDLB Kab. Bangkalan meliputi siswa tidak memperhatikan Artikel hasil penelitian Komunikasi Lintas budaya pelajaran karena daya dengar siswa yang kurang. Oleh karena itu, pmbelajaran tidak dapat berjalan secara efektif. Para siswa juga sangat lambat dalam menerapkan komunikasi non verbal dalam bahasa menggunakan isyarat jari, akan tetapi para guru di SDLB Kab. Bangkalan tetap semangat memberi motivasi. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal Makna Komunikasi non verbal pada anak tuna rungu sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari agar para siswa dapat berkomunikasi dengan lancar. Komunikasi non verbal adalah bahasa utama para siswa SDLB Kab. Bangkalan untuk menyampaikan pesan pada komunikan. Komunikasi non verbal adalah satu-satunya alat untuk mengantarkan para siswa di gerbang kesuksesan, bukan berarti mereka penyandang cacat tunarungu akan tetapi mereka tidak bisa sukses selayaknya orang normal. Malah sebaliknya banyak penyandang cacat sukses meraih masa depannya.
Maka dari itu pemerintah harus lebih memperhatikan keberadaan SDLB Kab. Bangkalan yang di dalamnya terdapat tunas-tunas bangsa yang siap memajukan bangsa ini. Maka dari itu awal atau dasar dari anak tunarungu adalah bahasa komunikasi non verbal. Penting juga mempersiapkan yang lainnya di sekolah seperti para guru dan murid lainnya tentang tunarungu dan tentang bagaimana cara anak ini belajar adalah dengan melihat sebaik-baiknya. Dengan cara ini semua orang di sekolah dapat bersiap amri menyambut anak-anak tunarungu. SDLB Kab. Bangkalan mengajarkan bahasa isyarat kepada semua orang dengan demikian anak tunarungu tidak ada yang tertinggal.

Referensi:
Read more >>

Minggu, 05 Juni 2011

Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal Pada Anak Tunarungu

Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal Pada Anak Tunarungu.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Tentang SDLB Kab. Bangkalan
4.1.1 Lokasi dan Lingkungan Sekitar
Sekolah Dasar Luar Biasa merupakan sekolah luar biasa khusus untuk anak-anak penyandang cacat tuna rungu, terletak di Jalan Trunojoyo (setelah pom bensin socah) SDLB Kab. Bangkalan. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal

4.1.2 Sejarah Singkat SDLB Kab. Bangkalan
SDLB Kab. Bangkalan berdiri pada tanggal 19 September 1969. Berdirinya SDLB Kab. Bangkalan berawal darikegiatan belajar mengajar yang terdiri dari anak-anak gelandangan yang bertempat di Kantor Sosial Kab. Bangkalan, seiring dengan berjalannya waktu SDLB Kab. Bangkalan juga menerima anak-anak cacat tuna rungu atau tuna wicara. Kegiatan belajar mengajar ini ditangani oleh guru SD sebanyak 5 orang yaitu: Bp Marsuki, Bp Subandi, Bapak Suparto, Ibu Ristamsi, dan Ibu Surtinah. Tanggal 12 Mei 1975 SDLB Kab. Bangkalan menempati gedung baru dengan sarana dan prasarana seadanya 1 gedung 3 ruang yaitu: satu untuk ruang kantor dan dua untuk ruang kelas. Maksud dan tujuan menempati gedung baru yaitu supaya dapat menyelenggarakan, membina dan mengembangkan pendidikan secara khusus bagi anak-anak yang mengalami hambatan belajar karena kurangnya daya dengar, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, sehingga mereka dapat menikmati kesempurnaan belajar. Tahap demi tahap yayasan mendapatkan bantuan sehingga dapat membangun gedung kelas dan gedung asrama, hingga keadaan sampai sekarang.

4.1.3 Kondisi Siswa SDLB Kab. Bangkalan
Siswa SDLB Kab. Bangkalan pada tahun pelajaran 2009/2010 berjumlah 22 orang dengan perincian sebagai berikut: kelas persiapanada lima orang, kelas 1 ada tiga orang, kelas 2 ada Enam orang, kelas 3 ada empat orang, kelas 4 ada lima orang, kelas 5 tidak ada, kelas 6 tidak ada. Secara lebih rinci keadaan siswa SDLB Kab. Bangkalan tahun pelajaran 2009/2010. Dari 23 anak, mereka berasal dari kota Bangkalan dengan kondisi perekonomian keluarga yang beraneka ragam dari pekerjaan orang tua bermacam-macam pula dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas, dari buruh, pegawai, guru, pedagang, maupun wiraswasta.

4.1.4 Kondisi Guru SDLB Kab. Bangkalan
Tenaga pengajar di SDLB Kab. Bangkalan berjumlah delapan orang,terdiri dari seorang kepala sekolah, empat guru DPK artinya guru PNS yang diperbantukan di SDLB Kab. Bangkalan, dan tiga guru yang diangkat oleh yayasan. Tiga orang guru SDLB Kab. Bangkalan berpendidikan SGPLB-B, tiga orang lagi berpendidikan S1-PKH, dan dua orang berpendidikan SGPLB-C. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal

4.1.5 Prestasi yang Pernah Diraih
Kecacatan bukanlah suatu halangan untuk meraih prestasi tetapi justru mendorong
dan memacu untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Prestasi yang pernah diraih SDLB Kab. Bangkalan selama tiga tahun terakhir di bidang olah raga, patut dibanggakan karena mereka tidak kalah dengan anak-anak normal.

4.2 Makna Komunikasi Non Verbal Pada Anak Tunarungu
4.2.1 Komunikasi Non Verbal
Komunikasi Non Verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata, komunikasi ini menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, intonasi nada (tinggi-rendahnya nada), kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan-sentuhan. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal
Salah satu cara mendefinisikan komunikasi non verbal adalah berdasarkan kategori sebagai berikut:
a.Proksemik
Proksemik merupakan penyampaikan pesan-pesan melalui pengaturan jarak dan ruang. Manusia mempunyai wilayah-wilayah atau zona dalam berkomunikasi, wilayah juga berarti daerah atau ruang yang rang klaim sebagai miliknya, yang seolah-olah merupakan perluasan dari tubuhnya,
b.Kinesik
Kinesik merupakan penyampaikan pesan-pesan yang menggunakan gerakan gerakan tubuh yang berarti yang meliputi mimik wajah, mata (lirikan-lirikan), gerakan-gerakan tangan dan yang terakhir keseluruhan anggota amribadan (tegap, lemah gemulai dan sebagainya). Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Dalam budaya jawa komunikasi non verbal sangat kental dilakukan terutama untuk menghormati orang, atau orang yang lebih tua, semisal gerakan komunikasi yang dilakukan antara atasan dan bawahan atau abdi di mana bawahan atau abdi cenderung amri untuk menunduk dan merunduk untuk menunjukkan bahwa posisinya tidak lebih tinggi dari tuannya yang diajak bicara.
c. Khronemik
Khronemik adalah srudi mengenai penggunaan kita akan konteks waktu. Ide mengenai kelinearan waktu telah diterima secara luas oleh masyarakat manapun bahkan agama manapun, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, hal ini kemudian melahirkan beberapa istilah sepertti masa lalu, saat ini dan masa depan yang merupakan suatu urutan yang tidak dapat dibalik.
4.2.2 Tunarungu
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB), Gangguan pendengaran ringan(41-55dB), Gangguan pendengaran sedang(56-70dB), Gangguan pendengaran berat(71-90dB), Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB). Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi amri dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak. Anak dengan gangguan pendengaran (tuna rungu) seringkali menimbulkan masalah tersendiri.
Berdasar uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa anak tuna rungu adalah individu yang mengalami gangguan pendengaran dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian, amri baik dengan derajat frekuensi dan intensitas sehingga anak mengalami kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengaran, dengan atau tanpa alat bantu.

► Oleh karena anak penyandang cacat tuna rungu tidak bisa bicara dan mendengar mereka menggunakan komunikasi non verbal, komunikasi non verbal dipelajari dan diajarkan di SDLB Kab. Bangkalan. Seperti halnya Isyarat Jari, dalam isyarat jari ada simbol dan arti tertentu. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Isyarat jari itulah bahasa non verbal yang digunakan dalam penyampaian pesan penyandang cacat tunarungu. Mengajar anak dengan dan tanpa tunarungu di kelas yang sama sering kali menjadi satu cara masyarakat dalam amri mendidik anak tunarungu. Akan tetapi penulis sangat kagum dan salut terhadap kegigihan dan semangat yang tinggi oleh siswa SDLB Kab. Bangkalan. Meskipun mereka menyandang cacat tapi untuk belajar mereka tidak mau kalah dengan yang lain. Maka dari itu pemerintah harus lebih memperhatikan keberadaan SDLB Kab. Bangkalan yang di dalamnya terdapat tunas-tunas bangsa yang siap memajukan bangsa ini. Maka dari itu awal atau dasar dari anak tunarungu adalah bahasa komunikasi non verbal. Penting juga mempersiapkan yang lainnya di sekolah seperti para guru dan murid lainnya tentang tunarungu dan tentang bagaimana cara anak ini belajar adalah dengan melihat sebaik-baiknya. Dengan cara ini semua orang di sekolah dapat bersiap menyambut anak-anak tunarungu. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, SDLB Kab. Bangkalan mengajarkan bahasa isyarat kepada semua orang dengan demikian anak tunarungu tidak ada yang tertinggal.

4.3 Hambatan Anak Tuna Rungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal
Dari hasil pengamatan dan hasil wawancara dalam penelitian ini peneliti sengaja mengambil permasalahan tentang Hambatan Anak Tuna Rungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal. Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mengadakan wawancara kepada Kepala Sekolah, guru bidang studi, dan orang tua siswa masingmasing. Di sekolah tersebut ada Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal mata pelajaran amri yang memberikan pengajaran tentang Isyarat Jari juga sering diajarkan, bahkan mungkin setiap hari. Dari Ibu Kepala Sekolah sangat antusias dan senang kalau peneliti terjun langsung melihat cara guru mengajar di SDLB Kab. Bangkalan. Penulis juga melakukan awancara dengan orang tua siswa merasa terharu dan bangga anaknya bisa mengikuti pelajaran dengan seperti halnya anak normal. Dari hasil wawancara langsung peneliti dengan siswa, sebagian suka dengan pelajaran yang menerangkan bahasa isyarat akan tetapi penerapannya amri agak susah karena. Motivasi dan kesabaran sangat diutamakan dalam pembelajaran bahasa Isyarat bagi anak cacat yaitu siswa SDLB Kab. Bangkalan. Motivasi terus diberikan hal ini sebagai pendorong minat siswa dalam mempelajari isyarat jari. Kesabaran seorang guru Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, dalam membimbing siswa akan lebih memberi nilai arti lebih bagi diri siswa untuk tidak malu dan mampu memperlihatkan dirinya tidak kalah dengan yang normal. Dukungan guru-guru lain dan Kepala Sekolah menambah keberanian amri siswa dalam berlatih. Dorongan dan kasih sayang orang tua yang selalu mengiringi anaknya menatap masa depan. Kemampuan guru dalam meggunakan metode mengajar yaitu dengan cara mengkombinasikan beberapa metode yang tepat dan sesuai dengan materi yang dapat mendukung dalam proses belajar mengajar. Keberhasilan dalam melaksanakan suatu pengajaran sebagian besar ditentukan oleh pilihan bahan dan pemakaian metode yang tepat, penggunaan metode yang tepat dan sesuai tersebut dikarenakan pengalaman guru yang lebih dari 15 tahun dalam kegiatan mengajar di SDLB.Kesulitan belajar bagi siswa yang kurang karena kecacatan yang jelas terlihat yaitu tuna rungu, sehingga siswa terhambat dalam pendengaran. Kesulitan guru pun juga tampak karena guru sudah menyampaikan materi tapi siswa belum tentu bisa menangkap apa yang diajarkan guru, karena terhambat dalam pendengaran. Oleh karena itu, Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, guru harus menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa komunikasi atau penyampaian materi, akan tetapi sebagian kecil siswa SDLB Kab. Bangkalan susah untuk menerapkan isyarat jari. Dalam hal ini peneliti terjun langsung melihat cara guru mengajar Sragen. Kesulitan guru dalam mengajar tari terlihat jelas misalnya: denganjelas siswa yang diajar adalah anak-anak cacat tuna rungu maka dalam menerima pelajaran tidak bisa menangkap dengan cepat karena siswa terhambat amri dalam pendengaran, jadi dalam penyampaian materi guru harus mengulang-ulang materi yang disampaikan ke siswa sampai siswa benar-benar bisa. Siswa yang sulit menerima pelajaran, maka guru itu pun juga ikut sulit dalam menyampaikan materi, dalam penyampaian materi guru memberi contoh di depan dan siswa mengikuti, setelah itu guru baru memperbaiki gerakan anak satu persatu. Bagi anak yang cacat pendengarannya total maka guru harus sabar dan berulang-ulang mengajarnya karena materi yang disampaikan guru belum tentu anak itu langsung bisa menerima pelajaran. Kesulitan guru dalam menyampaikan materi adalah guru sudah melakukan semaksimal mungkin menyampaikan materi pelajaran,tetapi siswa tidak memperhatikan maka guru
harus mengulang lagi pelajaran itu. Kesulitan mengajar bagi guru merupakan suatu tantangan dalam menyampaikan materi supaya anak tetap mau menghafal isyarat jari yang diajarkan demi terciptanya komunikasi yang lancar antara guru dan murid. Penyandang cacat fisik pada umumnya juga banyak menghadapi tantangan yang berat daripada orang normal, karena penyandang cacat fisik mau tidak mau harus menyesuaikan diri terhadap kecacatan yang dialaminya. Kesulitan dan hambatan sangat dirasakan bagi anak yang cacat. Sulit menyesuaikan diri amri, sulit berteman dan sulit menerima pelajaran. Kesulitan guru dalam mengajar dapat diatasi dengan kesabaran dan
memberi contoh berulang-ulang dan memberi dorongan atau sanjungan kepada siswa, begitu pula bagi siswa, siswa bersemangat atau percaya diri bila orang-orang terdekatnya memberikan dorongan atau support.

Analisis saya tentang penelitian tersebut.
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal
Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.

Kesimpulan
Komunikasi non Verbal mempunyai kekuatan yang penting untuk menyampaikan pesan-pesan. Khususnya dalam penelitian yang penulis teliti di lapangan bertempat di SDLB Kab. Bangkalan, komunikasi non verbal sangat penting bagi anak penyandang cacat tuna rungu khususnya di SDLB Kab. Bangkalan. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal, Komunikasi non verbal bagi anak tunarungu mempunyai banyak arti. Dalam konteks tersebut komunikasi non verbal bisa dilakukan dengan isyarat jari, ekspresi wajah, gerakan tangan serta bahasa tubuh dan masih banyak komunikasi non verbal lainnya yang sering digunakan anak penyandang cacat tunarungu.
Penyandang cacat tuna rungu tidak bisa bicara dan mendengar mereka menggunakan komunikasi non verbal, komunikasi non verbal dipelajari dan diajarkan di SDLB Kab. Bangkalan. Seperti halnya Isyarat Jari, dalam isyarat jari ada simbol dan arti tertentu. Isyarat jari itulah bahasa non verbal yang digunakan dalam penyampaian pesan penyandang cacat tunarungu.

Saran
Kesulitan yang dialami oleh guru dalam di SDLB Kab. Bangkalan meliputi siswa tidak memperhatikan pelajaran karena daya dengar siswa yang kurang. Oleh karena itu, pmbelajaran tidak dapat berjalan secara efektif. Para siswa juga sangat lambat dalam menerapkan komunikasi non verbal dalam bahasa menggunakan isyarat jari, akan tetapi para guru di SDLB Kab. Bangkalan tetap semangat memberi motivasi. Artikel hasil penelitian Makna Komunikasi Non Verbal Makna Komunikasi non verbal pada anak tuna rungu sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari agar para siswa dapat berkomunikasi dengan lancar. Komunikasi non verbal adalah bahasa utama para siswa SDLB Kab. Bangkalan untuk menyampaikan pesan pada komunikan. Komunikasi non verbal adalah satu-satunya alat untuk mengantarkan para siswa di gerbang kesuksesan, bukan berarti mereka penyandang cacat tunarungu akan tetapi mereka tidak bisa sukses selayaknya orang normal. Malah sebaliknya banyak penyandang cacat sukses meraih masa depannya.
Maka dari itu pemerintah harus lebih memperhatikan keberadaan SDLB Kab. Bangkalan yang di dalamnya terdapat tunas-tunas bangsa yang siap memajukan bangsa ini. Maka dari itu awal atau dasar dari anak tunarungu adalah bahasa komunikasi non verbal. Penting juga mempersiapkan yang lainnya di sekolah seperti para guru dan murid lainnya tentang tunarungu dan tentang bagaimana cara anak ini belajar adalah dengan melihat sebaik-baiknya. Dengan cara ini semua orang di sekolah dapat bersiap amri menyambut anak-anak tunarungu. SDLB Kab. Bangkalan mengajarkan bahasa isyarat kepada semua orang dengan demikian anak tunarungu tidak ada yang tertinggal.

Referensi:
Read more >>

Penipuan dan Teknik Penyalahgunaan Komputer “Pengelabuhan (Phising)”.

Penipuan dan Teknik Penyalahgunaan Komputer “Pengelabuhan (Phising)”.
Pengelabuan (Phising) dan Rekayasa sosial (Social engineering)

Dalam artikel penipuan dan penyalahgunaan computer kali ini, pengelabuhan atau dalam bahasa inggrisnya phising dan rekayasa social atau social engineering akan dibahas dalam satu judul mengingat kedua bentuk kegiatan tersebut masih dapat dikatakan saling berhubungan.

Dalam komputer, pengelabuan (Inggris: phishing) adalah suatu bentuk penipuan yang dicirikan dengan percobaan untuk mendapatkan informasi peka, seperti kata sandi dan kartu kredit, dengan menyamar sebagai orang atau bisnis yang tepercaya dalam sebuah komunikasi elektronik resmi, seperti surat elektronik atau pesan instan. Istilah phishing dalam bahasa Inggris berasal dari kata fishing (‘memancing’), dalam hal ini berarti memancing informasi keuangan dan kata sandi pengguna. Dalam pengertian lain Phising , adalah tindakan memperoleh informasi pribadi seperti User ID, PIN, nomor rekening bank, nomor kartu kredit secara tidak sah.

Sedangkan Social engineering adalah pemerolehan informasi atau maklumat rahasia/sensitif dengan cara menipu pemilik informasi tersebut. Social Engineering adalah salah satu seni memanfaatkan kemampuan interaksi sosial untuk mendapatkan informasi penting berhubungan dengan keamanan informasi. Dalam keamanan komputer, rekayasa sosial adalah istilah yang menggambarkan jenis yang non-teknis dari intrusi yang sangat bergantung pada interaksi manusia dan sering melibatkan menipu orang lain untuk mematahkan prosedur keamanan normal.

Tentu kita masih mengingat Dulu pernah ada kasus dimana ada yang mencoba membuat situs BCA tiruan dengan menggunakan alamat situs yang terkesan milik BCA namun aspal. Situs aspal itu tentu tampilannya tak jauh beda dengan situs BCA asli, namun bedanya ternyata situs ini mampu menyimpan data login dan password dari orang-orang yang tidak sengaja nyasar ke situs itu. Dan benar saja, dalam sehari situs gadungan itu telah menyimpan ratusan data dari para nasabah BCA. Meski hanya bersifat percobaan, namun ternyata dampaknya cukup luar biasa. Akhirnya pihak BCA memperbaiki kembali sistem keamanannya dengan KeyBCA dan menutup sejumlah situs-situs yang berpotensi menjadi web phising. Ini lah salah satu contoh bentuk tindakan phising. Informasi ini kemudian akan dimanfaatkan oleh pihak penipu untuk mengakses rekening, melakukan penipuan kartu kredit atau memandu nasabah untuk melakukan transfer ke rekening tertentu dengan iming-iming hadiah. Sedangkan web phising memanfaatkan teknologi informasi internet untuk memperoleh data penting.

Aksi ini semakin marak terjadi. Tercatat secara global, jumlah penipuan bermodus phising melonjak dari tahun ke tahun. Anti-Phishing Working Group (APWG) dalam laporan bulanannya, mencatat. Ada 12.845 e-mail baru dan unik serta 2.560 situs palsu yang digunakan sebagai sarana phishing.

Selain terjadi peningkatan kuantitas, kualitas serangan pun juga mengalami kenaikan. Artinya, situs-situs palsu itu ditempatkan pada server yang tidak menggunakan protokol standar sehingga terhindar dari pendeteksian.

Bagaimana phishing dilakukan?

Teknik umum yang sering digunakan oleh penipu adalah sebagai berikut:

* Penggunaan alamat e-mail palsu dan grafik untuk menyesatkan Nasabah sehingga Nasabah terpancing menerima keabsahan e-mail atau web sites. Agar tampak meyakinkan, pelaku juga seringkali memanfaatkan logo atau merk dagang milik lembaga resmi, seperti; bank atau penerbit kartu kredit. Pemalsuan ini dilakukan untuk memancing korban menyerahkan data pribadi, seperti; password, PIN dan nomor kartu kredit
* Membuat situs palsu yang sama persis dengan situs resmi.atau . pelaku phishing mengirimkan e-mail yang berisikan link ke situs palsu tersebut.
* Membuat hyperlink ke web-site palsu atau menyediakan form isian yang ditempelkan pada e-mail yang dikirim.

Aksi phising ini tidak hanya menipu para pemilik rekening aja, tapi juga sudah pada taraf menyerang account e-mail gratis semacam Yahoo!, Friendster, bahkan facebook. Dan caranya pun cukup sederhana, cukup membuat halaman situs palsu dan mengubah login dengan kode-kode tertentu di kode html yang mampu menyimpan data yang baru saja ditulis.

Beberapa bulan terakhir, Facebook yang merupakan social network (jejaring sosial) terbesar sering mendapat phising baik itu dari email, IM seperti yahoo messenger, maupun dari pesan dari contact list facebook sendiri.

Facebook yang notabene memiliki pengunjung ratusan juta orang tentunya membuat para hacker beraksi dengan teknik phisingnya. Seperti kita ketahui sekarang ini marak terjadi pencurian data pribadi dari user facebook. Teknik facebook login phising yaitu teknik yang dilakukan dengan membuat sebuah halaman palsu yang sangat mirip dengan halaman asli facebook yang bilamana anda memasukkan akun login anda bersama passwordnya maka otomatis data anda akan langsung sampai ke pelaku hacker.

Facebook login adalah masalah yang sering dialami orang-orang, sama halnya dengan berbagi macam situs lainnya. Bukan hanya masalah lupa username dan lupa password tetapi juga berkembangnya situs phising yang menginginkan akun Facebook orang lain dihack sehingga setiap layanan website berupaya untuk mengatasinya.

Biasanya si pelaku memancing korbannya untuk masuk ke website yang dibuat mirip dengan website aslinya. Pada website palsu itu, si pelaku telah menaruh box username dan password dan meminta korban untuk login. Jadi di sini si pelaku melakukan penipuan login atau biasa di sebut fake login.

Bagaimana kita tahu kalau itu fake login ?

Untuk mengetahui itu web phising yang menggunakan fake login, kita harus teliti url untuk login di facebook itu sendiri. Untuk login, facebook menggunakan url https://login.facebook.com/login.php

Web phising dengan fake login

Tampilan utama Web phising dengan fake login menggunakan source code dari https://login.facebook.com/login.php yang disimpan menjadi index.html. Tapi di index.html ini kita tambahi di form dengan pemanggilan code php untuk penyimpanan username dan password yang diisikan



Antisipasi dari bahaya phising sebenarnya sudah diterapkan oleh situs-situs yang bersangkutan, baik menggunakan teknik KeyBCA maupun dengan menggunakan prevent password theft yang dilakukan oleh Yahoo!. Bahkan Firefox dan IE telah memiliki fasilitas anti phising. Namun, antisipasi dari diri pun patut kita persiapkan. Caranya adalah selalu melihat dan memperhatikan alamat situs. Apabila alamat situs yang kita masukkan sudah sesuai, maka tidak ada yang perlu ditakutkan. Namun apabila alamat situs tersebut tidak sesuai, bahkan terkesan mengada-ada (contoh: http://gutyi.blogs.friendster.com/), maka patut dicurigai bahwa ini adalah phising.

Selain itu berhati-hatilah apabila jika suatu ketika kita dimintai kembali untuk melakukan login, karena bisa jadi itu merupakan trik dari phising agar bisa mendapatkan data pribadi kita. Selain itu jangan pernah mengisi aplikasi pembayaran dari situs yang tidak dikenal, meskipun tampilan yang muncul adalah situs aplikasi pembayaran yang kita kenal.



Berikut 10 tips Kaspersky Lab untuk mencegah dari serangan phising:

1. Untuk situs sosial seperti Facebook, buat bookmark untuk halaman login atau mengetik URL www.facebook.com secara langsung di browser address bar.
2. Jangan mengklik link pada pesan email.
3. Hanya mengetik data rahasia pada website yang aman.
4. Mengecek akun bank Anda secara regular dan melaporkan apapun yang mencurigakan kepada bank Anda.
5. Kenali tanda giveaway yang ada dalam email phising:
- Jika hal itu tidak ditujukan secara personal kepada anda.
- Jika anda bukan satu-satunya penerima email.
- Jika terdapat kesalahan ejaan, tata bahasa atau sintaks yang buruk atau kekakuan lainnya dalam penggunaan bahasa. Biasanya ini dilakukan penyebar phising untuk mencegah filtering.
6. Menginstall software untuk kemanan internet dan tetap mengupdate antivirus.
7. Menginstall patch keamanan.
8. Waspada terhadap email dan pesan instan yang tidak diminta.
9. Berhati-hati ketika login yang meminta hak Administrator. Cermati alamat URL-nya yang ada di address bar.
10. Back up data anda.


Read more >>