Rabu, 15 Juni 2011

CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL PENELITIAN “Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan

CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL PENELITIAN “Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan
CRITICAL REVIEW

TERHADAP JURNAL PENELITIAN

“Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan (Sebuah Telaah dan Perbandingan antara FASB dan IASC). Karya I Made Narsa Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya”.

Oleh :

Th. A. Dian Kusumasari C1C007011

Syarifa Yulianti C1C007014

M. Aditya Abdillah C1C007038

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS EKONOMI

2010

BAB I

PENDAHULUAN

International Financial Reporting Standards (IFRS), merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi berkualitas tinggi dan kerangka akuntasi berbasiskan prinsip yang meliputi penilaian profesional yang kuat dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu, dan akuntansi terkait transaksi tersebut. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat dengan mudah membandingkan informasi keuangan entitas antarnegara di berbagai belahan dunia. Implikasinya, mengadopsi IFRS berarti mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global yang akan membuat suatu perusahaan dapat dimengerti oleh pasar global. Suatu perusahaan akan memiliki daya saing yang lebih besar ketika mengadopsi IFRS dalam laporan keuangannya. Tidak mengherankan, banyak perusahaan yang telah mengadopsi IFRS mengalami kemajuan yang signifikan saat memasuki pasar modal global. Perubahan tata cara pelaporan keuangan dari Generally Accepted Accounting Principles (GAAP), PSAK, atau lainnya ke IFRS berdampak sangat luas. IFRS akan menjadi “kompetensi wajib-baru” bagi akuntan publik, penilai (appraiser), akuntan manajemen, regulator dan akuntan pendidik. Dengan kesiapan adopsi IFRS sebagai standar akuntansi global yang tunggal, perusahaan Indonesia akan siap dan mampu untuk bertransaksi, termasuk merger dan akuisisi (M&A), lintasnegara. Karena IFRS dimaksudkan sebagai standar akuntansi tunggal global, kesiapan industri akuntansi Indonesia untuk mengadopsi IFRS akan menjadi daya saing di tingkat global. Inilah keuntungan dari mengadopsi IFRS. Dan kami melakukan article review, yaitu studi empiris terhadap penelitian telaah dan perbandingan antara IASB dan IASC. Melalui article review ini, kami mencoba memahami rancangan penelitian, tujuan penelitian,metode penelitian dan memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya berdasarkan penelitian tersebut.

BAB II

ISI Kerangka Konseptual IFRS

1. Kerangka Konseptual IFRS

Kerangka:

• mendefinisikan tujuan laporan keuangan

• mengidentifikasi karakteristik kualitatif yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna

• mendefinisikan unsur-unsur dasar laporan keuangan dan konsep-konsep untuk mengakui dan mengukur mereka dalam laporan keuangan

• menyediakan konsep pemeliharaan modal

2. Tujuan umum Laporan Keuangan

Tujuan umum laporan keuangan entitas bisnis (baik dalam sektor publik atau swasta) adalah mempersiapkan dan menyajikan laporan keuangan setidaknya setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan informasi umum dari berbagai pengguna di luar entitas. Oleh karena itu, Kerangka ini tidak selalu berlaku untuk tujuan khusus laporan keuangan seperti laporan kepada aparat pajak, laporan kepada badan pengawas pemerintah, prospektus untuk penawaran sekuritas, dan laporan untuk kombinasi bisnis.

3. Pengguna dan Kebutuhan Informasi

Kelas utama pengguna laporan keuangan adalah investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur perdagangan lainnya, pelanggan, pemerintah dan badan-badan mereka serta masyarakat umum. Semua pengguna dengan kategori ini bergantung pada laporan keuangan untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan.

Kerangka ini juga menyimpulkan bahwa investor adalah penyedia modal risiko kepada entitas sehingga laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan mereka juga akan memenuhi sebagian besar kebutuhan untuk pengguna lain. Informasi yang berguba untuk semua kelompok-kelompok pengguna ini adalah ketertarikan mereka pada kemampuan dari suatu badan untuk menghasilkan kas dan setara kas serta waktu dan kepastian arus kas masa depan.

The Framework mencatat bahwa laporan keuangan tidak dapat memberikan semua informasi yang pengguna perlukan dalam membuat keputusan ekonomi. Untuk satu hal, laporan keuangan menunjukkan dampak keuangan dari peristiwa dan transaksi masa lalu, sedangkan keputusan sebagian besar pengguna laporan keuangan adalah membuat keputusan yang berhubungan dengan masa depan. Lebih jauh lagi, laporan keuangan hanya memberikan sejumlah non-informasi keuangan yang terbatas yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan.

Walaupun semua kebutuhan informasi dari kelompok-kelompok pengguna tersebut tidak dapat dipenuhi, ada kebutuhan informasi yang umum bagi semua pengguna, dan tujuan umum laporan keuangan berfokus pada pemenuhan kebutuhan ini.

4. Tanggung jawab atas Laporan Keuangan

Manajemen dari sebuah entitas memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan dan menyajikan laporan keuangan entitas tersebut.

5. Tujuan dari Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu entitas yang berguna untuk berbagai pengguna dalam membuat keputusan ekonomi.

6. Posisi Keuangan

Posisi keuangan suatu entitas dipengaruhi oleh kontrol sumber daya ekonomi, struktur keuangan, dengan likuiditas dan solvabilitas, dan kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan di mana ia beroperasi. Neraca menyajikan informasi semacam ini.

7. Kinerja

Kinerja adalah kemampuan dari suatu badan untuk memperoleh keuntungan dari sumber daya yang telah diinvestasikan ke dalamnya. Informasi tentang jumlah dan variabilitas laba membantu dalam memprediksi arus kas masa depan dari entitas yang ada dalam perkiraan sumber daya dan potensi tambahan arus kas dari sumber daya tambahan yang dapat diinvestasikan dalam entitas.

Kerangka ini menyatakan bahwa informasi tentang kinerja terutama diberikan dalam laporan laba rugi. IAS 1 menambahkan keempat dasar laporan keuangan, pernyataan yang menunjukkan perubahan ekuitas.

8. Perubahan dalam Posisi Keuangan

Pengguna laporan keuangan mencari informasi tentang investasi, pembiayaan dan aktivitas operasi bahwa suatu entitas telah beroperasi selama periode pelaporan. Informasi ini membantu dalam menilai seberapa baik entitas mampu menghasilkan kas dan setara kas dan bagaimana menggunakan arus kas tersebut. Pernyataan arus kas memberikan informasi seperti ini. Tambahan catatan dan Jadwal.

Laporan keuangan juga berisi catatan dan jadwal tambahan dan informasi lain bahwa (a) menjelaskan item dalam neraca dan laporan pendapatan, (b) mengungkapkan risiko dan ketidakpastian yang mempengaruhi entitas, dan (c) menjelaskan kewajiban setiap sumber daya dan tidak diakui dalam neraca.

9. Asumsi yang mendasari

Kerangka ini menetapkan asumsi-asumsi yang mendasari laporan keuangan:

• Basis Akrual. Transaksi dan peristiwa lain diakui ketika mereka terjadi, bukan pada saat kas atau yang ekuivalen dengan kas diterima atau dibayar, dan mereka dilaporkan dalam laporan keuangan periode yang terkait.

• Going Concern. Laporan keuangan menganggap bahwa suatu entitas akan terus beroperasi tanpa batas waktu atau, jika tidak, pengungkapan dan pelaporan dasar yang berbeda diperlukan.

10. Karakteristik kualitatif Laporan Keuangan

Karakteristik ini adalah atribut yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi investor, kreditur, dan lain-lain. Kerangka mengidentifikasi empat karakteristik kualitatif pokok:

• Understandability

• Relevansi

• Keandalan

• Keterbandingan

11. Understandability

Informasi harus disajikan dengan cara yang mudah dipahami oleh pengguna yang memiliki pengetahuan tentang bisnis, kegiatan ekonomi, akuntansi dan yang bersedia untuk mempelajari informasi dengan tekun.

12. Relevansi

Informasi dalam laporan keuangan yang relevan adalah ketika hal tersebut mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna. Yaitu, hal tersebut dapat (a) membantu mereka mengevaluasi masa lalu, sekarang, atau kejadian masa depan yang berkaitan dengan suatu entitas (b) mengkonfirmasi atau mengoreksi masa lalu evaluasi yang telah mereka buat.

Materialitas adalah komponen relevansi. Informasi adalah material jika kelalaian atau kesalahan pernyataan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna. Ketepatan waktu adalah komponen lain relevansi. Untuk menjadi berguna, informasi harus diberikan kepada pengguna dalam jangka waktu yang kemungkinan besar dapat mempengaruhi keputusan mereka.

13. Keandalan

Informasi dalam laporan keuangan dapat diandalkan jika hal tersebut bebas dari kesalahan dan bias dan dapat diandalkan oleh pengguna untuk mewakili peristiwa dan transaks. Kadang-kadang ada tradeoff antara relevansi dan keandalan - dan penghakiman diperlukan untuk memberikan keseimbangan yang tepat. Keandalan dipengaruhi oleh penggunaan perkiraan dan ketidakpastian yang terkait dengan item yang diakui dan diukur dalam laporan keuangan. Ketidakpastian ini ditangani dengan, sebagian, dengan pengungkapan dan sebagian, dengan menjalankan prinsip kehati-hatian dalam menyusun laporan keuangan. Kehati-hatian adalah dimasukkannya tingkat kehati-hatian dalam pelaksanaan penilaian yang diperlukan dalam membuat perkiraan yang diperlukan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau pendapatan tidak dilebih-lebihkan dan kewajiban atau pengeluaran yang tidak sederhana. Namun, kebijaksanaan hanya dapat dilakukan dalam konteks karakteristik kualitatif lainnya dalam Kerangka, terutama relevansi dan representasi setia transaksi dalam laporan keuangan. Kebijaksanaan tidak membenarkan disengaja berlebihan dari kewajiban atau pengeluaran, atau sengaja meremehkan aset atau pendapatan, karena laporan keuangan tidak akan netral dan, karenanya, tidak memiliki kualitas kehandalan.

14. Keterbandingan

Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan dari suatu badan dari waktu ke waktu sehingga mereka dapat mengidentifikasi tren dalam posisi keuangan dan kinerja. Pengguna harus juga dapat membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. Pengungkapan kebijakan akuntansi yang penting untuk perbandingan.

BAB III

PEMBAHASAN CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL PENELITIAN

A. JUDUL PENELITIAN

Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan (Sebuah Telaah dan Perbandingan antara FASB dan IASC). Karya I Made Narsa Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya.

B. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk membahas struktur meta teori yang dipergunakan oleh FASB dan IASC dalam mengembangkan rerangka konseptual, menelaah perbedaan-perbedaan mendasar, menganalisis hambatan-hambatan yang dialami serta mengidentifikasi upaya-upaya yang harus dilakukan agar IFRS diterapkan oleh negara-negara anggota.

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode study comperative yang dilakukan dengan cara membandingkan rerangka dasar yang diatur dalam FASB dan IASC dan kemudian menganalisa hambatan yang timbul dengan adanya penerapan IFRS dan mengidentifikasi bagaimana hambatan tersebut dapat diselesaikan.

D. HASIL

Sangat diharapkan ada sebuah standar yang dapat diterima oleh semua Negara di dunia. Dengan adanya standar yang diterima secara internasional, diharapkan laporan keuangan memiliki daya keterbandingan yang lebih tinggi antar negara. Tentu saja upaya-upaya kearah harmonisasi internasional ini bukanlah pekerjaan mudah.

Faktanya dalam dunia akuntansi saat ini standar akuntansi yang berlaku di Amerika Serikat yang disusun oleh Financial Accounting Standards Board (FASB), diikuti oleh beberapa negara, baik secara langsung maupun modifikasi. Sementara International Accounting Standards (IASs) yang dikeluarkan oleh International Accounting Standards Committee (IASC), belum diikuti oleh semua negara, bahkan oleh negara-negara anggota yang tergabung dalam IASC tersebut.

FASB akhirnya berhasil membuat sebuah model rerangka konseptual yang mapan disebut, Statement of Financial Accounting

Concepts (SFAC). SFAC ini dianggap lengkap dan terdiri dari 6 statements, yaitu SFAC No 1 (1978), SFAC No 2 (1980), SFAC No 3 (1980), SFAC No 4 (1980), SFAC No 5 (1984), dan SFAC No 6 tahun 1985. SFAC No 6 menggantikan SFAC no 3 dan mengamandemen SFAC no 2. Sedangkan draft SFAC 7 sampai saat ini belum pernah definitif.

Model rerangka konseptual FASB ini mencakup empat komponen dasar, yaitu (1) tujuan pelaporan keuangan yang dituangkan pada SFAC no 1 dan SFAC no 4. (2) Kriteria kualitas informasi yang dituangkan pada SFAC no 2, (3) Elemen-elemen laporan keuangan yang dituangkan pada SFCA no 6 (pengganti SFAC no 3) (4) Pengukuran dan Pengakuan yang dituangkan pada SFAC no. 5. Model ini dirancang dengan cukup luas dan mencakup perusahaan bisnis dan nonbisnis. Rerangka ini merupakan dasar teoritis bagi FASB dalam mengembangkan standard akuntansi keuangan (Statement of Financial Accounting Standard) di Amerika Serikat.

CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL PENELITIAN “Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan
Read more >>

Selasa, 14 Juni 2011

FINANCIAL STATEMENT IASB FASB IFRS PSAK

FINANCIAL STATEMENT IASB FASB IFRS PSAK
Kerangka IASB telah disetujui oleh Dewan IASC pada bulan April 1989 untuk diterbitkan pada bulan Juli 1989, dan diadopsi oleh IASB pada bulan April 2001. IAS semula disusun oleh IASC (dewan penyusun standar sebelumnya) kemudian tugas menyusun standar ini diambil alih oleh IASB (dewan penyusun standar yg baru). IASB berbeda dengan FASB. IASB merupakan badan yang berwenang untuk menyusun standar akuntansi internasional sedangkan FASB merupakan badan yang berwenang untuk menyusun standar akunatnsi yang berlaku di Amerika

Tujuan dari proyek untuk menggantikan kerangka konseptual yang lama adalah untuk membentuk suatu standar yang akan memandu organisasi dan penyajian informasi dalam laporan keuangan. Hasil dari proyek ini secara langsung akan mempengaruhi bagaimana pengelolaan suatu entitas laporan keuangan mengkomunikasikan informasi kepada pengguna laporan keuangan, seperti sekarang dan potensi investor saham, kreditur dan kreditur lainnya. papan "Tujuannya adalah untuk meningkatkan kegunaan informasi yang diberikan dalam laporan keuangan suatu entitas untuk membantu pengguna membuat keputusan dalam kapasitas mereka sebagai penyedia modal.

Dalam menyetujui untuk melanjutkan proyek-proyek serupa mereka bersama-sama, setuju untuk melihat di penyajian informasi dalam laporan keuangan. Proyek bersama memiliki perkembangan di luar lingkup presentasi dan menampilkan item pendapatan dan biaya, melainkan menunjukkan presentasi dan menampilkan di muka laporan keuangan yang merupakan satu set lengkap laporan keuangan. Pada bulan April 2004, dewan IASB dan FASB) memutuskan untuk pendekatan proyek dalam tiga tahap:
1.Tahap A akan menunjukkan laporan yang merupakan satu set lengkap laporan keuangan dan periode yang mereka harus diberikan.
2.Tahap B akan mengatasi isu-isu yang lebih mendasar yang berkaitan dengan presentasi dan menampilkan informasi dalam laporan keuangan, termasuk menggabungkan dan disaggregating informasi dalam setiap laporan keuangan utama, mendefinisikan total dan subtotal, dan mempertimbangkan kembali penggunaan langsung atau metode tidak langsung untuk menyajikan operasi kas arus.
3.Tahap C akan menunjukkan presentasi dan menampilkan informasi keuangan interim di AS prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). IASB juga dapat mempertimbangkan kembali persyaratan dalam IAS 34, tentang pelaporan Keuangan interim.

KERANGKA KONSEPTUAL
Kerangka konseptual merupakan alat perekayasaan akuntansi yang digunakan untuk mencapai tujuan ekonomik tertentu. Penggantian Kerangka konseptual / perubahan-perubahan yang terjadi dimaksudkan untuk menyesuaikan kondisi yang ada di masa sekarang ini juga untuk penyesuaian tujuan eknomik apabila ada perubahan. Kerangka konseptual yang baru akan membentuk suatu pedoman dalam menyusun standar baru oleh badan penyusun standar yang berwenang. Tidak hanya standar yang akan mengalami perubahan tetapi juga konsep, pemahaman, intepretasi, teknik, dan praktek akuntansi yang ada.

Kerangka ini menetapkan konsep-konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan untuk pengguna eksternal.
Kerangka berkaitan dengan :
1.dengan tujuan laporan keuangan;
2.karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan
3.definisi, pengakuan dan pengukuran unsur-unsur dari laporan keuangan yang dibangun; dan
4.konsep modal dan pemeliharaan modal

PERALIHAN DARI GAAP KE IFRS
IFRS awal mulanya berupa IAS yang kemudian dilakukan perubahan-perubahan dan penyesuaian sesuai dengan kebutuhan stakeholder’s. hal ini berkaitan dengan konsep teori keagenan. Yakni ada hubungan pertangungjawaban antara agen dan prinsipel. Agen yang diberi kepercayaan oleh prinsipel untuk mengelola usahanya wajib memberikan laporan pertanggungjawaban kepada prinsipel melalui laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut selain sebagai media pertanggungjawaban juga sebagai media pengambilan keputusan oleh manajemen, investor, kreditor, maupun stakeholders-stakeholders lainnya. Karena laporan keuangan ini tidak hanya dipakai oleh satu pihak saja maka dalam penyusunan laporan keuangan diperlukan suatu standar guna menyamakan format laporan keuangan dan pemahaman terhadap informasi yg disajikan.

Alasan dilakukannya perubahan IAS menjadi IFRS adalah agar informasi akuntansi keuangan dari suatu entitas usaha yg domestic maupun go public bisa dipakai dan dipahami oleh seluruh masyarakat global yang berkepentingan. Harapan dengan diimplemetasikannya IFRS atau pun kerangka konseptual yang baru secara memadai akan menghasilkan suatu standar yg nantinya mampu membuat suatu informasi lebih dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

selama ini, sistem akuntansi di Indonesia menggunakan konsep historical cost. Konsep ini menggunakan pendekatan biaya perolehan menghasilkan nilai buku. untuk berbagai kepentingan, laporan nilai buku itulah yang selama ini lazim dijadikan acuan untuk menilai sebuah perusahaan. Dengan kondisi pasar yang semakin dinamis, dan berkembang sangat cepat, akhirnya konsep historical cost dianggap tidak cocok lagi, karena tidak mencerminkan nilai pasar. Sebagai gantinya digunakan konsep Fair Value

PENERAPAN IFRS DI INDONESIA
Proses menuju IFRS yang terjadi di Indonesia dilakukan dengan cara melakukan penyesuaian dan harmonisasi terhadap IAS yg telah ada. Proses harmonisasi dengan IFRS sebenarnya telah mulai dilakukan Indonesia sejak digantinya Prinsip Akuntansi Indonesia menjadi Standar Akuntansi Keuangan pada tahun 1994.Untuk pelaksanaan lanjutan dari adopsi IFRS di Indonesia dilakukan dengan cara merevisi beberapa PSAK yang kurang sesuai dengan konsep IFRS. Ada beberapa standar yg rencananya akan dicabut dan diganti dengan standar baru yg pengaturannya lebih spesifik. Jadi, standar yang masih relevan untuk diterapkan saat ini akan dipertahankan dan dilakukan revisi jika perlu. Sedangkan standar tang sudah tidak relevan akan dicabut dan diganti dengan standar baru yang disusun sesuai dengan kerangka konseptual yang baru.

Beberapa Standar dalam PSAK yang rencananya akan dicabut adalah

PSAK 32. Akuntansi Kehutanan mengatur akuntansi kehutanan yang disusun dan diberlakukan bagi entitas yang menjalankan satu atau lebih kegiatan pengusahaan hutan.

PSAK 35. : Akuntansi Pendapatan Jasa Teleko munikasi mengatur pengakuan pendapatan jasa telekomunikasi berikut:
(a) Jasa telekomunikasi interkoneksi;
(b) Jasa telekomunikasi yang dijalankan sendiri; dan
(c) Jasa telekomunikasi yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan investor.

PSAK 37. Akuntansi Penyelenggaraan Jalan Tol mengatur akuntansi penyelenggaraan jalan tol bagi badan usaha yang diberi wewenang penyelenggaraan jalan tol oleh pemerintah maupun bagi investor jalan tol dan kerjasama operasi antara penyelenggara dengan investor yang merupakan kerja sama dimana hanya satu pihak yang secara langsung berarti mengendalikan aset kerja sama operasi dan pengoperasiannya.

Dasar pertimbangan pencabutan PSAK 32: Akuntansi Kehutanan, PSAK 35: Akuntansi Pendapatan Jasa Telekomunikasi, dan PSAK 37: Akuntansi Penyelenggaraan Jalan Tol adalah :
(a) Dampak dari konvergensi ke standar akuntansi internasional (International Financial Reporting Standard atau IFRS) yang mengakibatkan perlunya pencabutan PSAK untuk suatu industri tertentu yang sudah ada pengaturannya dalam PSAK lain yang mengacu ke IFRS.
(b) Adanya inkonsistensi antara pengaturan dalam PSAK 32, 35 dan 37 dengan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dan PSAK lain.
(c) Adanya tumpang tindih pengaturan dalam PSAK 32, 35, dan 37 dengan PSAK lain untuk suatu transaksi dan peristiwa lainnya.
(d) Adanya perubahan konsep atau peraturan yang menjadi dasar penyusunan PSAK untuk suatu industri tertentu sehingga pengaturan dalam PSAK tersebut tidak sesuai dengan konsep atau peraturan yang ada sekarang.
Tidak semua standar akan dicabut. Yang akan dicabut hanya standar yang dirasa sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini juga tidak sejalan dengan konsep IFRS yang akan diberlakukan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. DSAK sudah menyusun beberapa standar yang semua mengacu pada IFRS/IAS, termasuk didalamnya konsep fair value. Diantaranya adalah PSAK no 30 tentang sewa beserta PSAK no 8. PSAK no 13 tentang Properti Investasi, PSAK no 16 tentang aset tetap dan PSAK 50 dan PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan. DSAK juga menerbitkan buletin teknis sebagai panduan untuk melakukan perhitungan fair value pada standar-standar tersebut. Hampir seluruh Pronouncement the International Accounting Standard Board sudah menerapkan dasar fair value, Indonesia juga akan mengadopsinya.

PROYEK IMPLEMENTASI IFRS DI INDONESIA PADA 2012
Diposting sebelumnya oleh HEPI PRAYUDIAWAN

“Sasaran konvergensi IFRS yang telah dicanangkan IAI pada tahun 2012 adalah merevisi PSAK agar secara material sesuai dengan IFRS versi 1 Januari 2009 yang berlaku efektif tahun 2011/2012,”
Dua puluh Sembilan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) masuk dalam program konvergensi IFRS yang dicanangkan DSAK IAI tahun 2009 dan 2010.
Program konvergensi DSAK selama tahun 2009 adalah sebanyak 12 Standar, yang meliputi:
1. IFRS 2 Share-based payment
2. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
3. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
4. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
5. IAS 28 Investments in associates
6. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
7. IFRS 8 Operating segment
8. IAS 31 Interests in joint ventures
9. IAS 1 Presentation of financial
10. IAS 36 Impairment of assets
11. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent asset
12. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
Program konvergensi DSAK selama tahun 2010 adalah sebanyak 17 Standar sebagai berikut:
1. IAS 7 Cash flow statements
2. IAS 41 Agriculture
3. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government assistance
4. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
5. IAS 24 Related party disclosures
6. IAS 38 Intangible Asset
7. IFRS 3 Business Combination
8. IFRS 4 Insurance Contract
9. IAS 33 Earnings per share
10. IAS 19 Employee Benefits
11. IAS 34 Interim financial reporting
12. IAS 10 Events after the Reporting Period
13. IAS 11 Construction Contracts
14. IAS 18 Revenue
15. IAS 12 Income Taxes
16. IFRS 6 Exploration for and Evaluation of Mineral Resources
17. IAS 26 Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plan
Banyaknya standar yang harus dilaksanakan dalam program konvergensi ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi DSAK IAI periode 2009-2012. Implementasi program ini akan dipersiapkan sebaik mungkin oleh IAI. Dukungan dari semua pihak agar proses konvergensi ini dapat berjalan dengan baik tentunya sangat diharapkan. tantangan konvergensi IFRS 2012 adalah kesiapan praktisi akuntan manajemen, akuntan publik, akademisi, regulator serta profesi pendukung lainnya seperti aktuaris dan penilai.
Akuntan Publik diharapkan dapat segera mengupdate pengetahuannya sehubungan dengan perubahan SAK, mengupdate SPAP dan menyesuaikan pendekatan audit yang berbasis IFRS. Akuntan Manajemen/Perusahaan dapat mengantisipasi dengan segera membentuk tim sukses konvergensi IFRS yang bertugas mengupdate pengetahuan Akuntan Manajeman, melakukan gap analysis dan menyusun road map konvergensi IFRS serta berkoordinasi dengan proyek lainnya untuk optimalisasi sumber daya.
Akuntan Akademisi/Universitas diharapkan dapat membentuk tim sukses konvergensi IFRS untuk mengupdate pengetahuan Akademisi, merevisi kurikulum dan silabus serta melakukan berbagai penelitian yang terkait serta Memberikan input/komentar terhadap ED dan Discussion Papers yang diterbitkan oleh DSAK maupun IASB.
Regulator perlu melakukan penyesuaian regulasi yang perlu terkait dengan pelaporan keuangan dan perpajakan serta melakukan upaya pembinaan dan supervisi terhadap profesi yang terkait dengan pelaporan keuanganseperti penilai dan aktuaris. Asosiasi Industri diharap dapat menyusun Pedoman Akuntansi Industri yang sesuai dengan perkembangan SAK, membentuk forum diskusi yang secara intensif membahas berbagai isu sehubungan dengan dampak penerapan SAK dan secara proaktif memberikan input/komentar kepada DSAK IAI.
Program Kerja DSAK lainnya yaitu: Mencabut PSAK yang sudah tidak relevan karena mengadopsi IFRS; Mencabut PSAK Industri; Mereformat PSAK yang telah diadopsi dari IFRS dan diterbitkan sebelum 2009; Melakukan kodifikasi penomoran PSAK dan konsistensi penggunaan istilah; Mengadopsi IFRIC dan SIC per 1 January 2009; Memberikan komentar dan masukan untuk Exposure Draft dan Discussion Paper IASB; Aktif berpartisipasi dalam berbagai pertemuan organisasi standard setter, pembuat standar regional/internasional; serta Menjalin kerjasama lebih efektif dengan regulator, asosiasi industri dan universitas dalam rangka konvergensi IFRS.

DAMPAK PENERAPAN IFRS DI INDONESIA
Dengan standar baru yang disusun berdasarkan kerangka konseptual yang baru pula diharapkan akan mampu menghasilkan suatu laporan keuangan yang :
1.memberikan gambaran keuangan kohesif suatu entitas. Sebuah gambar keuangan kohesif berarti bahwa hubungan antara item di laporan keuangan adalah jelas dan bahwa laporan keuangan suatu entitas saling melengkapi satu sama lain sebanyak mungkin.
2.mampu memprediksi arus kas di masa depan suatu entitas, Analisis Keuangan ditujukan untuk tujuan seperti menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan memerlukan informasi keuangan yang dirinci menjadi cukup homogen kelompok barang. Jika item berbeda ekonomis, pengguna mungkin ingin memperhitungkannya berbeda dalam memprediksi arus kas masa depan.

dalam standar akuntansi yang baru yaitu IFRS yang diadopsi oleh IASB akan sedikit banyak akan mempengaruhi pola dan format pelaporan keuangan. Hal ini tentunya harus dapat dipahami oleh para akuntan selaku pihak yang bertugas untuk menyusun laporan keuangan dan juga stakeholders sebagai pihak yang memanfaatkan informasi akuntansi dari laporan keuangan

Dewan IASC mengakui bahwa dalam jumlah terbatas kasus mungkin ada konflik antara Framework dan Standar Akuntansi Internasional. Dalam kasus-kasus di mana ada konflik, persyaratan dari Standar Akuntansi Internasional yang berlaku atas Kerangka Kerja. Namun, Dewan IASC akan dipandu oleh Framework dalam pengembangan Standar masa depan dan di review atas Standar yang ada, jumlah kasus konflik antara Framework dan Akuntansi Internasional Standar akan berkurang dari waktu ke waktu. Apabila terjadi konflik maka pemecahan masalah harus mengacu ke standar yang baru. Contoh konflik antara standar yang lama (IAS/PSAK) dengan kerangka konseptual yang baru (IFRS) misalnya terjadi dalam hal kriteria pengakuan pendapatan dan beban. Dalam PSAK misalnya diperbolehkan memakai kas basis maupun akrual basis sesuai dengan kodisi dan kebijakan akuntansi suatu perusahaan. Sedangkan menurut IFRS asumsi yang digunakan adalah lebih condong ke akrual basis. Maka lebih baik dipilih untuk menggunakan akrual basis. Contoh penyesuaian yang dilakukan di lingkungan sector pemerintahan yaitu dengan adanya rencana pemerintah untuk beralih menggunakan akrual basis dalam pelaporan keuangan pemerintahan pusat/daerah. Hal ini tidak lain langkah untuk melakukan penyesuaian dengan IFRS. Walaupun penekanan IFRS disini lebih cenderung ke perusahaan yang bertujuan mencari laba.

Dari sector ekonomi. Dengan adanya standar pelaporan keuangan baru yang mengacu pada IFRS maka akan mampu meningkatkan kualitas laporan keuangan. Informasi yang disampaikan kepada stakeholder’s juga akan lebih handal. Informasi ini akan tercermin dalam harga saham suatu perusahaan. Apabila indeks saham di suatu negara cukup stabil maka hal tersebut merupakan ssalah satu indikator bahwa perekonomian di negara tersbut cukup baik. Tentunya dengan adanya kualitas informasi akuntansi yang jauh lebih baik juga akan mendorong investor untuk mau berinvestasi di Indonesia.
Dari sudut pandang pengusaha. Dengan penerapan IFRS tentunya juga akan menguntungkan para pengusaha. Karena informasi yang dihasilkan dari laporan keuangan juga lebih berkualitas. Sehingga akan memudahkan dalam proses pengambilan keputusan.
Dari sector pendidikan. Adopsi IFRS memang akan memerlukan pemahaman lebih bagi mahasiswa dan kalangan akademik. Tapi hal ini dilakukan tidak lain untuk menghasilkan akuntan yang mampu bersaing di dunia Internasional. Oleh sebab itu, mau tidak mau baik mahasiswa harus paham dengan apa itu IFRS


KESIMPULAN
Kerangka Konseptual berbeda dengan standar. Meskipun dalam prakteknya yang lebih disorot adalah standar tapi kerangka konseptual akuntansi tidak kalah pentingnya dalam dunia akuntansi. Kerangka konseptual merupakan hasil rekayasa tujuan ekonomik suatu negara yang dijadikan pedoman oleh badan/dewan standar dalam penyusunan standar akuntansi. Kerangka konseptual yang berlaku di Indonesia adalah adopsi dari GAAP. Seiring dengan perkembangan jaman maka Indonesia mulai beralih ke IFRS, dan baru akan diimplementasikn secara penuh di Indonesia pada tahun 2012. Peralihan ke IFRS tentunya memerlukan perubahan dan penyusuaian terhadap standar yang sudah ada. Oleh karena itu diperlukan harmonisasi standar yang sudah ada dengan IFRS. Hal ini dilakukan misalnya dengan mengganti standar yang sudah tidak relevan, merevisi standar, mengganti standar yang ada dengan standar yang baru. Meskipun standar yang baru telah dipersiapkan oleh dewan standar tapi ada saja beberapa entitas usaha yang belum siap. Sebagai contoh sektor perbankan yang dirasa kurang siap dengan konsep fair value. Sehingga penerapan PSAK 50 dan 55 tentang instrument keuangan di undur hingga tahun 2010.

FINANCIAL STATEMENT IASB FASB IFRS PSAK
Read more >>

Minggu, 12 Juni 2011

Pengertian dan Penjelasan Dasar Akuntansi

Pengertian dan Penjelasan Dasar Akuntansi
A. Pengertian dan Definisi Akuntansi

Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis.

B. Fungsi Akuntansi

Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi. Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan sutu organisasi beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manajer / manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi.

C. Laporan Dasar Akuntansi

Pada dasarnya proses akuntansi akan membuat output laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan neraca pada suatu perusahaan atau organisasi lainnya. Pada suatu laporan akuntansi harus mencantumkan nama perusahaan, nama laporan, dan tanggal penyusunan atau jangka waktu laporan tersebut untuk memudahkan orang lain memahaminya. Laporan dapat bersifat periodik dan ada juga yang bersifat suatu waktu

Pengertian dan Penjelasan Dasar Akuntansi
Read more >>

Sabtu, 11 Juni 2011

Faktor atau Elemen Lingkungan yang Mempengaruhi Dunia Usaha

Faktor atau Elemen Lingkungan yang Mempengaruhi Dunia Usaha
Dalam dunia usaha terdapat banyak hal yang berpengaruh terhadap kesinambungan dunia usaha pada suatu daerah tertentu. Variable-variabel di bawah ini secara tidak langsung memberi efek pada suatu perusahaan. Setiap perusahaan memiliki resistansi atau daya tahan masing-masing terhadap setiap faktor yang berbeda-beda.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi dunia usaha secara tidak langsung ini berada di luar dari elemen pihak internal dan eksternal yang telah dijelaskan pada artikel bagian lain. Secara bersamaan dengan faktor internal dan eksternal dengan faktor lingkungan mempengaruhi kondisi dunia usaha.

1. Variabel Sosial
- Faktor demografik/demografis : seperti jumlah, komposisi, dan pertumbuhan penduduk suatu wilayah atau area.
- Faktor gaya hidup : selera masyarakat, trend yang sedang digandrungi, dan lain sebagainya.
- Faktor nilai sosial : adat-istiadat, norma yang berlaku, kebiasaan, dan lain-lain.

2. Variabel Ekonomi
Berkaitan erat dengan indikator ekonomi yang bersifat umum mengukur tabungan, investasi, produktivitas, lapangan kerja, kegiatan pemerintah, transaksi perdagangan internasional, pendapatan, produk nasional dan lain sebagainya.

3. Variabel Politik
Faktor-faktor yang terkait dengan kondisi atau iklim perpolitikan di suatu daerah.

4. Variabel Teknologi
Kemajuan di bidang teknologi yang berubah-ubah dari waktu ke waktu yang terkadang sangat cepat sangat mempengaruhi dunia usaha. Perusahaan yang statis dan tidak mengikuti perkembangan teknologi cenderung tertinggal dibandingkan dengan perusahaan yang terus menerus melakukan adaptasi teknologi untuk membuat operasional usah menjadi lebih efektif dan

Faktor atau Elemen Lingkungan yang Mempengaruhi Dunia Usaha
Referensi:
Read more >>

Jumat, 10 Juni 2011

Pengertian / Definisi Pasar dan Faktor Produksi - Ilmu Ekonomi Manajemen

Pengertian / Definisi Pasar dan Faktor Produksi - Ilmu Ekonomi Manajemen.
Dalam pengertian yang sederhana atau sempit pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual beli (penjualan dan pembelian) yang dilakukan oleh penjual dan pembeli yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu.

Definisi pasar secara luas menurut W.J. Stanton adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja serta kemauan untuk membelanjakannya.

Pada umumnya suatu transaksi jual beli melibatkan produk/barang atau jasa dengan uang sebagai alat transaksi pembayaran yang sah dan disetujui oleh kedua belah pihak yang bertransaksi.

Kegiatan faktor produksi adalah kegiatan yang melakukan proses, pengolahan, dan mengubah faktor-faktor produksi dari yang tidak/kurang manfaat/gunanya menjadi memiliki nilai manfaat yang lebih. Faktor- Faktor produksi yang umumnya digunakan adalah tenaga kerja, tanah, dan modal. Kelangkaan pada suatu faktor produksi biasanya akan menyebabkan kenaikan harga faktor produksi tersebut.

Pengertian / Definisi Pasar dan Faktor Produksi - Ilmu Ekonomi Manajemen.
Read more >>

Kamis, 09 Juni 2011

Perbandingan antara Metode Akuntansi Cash dan Accrual

Perbandingan antara Metode Akuntansi Cash dan Accrual
Cash-Basis

Akuntansi Cash-Basis yang selanjutnya akan disebut dengan versi inggrisnya, cash-basis accounting, adalah metode pembukuan yang mencatat kejadian-kejadian data finansial berdasarkan cash flow dan cash position. Pendapatan atau revenue diakui ketika uang atau cash diterima dan pengeluaran atau expense diakui ketika uang telah dibayarkan. Pada cash-basis accounting, pendapatan dan pengeluaran disebut juga cash receipt dan cash payment.

Cash-basis accounting, tidak mengakui atau mengenal adanua janji-janji untuk membayar atau harapan-harapan untuk menerima uang atau layanan pada masa yang akan datang, seperti payable, receiveable, dan prepaid expenses.

Hal ini lebih sederhana bagi orang-orang atau organisasi-organisasi yang tidak memiliki transaksi dalam bentuk ini dengan jumlah yang banyak, atau jika jeda antara permulaan transaksi dan cash flow sangat singkat.

Persoalan-Persoalan dengan Cash-Basis

Cash-basis accounting gagal memenuhi persyaratan GAAP karena ia tidak mengikuti dua prinsip berikut :

*

Revenue Recognition Principle atau Prinsip-Prinsip Pengidentifikasian Pendapatan - Pendapatan harus diakui ketika ia telah direalisasikan (misalnya. sebuah penjualan kredit)
*

Matching Principle - Jika memungkinkan, pendapatan harus dipasangkan atau dicocokkan dengan pengeluaran atau biaya (Misal, penjalan kepada COGS)

Sebagai tambahan, cash-basis accounting tidak cocok untuk cost accounting di operasi manufaktur, karena pengeluaran tidak berhubungan dengan harga produk.

Contoh

Ketika Anda membayar biaya sewa, tuan tanah (landlord) Anda akan mencatat kejadian ini sebagai pemasukan ketika anda benar-benar telah memberikan pembayaran. Tuan tanah mencatat kejadian pengeluaran biaya ketika dia membayar agen rental fee mereka untuk apartemen Anda. Ini adalah (cash-basis) metode akunting yang digunakan oleh kebanyakan orang atau beberapa bisnis yang memiliki payables atau receiveables yang terbatas, atau yang cash flow pemasukan dan pengeluarannya saling berdekatan dan berhubungan secara waktu.

Berikut ini adalah contoh income statement dan Balance Sheet yang disederhanakan untuk cash-basis accounting :


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004


Revenue ........................................................................................................ $1,000

Expense ........................................................................................................ $ 800

Net Income ................................................................................................... $ 200


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004


Assets

Cash ........................................................................................................... $5,500

Total Assets ............................................................................................. $5,500

Liabilities and Stockholders Equity

Common Stock ......................................................................................... $5,500

Total Liabilities and Equity .................................................................... $5,500


Perbandingan

Ada dua tipe Cash-basis accounting : strict cash-basis dan modified-cash basis. Strict cash-basis mengikuti cash-flow secara tepat. Modiefied cash-basis memasukkan beberapa elemen dari accrual-basis accounting seperti inventory dan property capitalization.

Cash-basis accounting digunakan oleh bisnis-bisnis kecil dan rumah tangga. Statemen finasial untuk entitas-entitas tersebut digunakan oleh sedikit orang.

Accrual-Basis

Accrual-basis accounting mencatat kejadian-kejadian finansial berdasarkan kejadian yang mengubah net worth Anda (the amount owed to you less the amount you owe others). Implementasi standarnya adalah dengan mencatat dan mengenali pendapatan dan pengeluaran dalam periode transaksi-transaksi ini terjadi.

Meskipun uang tidak diterima atau dibayarkan dalam sebuah transaksi kredit, transaksi-transaksi ini dicatat karena pada masa datang transaksi-transaksi ini akan bersifat berurutan dalam pemasukan dan cash flow perusahaan. Accrual-basis sesuai dengan GAAP.


Contoh

Tuan tanah Anda akan mencatat adanya pendapatan pada saat waktu pembayaran sewa Anda telah jatuh tempo (Anda berhutang padanya). Dia mencatatkan biaya pengeluaran ketika biaya yang harus dibayarkan pada rental agent jatuh tempo (dia berhutang pada agen). Detail atau penjabaran dari cash flownya dan waktu-waktunya dicatat dalam pembukuan.

Berikut ini adalah contoh income statement dan Balance Sheet yang disederhanakan untuk accrual basis accounting (perhatikan adanya receivables dan payables) :


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004


Revenues ................................................................................................. $1,200

Expenses ................................................................................................. $ 800

Net income .............................................................................................. $ 400


Voidvector Corporation

Income Statement

For the year ended December 31, 2004

Assets

Cash ....................................................................................................... $5,500

Accounts receivable ............................................................................... $ 200

Total assets ........................................................................................... $5,700

Liabilities and Stockholders Equity

Accounts payable .................................................................................... $ 200

Common stock ........................................................................................ $5,500

Total liabilities and Equity .................................................................... $5,700


Perbandingan

Menggunakan cash-basis accounting, pemasukan dan pengeluaran dikenali hanya ketika uang diterima atau dibayarkan.

Menggunakan accrual-basis accounting, receivable dan payables dikenali ketika sebuah penjualan telah disetujui, meskipun belum ada yang diterima atau dibayarkan.

Cash-basis accounting menunda semua transaksi kredit ke tanggal selanjutnya. Cara ini lebih konservatif untuk penjual dalam hal ia tidak mencatat pemasukan sampai uang diterima. Dalam perusahaan yang berkembang, metode ini menghasilkan pemasukan yang lebih rendah dibandingkan dengan accrual-basis accounting.

Contoh Sederhana

Bisnis kecil seperti stand buah-buahan, yang membeli inventorynya secara harian dengan cara tunai di pasar grosir, jual inventorynya secara cash dan membiarkan apa yang tidak terjual, dapat mendapatkan gambaran yang tepat tentang laba dan ruginya hanya dengan menggunakan cash-basis accounting.

Dengan mengubah model bisnis yang memberikan kesempatan kepada pelanggan 90 hari untuk membayar dan that procures materials on account at the lumber yard, harus menggunakan accrual method untuk mendapatkan gambaran jelas tentang kondisi finansialnya.

Setiap bisnis mungkin saja mendapatkan gambaran yang akurat baik menggunakan metode cash-basis ataupun accrual dalam periode yang lama, kecuali untuk transaksi yang sudah dimulai tetapi belum ditutup.

Pertimbangan-Pertimbangan Lain

Statemen finansial standar accrual-basis (profit statement dan balance sheet) tidak mengindikasikan aliran uang masuk ataupun keluar sebuah perusahaan. Statement of Cash Flow dibuat untuk mengindikasikan informasi untuk accrual-basis accounting.

Accrual-basis accounting lebih mahal untuk dimaintain. karena metode ini mengharuskan pemegang buku untuk mencatat transaksi yang lebih banyak. Tetapi bagaimanapun juga, dengan adanya software accounting telah membuat metode reportingnya lebih mudah.

Perusahaan-perusahaan yang telah menggunakan kredit cukup banyak sebaiknya menggunakan (di Amerika mungkin diharuskan untuk menggunakan oleh Internal Revenue Services) metode accrual-basis untuk metode accounting nya.

U.S Securities dan Exchange Commision mengharuskan semua perusahaan dagang umut (PT) mengikuti GAAP, oleh karena itu semua PT mempublikasikan statemen finansial mereka dengan menggunakan metode accrual.

Ada tiga golongan stakeholder eksternal yang harus dipertimbangkan ketika ingin mengambil keputusan metode report mana yang ingin digunakan :

*

creditor
*

stockholder
*

IRS

Untuk creditors dan stockholder perusahaan-perusahaan besar, cash-basis accounting secara finansial tidak mencukupi. Ia tidak bisa memproyeksikan cash flow masa depan perusahaan.

Untuk tujuan pajak, cash-basis accounting lebih disukai karena metode ini menangguhkan beban pajak sampai uang diterima. metode ini sering digunakan oleh binis kecil dan organisasi-organisasi yang tidak diwajibkan untuk menggunakan accrual-method, baik karena alasan pajak maupun kesederhanaannya.

Perbandingan antara Metode Akuntansi Cash dan Accrual
Read more >>

Rabu, 08 Juni 2011

PEREKONOMIAN EMPAT SEKTOR

PEREKONOMIAN EMPAT SEKTOR
Perekonomian empat sector dikenal juga sebagai perekonomian terbuka. Analisis perekonomian terbuka merupakan suatpu analisis mengenai penentuan tingkat kegiatan ekonomi (pendapatan nasional) suatu Negara dengan mempertimbangkan pengaruh dari kegiatan ekspor dan impor Negara tersebut. Dengan demikian dalam analisis ini muncul dua aliran baru dalam sirkulasi aliran pendapatan yakni aliran pendapatan yang diterima dari mengekspor dan aliran pengeluaran untuk membeli barang yang diimpor dari Negara lain. Kedua aliran tersebut akan dapat mempengaruhimkeseimbangan perekonomian.
Sirkulasi aliran pendapatan dan pengeluaran untuk perekonomian empat sector :
Diagram Aliran Perekonomian Terbuka











Berdasarkan gambar diagram tersebut terlihat adanya empat aliran pengeluaran dari beberapa sector ke sector perusahaan. Keempat aliran pengeluaran tersebut adalah :
Pengeluaran konsumsi rumah tangga atas barang dan atau jasa yang diproduksi di dalam negeri (C).
Pengeluaran investasi perusahaan yakni pembelanjaan atas barang-barang modal yang dihasilkan di dalam negeri (I)
Penegeluaran pemerintah
Ekspor, yakni pengeluaran yang dilakukan oleh Negara lain atas pembelian dan atau jasa yang dihasilkan perusahaan dalam negeri (X).
Keempat aliran tersebut dapat dikatakan sebagai komponen permintaan agregat (aggregate demand/ AD) atas pendapatan nasional pada perekonomian empat sector.

PENDAPATAN NASIONAL KESEMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA
Perekonomian terbuka ditandai denganketerlibatan sector luar negeri Selanjutnya sector luar negeri tersebut akan menambah satu komponen pendapatan nasional yakni ekspor netto. Untuk dapat memahami kedua variable tersebut perlu dilakukan pembedaan terhadap pengeluaran domestic total ( total domestic expenditure/ domestic demand ) dengan produk nasional total (total national product). Pengekuaran domestic total yang dilakukan oleh pelaku ekonomi dalam negeri meliputi konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah untuk pembelian seluruh barang dan jasa tertentu yang ditawarkan. Perlu diketahui pula bahwa ebagian dari barang dan jasa yang yang ditawarkan kemunginan dihasilkan dari luar negeri sehingga dikenal pula sebagai produk impor (M). Di sisi lain produk nasional total adalah keseluruhan produk yang dihasilkan oleh suatu Negara yang kemudian akan ditawarkan/dijual ke penduduk dalam negeri atau penduduk luar negeri (dikenal sebagai produk ekspor atau disimbolkan dengan X). Perbedaan antara pengeluaran domestic dengan produk nasionla tersebut menunjukkan besarnya ekspor netto.
Perhitungan besarnya permintaan total terhadap produk yang dihasilkan dari dalam negeri tidak hanya meliputi besarnya jumlah permintaan domestic tetapi juga perlu diperhitungkan besarnya permintaan dari luar negeri. Dengan demikian permintaan agregat suatu Negara adalah terdiri dari permintaan domstik (C+I+G) ditambah dengan pengeluaran atas permintaan produkmoleh luar negeri (X) dikurangi dengan pembeian produk dari luar negeri (M).
Secara matematis dirumuskan pada persamaan di bawah ini untuk memperoleh kondisi keseimbangan perekonomian empat sector :
Y = C + I +G +X –M (pendekatan AD – AS)
C + S + T = C + I + G +X – M
S + T + M = I + G + X (pendekatan kebocoran-injeksi)
Ekspor adalah salah satu komponen pengeluaran agregat sehingga dapat mempengaruhi tingkat pendapatan nasional yang akan dicapai. Apabila ekspor bertambah, pengeluaran agregat kan bertambah tinggi dan selanjutnya akan menaikkan pendapatan nasional. Tetapi sebaliknya, pendapatan nasional tidak dapat mempengaruhi ekspor. Ekspor belum tentu bertambah apabila pendapatan nasional bertambah. Dengan demikian fungsi ekspor menyerupai fungsi investasi dan pengeluaran pemerintah yang bersifat otonom. Secara grafik, fungsi ekspor dapat digambarkan sebagi kurva yang sejajr sumbu mendatar.
Di sisi lain, besarnya impor dapat dipengaruhi oleh pendapatan nasional Negara bersangkutan atau pada kondisi tertentu tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Secar grafik, fungsi impor yang bersifat otonom memilki kurva yang sejajar dengan sumbu pendapatan nasional, sedangkan fungsi impor yang bersifat proporsional terhadap pendapatan nasional memiliki kurva dengan slope positif.






Kurva ekspor otonom






Kurva impor otonom





Kurva impor proporsional



ANGKA PENGGANDA (MULTIPLIER) DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengeluaran untuk impor dalam perekonomian terbuka tergantung dari besar kecilnya pendapatan. Pada kondisi tertentu, tidak menutup kemungkinan pula bahwa nilai impor tersebut dianggap tetap (bersifat otonom). Secara matematis, bila nilai impor dianggap tetap maka :
M = Mo ; Mo adalah impor otonom
Apabila impor dipengaruhi oleh pendapatan nasional secara proporsional , bentuk matematis persamaan impor adalah :
M = My
atau secara keseluruhan dapat ditulis :
M = Mo + My
Mo adalah impor otonom dan m adalah marginal propensity to import



ANGKA PENGGANDA PADA PEREKONOMIAN TERBUKA DENGAN IMPOR OTONOM TERHADAP PENDAPATAN NASIONAL
Besarnya angka pengganda pengeluaran pada perekonomian terbuka dengan impor sebagai variable tetap dan pajak bersifat otonom (tetap/lump-sump) adalah sama dengan angka pengganda pengeluaran untuk perekonomian untuk tiga sector dengan pajak bersifat otonom. Nilai angka pengganda tersebut akan berbeda dalam hal impor bersifat otonom dan pajak bersifat proporsional. Angka pengganda pengeluaran pada perekonomian trebuka dngan impor dan pajak masing-masing bersifat otonom, dapat diperoleh sebagai berikut :
Y = C + I + G + X - M
Y = Co + b (Y – Txo + Tr) + Io + Go + Xo - Mo
Y = Co + By – bTxo + bTr + Io + Go + Xo – Mo
(I-b)Y = Co – bTxo + bTr + Io + Go + Xo – Mo
Y=(Co-bTxo+bTr+Io+Go+Xo-Mo)/(I-b)
Apabila terjadi perubahan pada pengeluaran otonom seperti investasi otonom (Io) dimana investasi berubah sebesar ∆I maka pendapatan nasional akna berubah menjadi Y + ∆Y. Secara matematis perumusan angka dapat dijelaskan sebagai berikut :
Y+ ∆Y=(Co-bTxo+bTr+Io+Go+Xo-Mo)/(I-b)
Persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi :
∆Y = ∆I / (I - b)
∆Y/∆I = I/ (I – b)
Dengan demikian angka pengganda pengeluaran investasi (ke) adalah :
k=I/(I-b)=∆Y/∆I
Dengan cara yang sama, apabila terjadi perubahan pajak atau pembayaran transfer atau ekspor maupun impor, angka pengganda yang terjadi adalah
k=(-b)/(I-b)
k=b/(I-b)
k=I/(I-b)
k=(-I)/(I-b)

Berbeda dengan pajak otonom, pajak proporsional adalah pajak yang besar kecilnya dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Besarnya angka pengganda untuk perekonomian terbuka dengan pajak bersifat proporsional, dapat diperoleh dengan cara berikut :
Tx = Txo + Ty
Y = C + I + G + X – M
Y = Co + b ( Y – Txo – tY + Tr) + Io + Go + Xo – Mo
Y = Co + bY – bTxo – btY + bTr + Io + Go + Xo – Mo
Y – bY + btY = Co + bTxo + bTr + Io + Go + Xo – Mo
Y (1 - b + bt) = Co + bTxo + bTr + Io + Go + Xo – Mo
Apabila terjadi perubahan pada pengeluaran otonom seperti investasi otonom (Io) dengan catatan investasi berubah sebesar ∆I maka pendapatan nasional akan berubah menjadi Y+∆Y.
Secara matematis perumusan angka pengganda dapat dijelaskan sebagai berikut :
Y+∆Y=(Co-bTxo+bTr+Io+Go+Xo-Mo+∆I)/(I-b+bt)
Persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi :
∆Y = ∆I / (I – b + bt)
∆Y/∆I = I/ (I – b + bt)
Dengan demikian angka pengganda pengeluaran investasi (ke) adalah :
k=I/(I-b+bt)=∆Y/∆I
Dengan cara yang sama, apabila terjadi perubahan pajak atau pembayaran transfer atau ekspor maupun impor, angka pengganda yang terjadi adalah :
k=(-b)/(I-b+bt)
k=b/(I-b+bt)
k=I/(I-b+bt)
k=(-I)/(I-b+bt)


ANGKA PENGGANDA PADA PEREKONOMIAN TERBUKA DENGAN IMPOR PROPORSIONAL TERHADAP PENDAPATAN TERBUKA
Besarnya angka pengganda pengeluaran pada perekonomian terbuka dengan impor yang tergantung pada besar kecilnya pendapatan dan pajak bersifat otonom (tetap/lump-sump) akan berbeda dengan angka pengganda pengeluaran untuk perekonomian untuk tiga sector dengan impor dan pajak bersifat proporsional. Angka pengganda pengeluaran pada perekonomian terbuka dengan pajak bersifat otonom (lump-sum) dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut :
(karena Tx = Txo dan M = Mo + mY)
Y = C + I + G + X - M
Y = Co + b (Y – Txo + Tr) + Io + Go + Xo – (Mo + mY)
Y = Co + bY – bTxo + bTr + Io + Go + Xo – Mo - mY
Y – bY + mY = Co - bTxo + bTr + Io + Go + Xo - Mo
(I- b + m)Y = Co – bTxo + bTr + Io + Go + Xo – Mo
Y=(Co-bTxo+bTr+Io+Go+Xo-Mo)/(I-b+m)
Apabila terjadi perubahan pada pengeluaran otonom seperti investasi otonom (Io) dimana investasi berubah sebesar ∆I, maka pendapatan nasional akan berubah menjadi Y+∆Y.
Secara matematis perumusan angka pengganda dapat dijelaskan sebagai berikut :
Y+∆Y=(Co-bTxo+bTr+Io+Go+Xo-Mo+∆I)/(I-b+m)

Persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi :
∆Y = ∆I / (I – b + m)
∆Y/∆I = I/ (I – b + m)
Dengan demikian angka pengganda pengeluaran investasi (ke) adalah :
k=I/(I-b+m)=∆Y/∆I
Dengan cara yang sama, apabila terjadi perubahan pajak atau pembayaran transfer atau ekspor maupun impor, angka pengganda masing-masing adalah :
k=(-b)/(I-b+m)
k=b/(I-b+m)
k=I/(I-b+m)
k=(-I)/(I-b+m)

Angka pengganda pengeluaran untuk perekonomian terbuka dimana impor adalah proporsional dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan di bawah ini :
(karena Tx = Txo + tY dan M = Mo + mY)
Y = C + I + G + X - M
Y = Co + b (Y – Txo – tY + Tr) + Io + Go + Xo – (Mo + mY)
Y = Co + bY – bTxo – btY + bTr + Io + Go + Xo – Mo - mY
Y – bY – btY + mY = Co - bTxo + bTr + Io + Go + Xo - Mo
(I- b + bt + m)Y = Co – bTxo + bTr + Io + Go + Xo – Mo

Y=(Co-bTxo+bTr+Io+Go+Xo-Mo)/(I-b+bt+m)

Dengan cara yang sama, angka pengganda pengeluaran, angka pengganda pajak, pembayaran transfer, ekspor dan impor adalah :
k=(-b)/(I-b+bt+m)
k=b/(I-b+bt+m)
k=I/(I-b+bt+m)
k=(-I)/(I-b+bt+m)

ANGKA PENGGANDA BALANCED BUDGET
Pada kasus ini, dimisalkan pemerintah secara bersamaan menambah pengeluaran pemerintah dan penerimaan pajak yang sama besarnya atau ∆G = ∆Tx. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya kenaikan penegeluaran pemerintah (G) akan dibiayai dengan adanya kenaikan penerimaan pajak (Tx) dalam jumlah yang sama. Kebijakan tersebut akan menyebabkan anggaran belanja pemerintah akan tetap seimbang.
Analisis perhitungan angka pengganda balanced budget untuk perekonomian terbuka dapat diklasifikasi berdasarkan asumsi paakah impor bersifat otonom atau proporsional. Apabila impor bersifat otonom maka besarnya angka pengganda balanced budget adalah :
Untuk pajak otonom
kb = ke + ktx
kb =1/(1-b )-b/(1-b)
kb = 1
(dengan demikian, bila terjadi kenaikan ∆G = ∆Tx. Maka akan menambah pendapatan nasional sebesar ∆G.

Untuk pajak proporsional
kb =1/(1-b+bt )-b/(1-b+bt)
= (1-b)/(1-b+bt )
(Perhitungan tersebut menyimpulkan bahwa pendapatan nasional akan bertambah sebesar angka pengganda kb kali ∆G. Oleh karena nilai (1-b) lebih kecil daripada nilai (1-b+bt) maka nilai angka pengganda tersebut adalah kurang dari satu).

Apabila impor diasumsikan proporsional terhadap pendapatan nasional mak besarnya angka balanced budget adalah :
Untuk pajak otonom
kb = ke + ktx
kb =1/(1-b+m )-b/(1-b+m)
kb = (1-b)/(1-b+m )

Untuk pajak proporsional
kb =1/(1-b+bt+m)-b/(1-b+bt+m)
= (1-b)/(1-b+bt+m )




Pelaku kegiatan ekonomi 4 sektor
Rumah tangga produksi/ perusahaan
Perusahaan adalah kelompok anggota masyarakat yang tugasnya memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Peranan rumah tangga produksi:
Sebagai produsen yang menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan oleh rumah tangga konsumsi (masyarakat umum dan dijual keluar negeri).
Sebagai pengguna factor produksi yang berupa bahan baku/SDA, modal, tenaga kerja dan keahlian dan atas itu semua rumah tangga produksi harus membayar sewa, upah, bunga modal atau pembagian laba.
Sebagai agen pembangunan yaitu berperan membantu pemerintah dalam kegiatan-kegiatan pembangunan seperti membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur, mensejahterakan karyawan, meningkatkan kualitas.
Rumah tangga konsumsi/ konsumen
Konsumen adalah rumah tangga yang melakukan kegiatan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dan rumah tangga konsumsi membutuhkan barang dan jasa yang dihasilkan dari rumah tangga produksi. Sebagai penerimaannya, rumah tangga konsumsi mendapat balas jasa dari rumah tangga produksi berupa sewa, upah/ gaji, bunga dan laba.
Peranan rumah tangga konsumsi:
Sebagai konsumen, yang berperan mengkonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan oleh rumah tangga produksi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
Sebagai pemasok atau pemilik factor produksi yang dibutuhkan oleh rumah tangga produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.
Rumah tangga Negara/ pemerintah
Pemerintah adalah badan usaha milik Negara yang diberi tugas untuk mengatur kegiatan ekonomi masyarakat. Untuk membiayai usahanya guna menunjang kegiatan ekonomi masyarakat pemerintah memungut berbagai jenis pajak, menghimpun pungutan wajib dan memperoleh keuntungan financial dari perusahaan-perusahaan milik Negara.
Peranan pemerintah:
Sebagai pengatur, yaitu mengatur lalu lintas perekonomian dalam negeri untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan mencegah terjadinya kekacauan dan hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian bagi rakyat banyak.
Sebagai konsumen, untuk melaksanakan tugas-tugasnya, pemerintah juga memerlukan barang dan jasa.
Sebagai produsen, dengan menjalankan berbagai perusahaan milik Negara, khususnya produksi barang dan jasa yang vital bagi kepentingan Negara dan kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat ekonomi luar negeri
Masyarakat luar negeri melakukan kerjasama bidang ekonomi berupa perdagangan, tidak hanya itu, bisa juga dalam bentuk pertukaran tenaga kerja(bagi yang memiliki kelebihan tenaga kerja dan negara bisa mendapat devisa), penanaman modal(menanamkan modal dinegara lain untuk mengelola usaha), pinjaman (merupakan upaya untuk secara cepat mengatasi masalah perekonomian dalam negeri yang sudah mendesak) dan bantuan (bila terjadi perang atau bencana alam).
Read more >>